-----
Sungguh aku tidak percaya, bagaimana aku bisa menikah dengan pria lain jika aku sendiri sudah punya seorang kekasih? Sepenuh hati dan jiwaku hanya untuknya, lalu kenapa hal konyol bernama 'perjodohan' harus datang menghampiriku lalu mengganggu...
Dua orang gadis cantik tengah berjalan di lorong sebuah kampus, masing-masing membawa beberapa buah buku ditangan dan tas di pundak mereka masing-masing.
"Shrishti Shrishti Shrishti.. Aku tidak mau, ini tidak akan berhasil."
"Apanya yang tidak akan berhasil? Pasti akan berhasil. Ayolah Ananya, kau harus optimis rencana ini akan berhasil." Shrishti berbalik, menghampiri Ananya yang berhenti dan meyakinkan gadis itu dengan rencana yang sudah Shrishti buat untuknya.
"Kau yakin ini akan berhasil? Ah tidak tidak, aku tidak mau. Kalau kau mau kau saja." Ananya tidak yakin denga yang direncanakan.
"Aku saja yang lakukan? Itu artinya kau memberikan Abhi padaku, begitu?" tantang Shrishti.
"Memberikan Abhi padamu? Enak saja. Kau kira Abhi mainan yang bisa dengan mudah ku berikan padamu." Ananya tidak terima.
"Kau tidak terima aku mengambil Abhi darimu, kan?"
Ananya mengangguk,
"Itu sebabnya, katakanlah perasaanmu padanya. Atau Abhi akan diambil orang lain, dan kau, kau hanya akan menyesal seumur hidupmu!" ujar Shrishti.
"Kau benar, " gumam Ananya.
"Aku tahu. Sudahlah, turuti saja rencanaku. Kita akan berhasil. Yakin dan berdoa saja. Lagipula Abhi si pria datar itu, siapa yang akan menyukainya selain kau, melihat tatapannya saja sudah membuatku bergidik ngeri." kata Shrishti dengan berbisik diakhir kalimat.
"Hey, Abhi sangat tampan. Dan ya, dia tidak datar dan dingin saat bersamaku." bela Ananya.
"Haan, itu yang mau ku katakan! Kalau Abhi tidak bersikap begitu padamu, itu artinya Abhi juga menyukaimu. Ah kau ini, masa tidak mengerti juga." kesal Shrishti.
Ananya tampak berfikir, "Kau benar, " gumamnya.
"Ya aku tahu. Sudah cepat kita pulang, jangan berfikir terus atau kita tidak akan sampai di rumah dan kita tidak juga menjalankan rencana itu." Shrishti menarik paksa tangan Ananya yang masih terlihat berfikir.
***
Sore hari, sebuah taman sudah dihias dengan begitu indah oleh Shrishti. Rumput hijaunya bagaikan permadani tebal yang dihamparkan luas. Serta deretan lampu berjajar rapi disepanjang tepi taman, lalu sebuah meja lengkap dengan dua kursi dan berbagai makanan juga bunga sebagai hiasan tersedia disitu.
Selain taman, Shrishti juga sudah mendandani sahabatnya Ananya, sangat cantik lain dari biasanya. Tapi walau semua sudah siap di depan mata, Ananya tidak bisa tenang. Ia terus berjalan kesana kemari dengan raut gelisah, padahal yang ditunggu-tunggu sedang dalam perjalanan dan akan tiba sebentar lagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.