41. Yang Sesungguhnya

174 16 64
                                        

Madhuri tengah dilanda kecemasan memikirkan Ananya dan Abhi, juga Veer-Kavya. Ananya berjanji untuk tiba di rumah ketika pagi menjelang, tapi hingga detik ini gadis itu belum pulang juga.

"Seharusnya tidak kuizinkan, sekarang bagaimana? Kemana Ananya?" gumamnya gelisah.

"Ibu," panggil Naina.

Naina berlarian menghampiri Madhuri bersama Aafia.

"Ibu, ibu tenang saja. Kak Ananya tidak akan kenapa-kenapa. Dia pasti lupa pulang setelah bertemu kak Kavya," ujar Naina.

"Ya, Grandma, Aunty Naina benar. Sekarang lebih baik kita turun dan bermain warna," sambung Aafia. Aafia kini sudah lancar bicara dan bisa menyebut semua huruf.

"Tapi..."

"Ayo, Bu.. Tidak usah pakai acara tapi, kita nikmati pesta di bawah. Nanti kakak dan kakak ipar akan pulang saat waktunya tepat. Bukankah itu yang dikatakan Pak Shiv? Sudahlah, ayo."

Madhuri akhirnya menurut berkat paksaan dari Naina dan Aafia. Semua orang-keluarga dan para tetangganya sudah berkumpul dibawah untuk merayakan holi.

---

Mohini dan Kabir bersiap mengantar Veer dan Kavya pulang. Sebenarnya, mereka ingin pulang sendiri, tapi Mohini tidak mengizinkan karena terlalu mengkhawatirkan keduanya.

"Veer, Kavya, sudah siap?"

"Kami siap,"

Dengan bantuan mobil tua milik kakek Mohini, Veer-Kavya akan pulang ke rumah mereka. Dan saat ini, keempatnya sudah berada di dalam dan siap meluncur ke rumah Veer. Kabir menyetir di depan bersama Mohini di sampingnya, lalu Veer dan Kavya sebagai penumpang.

"Kak Kabir, kak Mohini, terima kasih." Ucap Veer.

Kabir dan Mohini menoleh ke belakang, "untuk?"

"Kebaikan kalian. Kami beruntung bertemu kalian berdua, yang sudah menolong kami, memberikan tempat tinggal, perlindungan, dan sekarang mengantar kami pulang. Terima kasih, kalian berdua sangat baik." Ujar Veer.

"Ayolah, Veer, kita ini sesama manusia, jadi harus saling tolong-menolong." Kata Mohini.

"Tapi tetap saja aku ingin berterima kasih. Jika tidak ada kalian, aku tidak yakin aku dan Kavya masih bisa menghirup udara segar, mungkin kami berdua sudah bersama Tuhan, "

"Hey, apa yang kau katakan? Hidup kalian masih panjang, perjalanan kalian masih jauh, dan ini semua, bagian dari hidup kalian. Kalian berdua tidak boleh menyerah, kebahagiaan menanti kalian di depan sana." Sahut Mohini.

Semuanya tertawa dengan ucapan Mohini, Mohini yang terkadang bisa sangat bijak, pun sangat konyol dan menghibur.

"Yang ada di depan sana bukan kebahagiaan, Mohini. Tapi entah mobil siapa yang mogok disana," ucap Kabir.

"Hei iya. Mobil itu mogok atau memang pemiliknya ingin bermalam disitu?" balas Mohini.

"Tidak mungkin ingin bermalam disitu, Kak. Yang terjadi adalah antara mogok dan tersesat," Veer menambahkan.

"Oke, kita turun dan menolong mereka?" tanya Kabir.

"Ya, kita akan menolongnya."

Tinggal beberapa meter berhenti di dekat mobil itu, pintu mobilnya terbuka dan keluarlah seorang gadis yang langsung berdiri di tengah jalan sembari membuka lebar-lebar tangannya.

Veer dan Kavya tersentak kaget melihat gadis itu. Ya, dia Ananya.

Kabir menghentikan mobilnya, sementara Veer dan Kavya langsung keluar.

MUSHKIL PYAAR [Completed] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang