Alea berdecak ketika Vera terus menggoyang kursinya dengan kaki.
"Kenapa, sih, Ver?"
Alea menoleh sedikit kesal ke Vera.
Vera sendiri hanya tersenyum. Lalu dengan ujung matanya, Vera menunjuk ke satu arah. Di tempat yang ditunjuk Vera, ada Pak Surya yang tengah mengobrol dengan Btara.
Alea mengernyit. Sejak kapan Btara ada di situ?
"Pantes tadi malem dia tanya Pak Surya mau keluar atau nggak."
Sebuah lirikan Alea beri untuk Vera. "Oh, jadi udah tanya-tanyaan, nih?"
"Kenapa, sih?" Vera terkikik. "Orang cuma nanya biasa aja. Dia agak slow respons kayak yang gue bayangin."
"Slow respons tapi tetap dibales, kan?"
Alea berusaha kembali memfokuskan diri ke pekerjaan. Tanpa sadar, dia melirik ke arah Btara yang ternyata juga sedang meliriknya. Sontak Alea langsung menunduk. Jangan sampai Btara mengira dia ingin melihat Btara.
"Yah..."
Vera menghela nafas kecewa saat Pak Surya membawa Btara masuk ke ruangannya. Wajah tampan Btara hilang sudah dari pandangan.
"Kira-kira Btara ke sini ngapain, ya?"
"Ya nggak tahu," jawab Alea sembari mengedikkan bahu. "Kenapa lo nggak tanya aja ke dia?"
"Nanti dikira gue orangnya kepo."
"Daripada lo penasaran setengah mampus."
"Kalau menurut gue sih ya urusan kerjaan. Atau cuma silaturahmi?"
Vera menusuk-nusukkan ujung pensil ke dagunya. Wajahnya tampak sedang berpikir keras.
"Kamu malah ngapain, sih?"
Teguran Mas Anton membuat Vera langsung duduk dengan benar. Duh, kenapa Mas Anton harus masuk ke ruangan saat dia tampak berleha-leha, sih?
"Alea, ini tolong dikerjain sekarang."
Mas Anton berjalan ke kubikel Alea dan menyerahkan sebuah map. Alea segera menerima map itu.
"Kalian kerja yang benar, dong! Masa kerjaannya hitung gaji orang tapi sendirinya malah enak-enakan?"
"Maaf, Mas," jawab Vera pelan. Mas Anton rasanya berlebihan. Apa salahnya berleha-leha sejenak? Toh memang kantor mereka ini sangat mengutamakan kebahagiaan karyawan.
"Lo sih mikirin cowok mulu."
"Itu namanya mikirin masa depan, Al. Siapa tahu Btara beneran jodoh gue. Kurang bahagia apa kalau gue bisa jadi istri pemilik Ceritajiwa?"
"Kayaknya biasa aja, deh."
"Lo kan kaya dari lahir, jadi ya biasa aja. Tapi kalau buat gue, luar biasa."
Alea menggeleng.
"Jadi lo ngincar hartanya doang?"
"Bukan gitu juga. Dapet harta Btara tuh cuma bonus."
"Terus target utamanya?"
Telunjuk Vera terangkat. Ia menunjuk wajahnya dengan gerakan memutar. Melihat itu, Alea hanya menggeleng pelan.
"Mending urusin kerjaan lagi. Gue males denger Mas Anton ngoceh lagi. Hari ini gue lagi agak mendingan kena omel dia, jadi mending lo jaga sikap juga."
Vera cemberut, tapi menurut. Dia mengambil salah satu berkas yang harus diselesaikan. Tapi sepertinya juga akan percuma karena sebentar lagi istirahat makan siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Accidentally Soulmate
RomanceAREA BUCIN ❕❕ ANTI BUCIN DILARANG MAMPIR❌ HATI-HATI KENA MODUS BTARA🧚♀️ Orang yang paling bahagia ketika Alea pindah ke kantor pusat adalah sang adik. Lily yang baru menginjak semester empat itu sangat girang karena kantor Alea tidak jauh dari kam...
