Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sakura berdecak kesal ia sudah sampai di sebuah manshion megah milik keluarga namikaze, tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri di kamar bernuansa serba putih itu.
Melihat keadaan sekitar yang cukup baik membuat sakura berpikir jika tak ada salahnya jika ia membuka hatinya untuk naruto, ya mungkin akan lebih baik seperti itu.
Cklek....
Pintu itu terbuka menampilkan sesosok wanita cantik dengan rambut blonde yang dibiarkan terurai, wanita cantik itu berjalan anggun dengan seorang maid yang mengikutinya di belakang.
"Kau sudah bangun?". Sang wanita bertanya sambil memberi isyarat pada sang maid untuk menaruh makanannya di atas tempat tidur.
Sakura mengernyit ia tak tau jika ada wanita seperti ini yang tinggal di manshion, setaunya naruto hanya tinggal sendiri di manshion ini.
"Siapa kau?".
Wanita cantik itu tersenyum jumawa, "istri pemilik manshion ini".
Bagaikan disambar petir impian sakura yang awalnya berfikir bisa bahagia dengan naruto telah sirna, kapan naruto menikah dengan wanita ini?.
"Kau pasti bohong, setauku nar...
"Shion, kau disini?".
Ucapan sakura terpotong kala melihat sesosok pria berperawakan tinggi dengan kulit tan nya menginterupsi lalu berdiri di sebelah wanita itu dan kini mereka berdua menatapnya seolah tengah menilai.
"Ahhh...sakura kau kelihatan baik-baik saja, dan kau shion seharusnya kau tak terlalu memanjakannya sayang".
Sayang?,, Sakura terdiam jadi benar wanita ini adalah istri naruto tapi kenapa ia sama sekali tidak mengetahuinya, naruto bahkan tak memberikan undangan atau sejenisnya, lalu kenapa shion terlihat baik-baik saja dengan kehamilannya?.
"Aku melakukannya untuk bayi kita naru-kun".
Ap-apa, bayi kita?, Apa maksud shion yang mengatakan hal itu?, bukankah jelas-jelas bayi ini miliknya?.
"Ap-apa maksud kalian". Sakura dengan kernyitan di dahinya membuat kedua orang itu meliriknya dan naruto pun mulai menjawab hal yang memang harus diketahui oleh sakura.
"Shion benar anak yang kau kandung akan menjadi hak kami sepenuhnya".
"Brengsek, kau sama sekali tak memiliki hak".
Sakura berdiri ia menatap nyalang sepasang suami istri itu, ia jelas tak terima jika anaknya diambil alih oleh orang lain.
Shion maju selangkah, tangannya melambai hanya untuk mencengkram dagu sakura, sudut bibirnya tertarik sedikit.
"Sampah-......, gumamnya pelan....
-......sampah sepertimu tak memiliki pilihan lain, untuk hidup kau harus menjadi parasit, kau pernah menjadi benalu diantara hinata dan sasuke, tapi akan sangat berbeda jika itu adalah aku dan naruto, jika kau adalah parasit maka aku yang akan menjadi pembasminya, kau mengerti, sakura".