17# Bolehkah?

751 87 5
                                        

Saat ini mereka sudah kembali ke markas. Sejak tadi suasananya masih saja dingin, bahkan semua pasukan hanya diam tidak berani membuka mulut

"Sakura" Sakura yang sedang berjalan menuju ruangannya berhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Terlihat Sasori yang sedang berjalan kearahnya

"Ada apa?" tanya Sakura dengan raut datarnya

"Aku ingin berbicara denganmu" setelah mengatakan itu Sasori berjalan mendahului Sakura, Sakura hanya mengikuti kemana kakak sepupunya itu

Ternyata Sasori mengajaknya ke arah rooftop, saat berdiri di ambang pintu Sakura disambut oleh angin malam yang menerbangkan anak rambutnya. Perlahan ia menghampiri Sasori yang sudah berdiri dipembatas pagar.

Beberapa menit hanya keheningan yang melanda, sampai Sakura memilih memecahkan keheningan tersebut

"Apa yang ingin Saso-nii bicarakan?" tanya Sakura to the point

"Hmm, aku hanya ingin menghibur adik ku yang manis ini saja" jawab Sasori tanpa menoleh

"Huft... Terserahlah" setelah itu keheningan kembali melanda

"Jangan bersedih" ucap Sasori tiba-tiba, Sakura menoleh saat mendengar Sasori berucap

"Jangan bersedih. Meogi pasti juga akan sedih, ingatlah Sakura misi kita belum selesai." lanjut Sasori

"Ne, Saso-nii. Apakah setelah misi kita selesai aku boleh mencintai seseorang tanpa kepalsuan lagi?" tanya Sakura sambil menatap langit malam yang bertabur bintang dan bulan yang bersinar terang

"Tentu, kau boleh melakukannya. Tapi  ingatlah, bukan untuk sekarang. Mengerti?" tanya Sasori menghadap kearah Sakura dengan senyum tipisnya, Sakurapun melakukan hal yang sama

"Mengerti, Sasori-nii" balas Sakura



****




Setelah pembicaraan tadi Sasori memutuskan untuk kembali terlebih dahulu, tersisa Sakura yang ada. Saat sedang memejamkan mata terdengar suara pintu terbuka. Di sana terlihat Hinata dan Ino yang berjalan menghampiri Sakura

"Sakura-chan?" panggil Hinata pelan

"Hm" gumam Sakura

"Kenapa kau disini?" tanya Hinata

"Hanya ingin menenangkan diri saja" jawab Sakura seadanya, setelahnya keheningan melanda mereka bertiga

"Hai, kau ingat. Mungkin beberapa hari lagi kita akan mengakhiri pertarungan ini" ucap Ino memecah keheningan, Sakura dan Hinata diam menunggu kelanjutan Ino

"Di saat hari itu tiba, apakah kita bisa mencintai seseorang yang begitu berharga?"

"Entahlah, kita ini sudah membunuh ratusan nyawa Ino-chan. Jangankan mencintai seseorang itu, kita masih berdiri saja apakah pantas?" ucap Hinata balik

"Kau benar Hinata-chan"

"Tapi, jika boleh aku ingin bebas mencintai seseorang itu. Jika kita diizin kan" ucap Sakura

"....."

Keheningan kembali melanda, mereka sibuk dengan fikiran masing-masing

"Bagaimana jika kita melakukan janji dibawah ribuan bintang dan sinar rembulan?" tanya Ino yang dibalas anggukan Sakura dan Hinata

"DI BAWAH RIBUAN BINTANG DAN SINAR REMBULAN INI, KAMI BERJANJI AKAN MELINDUNGI PRIA YANG KAMI CINTAI. WALAUPUN NYAWA KAMI SEBAGAI PENGGANTI." ucap mereka bersamaan, setelah mengatakan itu mereka tertawa bersama, sungguh persahabatan yang indah.




****



Keesokan harinya semua tim sudah berada ditempat masing-masing. Pasukan musuh juga sudah datang, diantara ratusan pasukan musuh tak sengaja manik Sakura menatap seorang perempuan yang sangat ia kenal.

Konan perempuan tersebut, berada di antara barisan musuh. Sakura menatap Konan tak percaya. Perempuan yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri sekarang berdiri tak jauh darinya, bukan sebagai kawan melainkan sebagai lawan

Tak berselang lama pertarungan tersebut dimulai. Baru awal saja sudah banyak pasukan yang tumbang. Bukan hanya dari pihak musuh, dari pihak kepolisian dan detektif Tokyo pun banyak yang berkurang

Entah kebetulan atau tidak, Sakura dan Konan saling melawan. Pertarungan di antara mereka cukup sengit. Bahkan Sakura tak segan untuk melukai, tak peduli Konan pernah ia anggap sebagai kakaknya

"Hay, sist. Apa kau merindukanku?" sapa Konan di sela pertarungan mereka

"Sangat" balas Sakura dengan wajah datar

"Jadi adik manis, apakah kau mau menyerah sekarang?" tanya Konan dengan menyeringai

"Tentu. Tidak. Akan. Pernah!" ucap Sakura penuh penekanan

"Cih, jangan bermimpi bisa mengalahkan ku!" setelahnya hanya suara katana dan pistol mereka yang mendominasi

Ucapkan selamat datang atas hadirnya 'MANTAN' kakak beradik yang dulu saling melindungi. Dan ucapkan selamat tinggal untuk yang akan mengakhiri hidupnya saat ini di tangan salah satu di antara mereka berdua.


*****




Itachi sedang sibuk dengan tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kerja miliknya, sampai ketukan pintu mengalihkan perhatian onxy hitam tersebut.

Tok tok tok

"Masuk"

Pintu terbuka menampakan Hidan -- tangan kanannya -- berdiri dengan sebuah berkas berwarna merah. Dengan perlahan ia mendekati bosnya yang masih setia duduk, sesaat setelah berada di hadapannya ia menyerahkan berkas tersebut.

"Apa ini?" tanya Itachi sambil membuka berkas itu.

"Surat-surat yang Sasori-sama titipkan." Itachi menutup berkas tersebut dan menatap Hidan serius, Hidan yang mengerti maksud bosnya itu langsung menjelaskan,

"Tadi saya mendapat e-mail dari Sasori-sama untuk memberikan berkas yang beberapa minggu lalu beliau titipkan kepada saya. Beliau meminta untuk menyerahkannya kepada Itachi-sama. Jika anda masih ragu bisa bertanya langsung ke Sasori-sama." Itachi dengan segera menghubungi Sasori melalui telepon. Tak lama terdengar suara Sasori di sebrang sana,

"Ada apa?"

"Apa kau meminta Hidan memberikan berkas untuk ku?" hening sesaat, Itachi mendengus saat tahu Sasori sedang mengingat sesuatu.

"Ah, iya. Kau sudah menerimanya?"

"Hn, baru saja. Memangnya itu berkas apa?"

"Memangnya kau menyuruhku untuk mencari tahu apa?" tanya Sasori balik dengan nada kesal. Sekarang Itachi yang sedang mengingat sesuatu.

"Oh, aku mengingatnya! Arigatoune Sasori."

"Yayaya. Sudahlah kau mengganggu fokusku saja. Oh, dan jangan lupakan janji mu itu Uchiha!"

"Hahaha, tenang saja aku tidak akan lupa. Selamat bertarung lagi Sasori, dan maaf mengganggu tadi."

"Hn" setelahnya sambungan terputus.

"Kau boleh kembali"

"Hai' Itachi-sama" Hidan berbalik dan pergi dari ruangan tersebut, menyisakan Itachi yang menatap pemandangan kota dari balik jendela ruangannya.

"Sekalipun kau sudah mati tak akan ku biarkan kau tenang. Tajima."







.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
-------

Tandai typo. Trimakasih.

Papayy👋

THE MISSION [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang