End! But kalo baca tetep Vote sama Komen ya!
Book one from Big baby! Ada sequel, jadi kalo abis baca ini baca juga book two-nya, oke?!
Tidak banyak konflik jadi hati dijamin aman!
.
Jeno dan juga Jaemin adalah teman satu kamar atau bahasa gaulnya ad...
Malam ini Jaemin sudah sangat lelah. Bayangkan satu hari ini dia sudah berkeliling ke banyak tempat indah yang ada di Islandia.
Dia dan juga Jeno baru saja sampai di apartemen.
"Mandilah dulu, aku akan memesan makanan." Titah sang suami.
"Aku akan memasak tidak perlu memesan, Jen."
"Aku tidak mau kau lelah. Cepat mandilah,"
"Tap—"
"Mandi atau kau akan kehilangan keperjakaan mu sekarang juga."
Jaemin menelan ludah ngeri dengan ancaman Jeno. Walaupun sudah resmi tetap saja ancaman itu mengerikan! Jaemin masih perjaka, tentu akan terasa sakit 'kan?
Akhirnya Jaemin menyerah, dia melangkah ke kamar dengan hentakkan kaki yang keras.
Jeno hanya terkekeh melihat sang istri merajuk. Percayalah mereka sangat kelelahan sekarang, mana mungkin Jeno membiarkan Jaemin memasak kan?
Ah apa mungkin kegiatan malam yang telah direncakan Jeno akan di tunda dulu untuk malam ini? Fyuh, Jeno menyibakkan rambutnya yang menjuntai ke wajah dengan gerakan lambat. Slow motion dulu pemirsa.
Setelah beberapa saat memesan makanan dari luar akhirnya makanan itu datang. Jeno menyajikannya agar setelah Jaemin selesai dia akan segera memakan makan malamnya.
Jeno telah selesai menyajikan dan datanglah Jaemin dengan rambutnya yang setengah basah.
"Jeno, kamu menyajikan makanan?" Tanyanya keheranan. Heol, seorang Jeno menyajikan makanan? Menaruh piring kotor ke wastafel saja sangat enggan!
"Memang kenapa?"
"Sungguh mengejutkan! Oh apakah kamu benar-benar seorang Jeno?!" Dramatis Jaemin.
"Ya seorang Jeno yang sekarang menjabat menjadi suami seorang Jaemin. Kau puas?"
Jaemin berdecak bangga.
"Sangat puas." Ucapnya lalu tergelak kencang.
"Lalu?"
"Apa?"
"Apa aku akan mendapatkan jatah ku malam ini?"
Jaemin tersedak air liur nya sendiri mendengar penuturan sang suami. Wajahnya seketika merona.
Jaemin berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya. Ya gugup tentu saja!
"Makan dulu, Jen!" Sangkal nya.
Jeno tersenyum miring. Dia pasti akan menagih jatahnya malam ini juga. Itu harus! Itu perintah tak bisa dibantah lagi. Wah, birahi Jeno akan terpenuhi tak lama lagi. Fyuh.
"Baiklah. Setelah ini tanpa menolak kau harus memberi ku jatah. Kau tau? Aku sudah menahannya dari lama, Jaemin." Ucapnya dengan smirk yang belum hilang dari wajah tampannya.
Jaemin menelan Ludah dengan susah payah. Jeno sangat mengerikan. Oh membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan sepertinya. Apa dia akan sungguh-sungguh melakukan itu bersama sang suami? Jaemin sebagai istri tentu saja harus memberikan sang suami kepuasan kan? Tapi—ah sudahlah.
Akhirnya mereka berdua memakan makan malamnya dengan khidmat. Tidak ada pembicaraan disana. Jeno makan dengan cepat, dia tidak sabar untuk itu.
"Makanlah dengan cepat, Jaemin." Ucapnya tak sabar. Piring nya sudah kosong sedangkan Jaemin masih tersisa separuhnya.
Pikirkan seberapa cepat dia makan.
Jeno yang tak sabar itu beranjak dari duduknya menuju bangku disebelah Jaemin.
"Eh, mau apa?" Tanya Jaemin ketika melihat Jeno mengambil piring yang sedang ia makan. Ah maksudnya piring yang berisi makanan yang tengah ia makan.
"Menyuapi mu. Makan mu sangat lambat, kau tau jika aku sedang buru-buru?" Ucap nya dengan tangan yang menyuapi Jaemin dengan sendok penuh. Oh sepertinya nafsu birahinya memang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Jaemin hanya pasrah ketika Jeno menyuapinya lagi dan lagi hingga piring itu tak tersisa makanan lagi.
Jeno menyuruh nya untuk minum, ia menurutinya. Setelah minum air segelas penuh dia memekik ketika tubuhnya melayang! Jeno menggendongnya tanpa aba-aba.
Haruskah ia memukul kepala sang suami yang brutal itu?
"Akh! Jeno! Apa tidak bisa pelan-pelan? Punggungku sakit!" Marahnya ketika tanpa perasaan Jeno membantingnya diranjang.
"Aku tidak bisa menahannya lagi. Buka bajumu Jaemin, mengangkang lah. Lakukan dengan cepat, aku tidak tahan."
Jaemin ingin sekali memukul sang suami dengan tongkat bisbol jika ia tidak sadar jika Jeno adalah suaminya. Hey, bagaimana bisa lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu berbicara sangat frontal seperti itu. Oh astaga. Jaemin malu tentu saja! Apakah Jeno tidak bisa membantu Jaemin? Seperti membukakan bajunya dan bukan ia sendiri yang membukanya?
Jeno memang sangat menyebalkan! Tidak ada romantis-romantisnya. Haruskah Jaemin menyesal karena menikah dengan Jeno?