Ada sebuah ramalan turun-temurun dalam silsilah keluarga Ryomen.
"Sekali lagi akan terlahir cucu keturunan moyang Ryomen yang agung dengan tanda keberkahan dari seluruh leluhur. Untuknya takdir sebagai kebaikan dan kebatilan."
Itadori Yuga sadar betul akan apa yang ada di depannya. Tapi ia tak pernah menyesal karena telah menikahi istrinya.
Bayang-bayang istrinya di masa lalu. Bagaimana ia tersenyum dengan begitu tulus. Bagaimana rautnya ketika menunggu kelahiran putra-putra pertama mereka. Bagaimana ia melakukan pekerjaan rumah seharian, kemudian menyambut suaminya pulang dengan pelukan. Bagaimana ia menjadi sebegitu kuat ketika ditakdirkan sebagai seorang Ryomen bahkan dalam wujud wanita.
Di saat terakhirnya pun, ia masih begitu menampakkan dirinya sebagai seorang ibu. Tak terlihat gentar sama sekali. Rasa lelah sehabis melahirkan juga lenyap setelah melihat putra kembarnya. Ia tersenyum, membawa dua putranya ke dalam dekapan yang begitu hangat. Mengecup kepala bayi-bayinya dengan bibir pucat.
"Berbahagialah, jangan sering-sering bertengkar. Makan yang banyak. Jadilah kembar yang saling mengasihi," air mata dari mata kanannya meluncur. Kemudian dihadang ibu jari suaminya.
"Maaf. Harusnya kita merawat mereka bersama." Air mata lainnya lolos kembali.
Itadori Yuga menatap istrinya, tersenyum begitu teduh. Mengusap rambut istrinya.
"Maaf," kali ini suaranya tercekat.
Yuga menghela napasnya. "Hari ini aku berjanji untuk menjadi ayah paling bahagia di dunia," Yuga tersenyum lalu mendekat pada istrinya, "jangan meminta maaf. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk masih dapat melihat hari ini."
Sakari membalas senyum suaminya. Bukan senyum penuh semangat seperti biasanya. Kali ini terlihat sedang menahan sakit.
"Aku selalu menyukai nama Yuga," Sakari berganti menatap salah satu putranya, "nama Yuuji tidak buruk, kan?"
Yuga mengangguk. Dia mengusap pipi putranya yang lain. "Kalau begitu dia yang akan mewarisi nama ibunya. Sukuna."
Sakari tersenyum. Mendekap anak-anaknya lebih erat.
"Yuuji, tolong jaga adikmu ya, Nak. Dia mengemban takdir besar di pundaknya. Bimbing dia supaya tidak tersesat."
Sakari mencium kedua pipi Yuuji lalu menyerahkan Yuuji pada ayahnya.
Membawa Sukuna ke tengah dadanya. Terbesit rasa yang begitu nyeri. "Sukuna. Maafkan ibu ya, Nak?" Sakari mengusap pola hitam di wajah anaknya. Pola yang diramalkan ratusan tahun lalu oleh moyangnya. "Maaf, maafkan ibu."
Kini air mata Sakari mengalir deras.
Yuga menatap istrinya sedih. Ia tidak kuasa melihat istri cerianya menjadi rapuh seperti ini.
"Sakari..."
Sakari mengusap air matanya. Ia menghela napas supaya lebih tenang. "Maaf, Sukuna sayang. Maaf ibu melahirkanmu seperti ini. Tapi tadi ibu sudah berpesan pada Kak Yuuji. Dia akan menjagamu," Sakari kemudian tersenyum, terbayang dalam benaknya Yuuji dan Sukuna tumbuh besar, "kamu jangan nakalin kakak ya, Nak? Kamu itu kuat. Ibu jadi ragu nanti siapa yang akan melindungi siapa." Sakari terkikik di tengah tangisnya.
Mendapati pergerakan dari sang ibu, Sukuna kecil dalam lelapnya ikut tersenyum.
Yuga mendengar tawa istrinya. Ia membalikkan badan untuk mengusap matanya yang berair. Bagaimana bisa seorang suami menangis di depan istrinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pattern.
FanfictionPada dasarnya Yuuji tidak pernah mengerti kenapa leluhur menurunkan hal-hal yang tidak bisa mereka selesaikan pada keturunannya. Tapi sedikitnya ia paham, hal yang diturunkan leluhurnya kali ini adalah miliknya yang paling berharga. cast ©Gege Akut...
