Cuaca yang tiba-tiba berubah membuat dirinya bingung setengah mati. Pagi-pagi tadi panas sudah sangat menyengat kulitnya, tetapi tiba-tiba mendung menyergap membuat Radit kalang kabut karena tidak membawa payung kecil andalannya.
Kini lobi sekolah dan koridor masih disesaki siswa karena tidak ada yang mau menerjang hujan. Walaupun dua tiga siswa mulai berlarian ke gerbang, parkir, dan ada juga yang ke halte. Adiib sudah pergi duluan karena ada keperluan mendesak dengan Qiran.
Tiba-tiba dirinya ditarik paksa dari belakang dan tak tau siapa yang menariknya.
"Woi! Siapa sih anjing" Radit memberontak kesal karena lehernya merasa tercekik.
Seketika dirinya terkejut ketika tubuhnya dipeluk kencang, kakinya termundur ke belakang agar dapat berdiri seimbang.
Akhal, lelaki itu yang memeluk Radit.
Radit melihat raut wajah cowok yang dikenalinya ini dengan raut dingin. Raut yang Akhal tau hanya diberikan padanya. Raut tak suka ketika perjanji hari pertama sekolah diluncurkan oleh Akhal. Raut kecewa yang Akhal tau hanya untuk dirinya yang tak menggubris segala apapun yang terjadi.
"Lepasin gue gak?" Radit dapat melihat memar-memar keungunan di tulang pipi Akhal.
"Risih bang. Awas lah," Radit mendorong Akhal jauh-jauh, kemudian melanjutkan ucapannya "inget perjanjian yang lo bikin sendiri ya bangsat"
Radit ditarik Akhal untuk duduk di bangku depan kelas. Akhal membuka tas ranselnya mengeluarkan kotak yang selalu ia bawa kemana-mana.
Kotak P3K.
"Bisa gak sih pas lagi gini, otak lo gak berfungsi aja bang? Tau banget kelemahan gue"
Tanpa perlu diminta Akhal lagi, Radit membuka kotak itu dan membersihkan luka atau lebam yang ada di wajah Akhal.
Akhal memperhatikan wajah sendu adik sepupunya ini. Terkait perjanjian itu hanya perjanjian agar Radit pura-pura tidak mengenal Akhal di sekolah.
"Gak usah liatin gue begitu,"
Akhal mendengus keras-keras.
"Padahal nanti di rumah lo bisa minta obatin sama gue, kenapa di sekolah sih?"
"Sejak kapan lo mau nerima gue lagi? Terakhir kali gue masuk ke kamar lo aja pas gue ngucapin perjanjian itu, lo langsung usir gue anjing, sok-sok-an banget mau nerima gue yang ada gue lo semprot anti serangga, sialan"
Kali ini Radit yang melengos, malas menyahuti Akhal, ia memilih diam dan terus membersihkan luka Akhal.
Ayah Akhal adalah adalah abang dari Ibu Radit. Jadi, Radit dan Akhal ini adalah sepupu dekat.
Sesudah Ayah Radit meninggal, Akhal adalah sokongannya yang paling bisa ia terima. Hidup Radit bergantung pada keluarga Akhal. Uang sekolah, makan, rumah, listrik, sampai hal terkecil untuk dirinya ia masih tidak bisa sendiri.
Akhal adalah manusia paling bisa dihandalkan menurut Radit. Tapi, setelah perjanjian yang dibuat oleh Akhal tepat tengah malam sebelum hari pertama masuk sekolah, Radit tidak peduli lagi tentang apa-apa.
Hidupnya berjalan monoton. Mengandalkan otaknya yang ia yakini bisa membuatnya menjadi lebih baik, ternyata malah membuatnya meraung-raung kesetanan setiap malam.
Sebenarnya Akhal tidak mau membuat perjanjian seperti itu, tapi setelah diyakini kalau mungkin dampak Akhal terhadap Radit bisa membuat anak itu mungkin diasingkan, ia memilih mengalah.
"Sama anak seratus dua lagi?" tepat diakhir ucapannya, tangannya Radit yang memegang kapas menekan luka Akhal.
Akhal meringis, menatap sinis laki-laki yang lebih muda darinya satu tahun itu.
"Ya mau gimana lagi, mereka yang duluan," ucap Akhal seraya melihat sekeliling sekolah.
Hujan mulai reda, awan hitam mulai beriringan pergi digantikan oleh awan putih. Sekolah mulai sepi, karena tidak ingin terjebak di tempat yang sudah cukup menyesakkan dikarenakan hujan berkelanjutan.
Akhal menghela napas sekali lagi, membuangnya keras-keras. Dilihatnya lagi adik sepupunya ini yang masih mungil di mata Akhal.
"Sana pulang duluan, ini kuncinya, pot bunga yang biasa tadi kesenggol terus pecah jadi gue bawa kuncinya, sekalian mau bilang gue pulang lama ada yang mau dikerjain,"
Radit mengangguk paham. Jadi kemungkinan sampai jam 6 Radit hanya seorang diri di rumah.
"Satu lagi Dit, tolong nanti kalau-kalau gue masuk ke kamar lo lagi jangan disemprot pengusir serangga plis, Dit. Gue bukan serangga, okay?"
"Emang lo bukan serangga sih bang. Tapi anjing. Hehe"
***
Seharusnya tadi Qiran tidak menelepon abangnya untuk menanyakan soalan tugasnya.
Harusnya tadi dia search aja di google, karena secara tiba-tiba abangnya itu sudah memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah yang sudah Reza tinggalkan 3 tahun lamanya.
Saat ini sosok abangnya sudah masuk ke dalam kamarnya dan duduk di lantai yang diberi karpet beludru berwarna putih lembut.
"Kok dateng? Kok masuk?" tanya Qiran bingung karena Reza bisa-bisanya masih memasang wajah tenang.
"Ini masih rumahku gak sih?" Reza tiba-tiba saja bersahut demikian dihadapan Qiran yang tengah menatapnya bingung.
"Nanti kalau Ibu tau gimana?"
"Ya bilang aja abang dateng, susah banget"
"Jangan berantem ya, awas aja"
Reza hanya berdehem menanggapi ucapan Qiran yang tidak bisa dia janjikan sepenuhnya.
"Mau makan dulu enggak? Aku tadi ada bikin sambel teri, iseng-iseng sih soalnya dimarahin duluan karena ada yang meletus gitu gara-gara aku masukin minyaknya padahal masih ada airnya,"
Qiran kini menatap Reza sepenuhnya berharap Reza mau menyantapnya, yang kemungkinan berasa asin.
"Boleh deh, lumayan makan gratis gak disuruh cuci piring," jawab Reza yang sudah menjilati bibirnya "sama es teh manis ya Ran" lanjutnya
Qiran cuma melengos. Tidak ambil pusing, dirinya menuruti permintaan Reza.
Reza berdiri dari tempatnya duduk tadi, setelah itu dirinya melihat-lihat kamar Qiran yang dirasa sudah banyak sekali perubahan.
Yang sama hanya tempat meja belajar yang ia letakkan dulu bersama bapak saat bapak dapat bonus pertama kali dan membelikan meja belajar untuk Qiran karena kasihan melihat anak perempuannya mengerjakan tugas dengan telungkup.
Setelah melihat-lihat, makanan Reza datang, sembari Reza makan maka sekalian Qiran mengerjakan tugas yang diselingi dengan bercandaan garing Reza si anak sekaku kanebo.
Setelahnya Qiran mengembalikan piring kotor Reza ke dapur dan Reza kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan ini.
Pandangan Reza tertuju pada keranjang sampah yang berada di samping meja belajar.
Berisi sampah-sampah seperti biasa tetapi ada yang menarik perhatian, Qiran tidak pernah sekalipun menggunakan tisu, kini Reza melihat ada sebungkus besar tisu di atas meja belajar itu.
Saat Reza menunduk melihat ke arah keranjang sampah, dirinya melihat tisu yang berwarna merah yang seperti tinta. Reza yang penasaran mengambil tisu itu dan dirinya membatu di tempat.
Itu bukan tinta bocor. Itu bukan tinta merah.
Itu darah.
Entah darah apa, yang pasti dirinya harus bertanya pada Qiran.
Terima kasih sudah berkenan baca!
KAMU SEDANG MEMBACA
QIRAN
Novela JuvenilSeputar hidup Qiran yang hanya sekolah dan rumah. Semakin lama, rumah tidak pernah dia rasakan lagi menjadi rumah yang sesungguhnya. Yang dia rasakan hanya bangunan yang sepi, dan dia harus bertahan di dalam. Qiran tidak merasakan pulang lagi. Sehin...
