"12"

1.9K 204 10
                                        

Hinata menghela nafas, "kau bersikeras untuk ikut, apa kau tidak tau malu menyerahkan semua urusan perusahaan pada gaara?".

Sang pria yang duduk berhadapan dengannya hanya mengedikkan bahu tak peduli dan kembali berfokus pada tab kesayangannya.

Hinata mendengus sebal, matanya beralih ke arah bawah dimana ia dapat melihat awan dan bumi dari atas, menghadapi sasuke akan lebih sulit dari yang ia perkirakan terlebih pria itu memaksa untuk ikut ke jerman dengan alasan ia juga memiliki urusan bisnis disana...kch...hinata tak percaya tentu saja sasuke ikut hanya untuk menguntitnya.

"Sasuke?...

Hinata mulai berbicara serius lagi pula di pesawat ini hanya mereka yang memasuki kelas bisnis dan hinata tak perlu takut jika ada yang mendengar perkataan mereka.

"Hn?....

"Apa kau tau jika tousan dan kaasan akan segera ke jepang?".

Sasuke beralih menatap mata lavender istrinya, ia mengernyit menuntut jawaban, tentu saja tak ada yang memberitahunya kenapa orang tuanya sama sekali tak mengabarinya perihal kedatangan mereka.

Melihat ekspresi sasuke, hinata menyunggingkan senyum kemenangan, kini sasuke tau dengan siapa ia berhadapan.

"Jangan bilang-....

sasuke menatap hinata dengan tatapan tajam, istrinya benar-benar gila bagaimana mungkin ia bisa merencanakan ini semua?

-....kau yang meminta mereka datang?".

Hinata terkekeh, ia mengambil sebuah kertas di tasnya lalu memberikannya pada sasuke.

"Aku akan memberikan saham milikmu lagi jika kau menyetujui perceraian kita".

Sasuke membuang muka, tatapannya tajam, ia tak pernah merasa serendah ini di depan istrinya dan bahkan sekarang hinata berani mempermainkannya, apa karena selama ini ia hanya diam, apa karena itu hinata berani menindasnya?.

"Kau melakukan hal yang sia-sia, bukankah akan lebih mudah jika kau tetap disisiku dan saham itu akan tetap menjadi milik kita berdua?".

Hinata mengangguk mengerti, ia tau sasuke tak mungkin semudah itu melepaskannya, apalagi dengan iming-iming saham bahkan tanpa saham itu uchiha sasuke tak akan jatuh miskin masih ada saham milik orang tuanya dan hal itu membuat hinata semakin sulit lepas dari sasuke.







~~~






"Bisakah kau memasak dengan benar, tidakkah kau kasihan pada anakku jika setiap hari yang kau masak hanya sampah?".

Naruto berkata lelah, disampingnya sakura berdiri tanpa berani menjawab sedikit pun, selama ini sakura akan tetap diam jika naruto memarahinya seperti ini, jika ia berani menjawab maka naruto pasti akan menguncinya di ruang bawah tanah yang lembab dan mengerikan tentu saja itu membuat sakura sangat ketakutan.

"Maafkan aku, aku akan berusaha lebih keras".

Shion yang melihat itu hanya menghela nafas, "sudahlah naru kun, bagaimana jika aku yang memasakkanmu hmm, kau tidak boleh membuat sakura setres itu bisa mempengaruhi bayinya".

Naruto menatap shion dan ia menghampiri wanita itu lalu mencium pipinya, "hn, masakan aku makanan kesukaanku shion".

Shion tersenyum ia lalu berlalu begitu saja ke arah dapur meninggalkan naruto dan sakura disana.

"Kenapa kau tak belajar dari shion hmm".

Sakura yang ditanya seperti itu hanya mengangguk mengiyakan, tak ada gunanya melawan, sakura hanya ingin hidup dengan tenang sampai bayinya lahir dan setelah itu maka sakura ingin melarikan diri dari kastil ini ya hanya sampai bayi ini lahir.

Bar Bar? (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang