Ayan spontan memegang tangan Naina yang ada disampinynya, keduanya saling pandang dulu, baru kemudian menoleh bersamaan ke belakang.
Entah darimana asalnya, pria dan wanita yang mereka ikuti saat ini berdiri dihadapan mereka dengan senyuman yang entah apa artinya.
"Kenapa? Mau apa?" tanya si wanita.
Ayan mendadak gugup, terasa sekali tangannya yang berkeringat dingin dan gemetar. Raut mukanya seperti berkata, "lakukan sesuatu, Naina,"
Naina menggeleng paham dan memberi isyarat Ayan untuk berbalik.
"Ka... kami tersesat, dan......ingin minta bantuan, ya, minta bantuan," ucap Naina sebisa mungkin menetralkan kegugupannya, sebenarnya dia juga takut, tapi mau bagaimana lagi, Ayan lebih terlihat takut. Malah saat ini wajahnya pucat.
Wanita itu melipat tangannya di depan dada, "oho, minta bantuan. Lalu kenapa harus mengintip? Kalian bisa memanggilku, kan?"
Ayan semakin pucat melihat senyum wanita itu. Cantik sebenarnya, tapi entah mengapa terlihat mengerikan.
"Kami... kami.." Naina kebingungan menjawab, lalu ia menoleh ke Ayan yang malah tambah pucat.
"Adiknya Veer Malhotra, dan kau... kekasihnya?" ucap si pria.
Ayan dan Naina serempak menggeleng.
Wanita itu memberi isyarat pada teman prianya, entah apa, Naina tidak mengerti.
Pria itu menyeringai sambil melangkahkan kakinya maju. Ayan dan Naina mundur perlahan.
Naina menoleh, menggelengkan sedikit kepalanya, dan Ayan membalasnya dengan gelengan yang sama.
"Lari, Naina!" teriak Ayan sambil menarik tangan Naina.
"Dia takut," wanita itu terkekeh diikuti si pria.
"Tapi, kak, kau tidak mengejarnya? Mereka pasti sudah memberitahukan yang mereka lihat pada Veer Malhotra."
"Rupanya kau belum terlalu mengenalku, Seenu," wanita itu tersenyum misterius.
---
Ayan dan Naina tiba dihalaman, mereka bersembunyi disebalik tiang besar. Keduanya fokus pada gerbang yang semula kosong, kini sudah dijaga berpuluh penjaga.
"Bagaimana kita bisa keluar, Naina?" guman Ayan— terdengar sedih.
"Mana kutahu. Lakukan sesuatu, kau laki-laki, masa bergantung terus padaku!" kesal Naina.
"Aku tidak terbiasa menjalani adegan action sungguhan, biasanya cuma lihat film," balasnya dengan suara berbisik diakhir kalimat.
"Lupakan filmmu. Mana ponselku? Apa kak Ananya membalas?"
---
Tas Ananya yang tergeletak dikursi ruang tunggu terus bergetar, sedang manusianya berada dikamar mandi sejak 30 menit yang lalu. Entah sedang apa. Sheila yang mengetahui itu hanya diam saja, karena Ananya biasanya akan kesal jika ada yang meminjam barang miliknya tanpa izin dulu. Lagipula Sheila juga yakin itu pasti ulah Shrishti.
Veer bersama Dev menghampiri Sheila, mereka seperti habis menemukan sesuatu, terlihat dari wajah mereka yang sedikit lega.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Sheila tidak sabar.
"Sapu tangan, pasti ini milik penculik itu," jawab Veer.
"Hanya itu? Bisa saja itu milik suster yang kemarin berjaga," kata Sheila.
"Coba lihat," lanjutnya.
Veer mengeluarkan sapu tangan itu dari kantong plastik yang dibawanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSHKIL PYAAR [Completed]
Romansa----- Sungguh aku tidak percaya, bagaimana aku bisa menikah dengan pria lain jika aku sendiri sudah punya seorang kekasih? Sepenuh hati dan jiwaku hanya untuknya, lalu kenapa hal konyol bernama 'perjodohan' harus datang menghampiriku lalu mengganggu...
![MUSHKIL PYAAR [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/204475576-64-k366282.jpg)