1 | Ruang berdarah

76 6 4
                                    

Suara langkah kaki mengisi koridor yang sudah kosong sejak beberapa jam lalu. Langkahnya pelan dan santai, seakan tidak diburu oleh waktu. Padahal hari sudah sore,  matahari pun mulai bergerak ke arah barat sehingga langit menghadirkan warna jingga. 

Gadis itu baru saja keluar dari ruangan ekskul model demi menghindar dari Liska—anggota ekskul jusnalistik—yang sejak isitahat pertama sudah mencarinya untuk meminta klarifikasi tentang foto yang beredar. Di dalam foto terlihat dirinya yang sedang menari asyik di dalam sebuah kelab.

Aretha Prameswari, ketua ekskul model dengan sejuta prestasi. Gadis kebanggan sekolah itu tidak mungkin menyatakan secara terang-terangan bahwa orang dalam tersebut adalah dirinya. Tetapi ia juga tidak bisa membantah, sebab wajahnya terlihat jelas meski di dalam penerangan yang minim.

Satu-satunya cara adalah, ia harus menemukan siapa pemilik akun @tansyla yang menyebar fotonya di grup sekolah. 

Jika foto tersebut sudah menyebar ke seluruh sekolah, ia tidak akan bisa mengelak atau menjelaskan kepada Bu Bianca—pembimbing ekskul—. Jabatannya sebagai ketua ekskul model akan segera dilengserkan.

Aretha berdecak hanya karena memikirkan hal itu. 

Selang beberapa menit berdecak, notifikasi ponsel berhasil membuat langkahnya berhenti. Ia membaca kata demi kata yang muncul di layar.

Mas Reynal:

Gue masih di tongkrongan

Tunggu ajantar gue jemput

Ia mendengus keras dan memilih mengabaikan pesan tersebut. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, notifikasi kembali berdering.

Mas Reynal:
Kalo bisa naik gojek aja
Gue males jemput lo

Kerutan di dahinya terlihat jelas. "Gila, nih, orang!" 

Dengan gerakan cepat ia langsung menekan ikon panggilan yang tertera pada roomchat. Kemudian mengarahkan ponsel itu ke telinga.

“Apa?” kata orang di seberang sana setelah panggilan terhubung.

“Jemput gue sekarang!”

“Lo nggak baca? Gue nggak bisa jemput lo! naik ojek online aja!”

Aretha menarik napas dalam-dalam, berusaha sabar menghadapi kakak laki-laki yang tidak tahu diri ini.

“Lo bawa mobil gue,” katanya pelan, tetapi penuh penegasan. “Gue tunggu sepuluh me—“

Belum selesai kalimatnya, tetapi sebuah benda menghantam kepalanya kuat hingga merenggut kesadaran dan berakhir tidak sadarkan diri di atas lantai koridor. Sebelum matanya terpejam sempurna, ia sempat melihat wajah sang pelaku yang menatapnya tanpa rasa bersalah.

Dia, cowok yang selalu merundung siapapun yang ia anggap pecundang.

Sean.

Sean

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ObstinateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang