*4*

3.4K 341 50
                                        

Hinata membalikkan tubuhnya dan berpura-pura sedih, "sasuke, jika menurutmu itu adalah keputusan yang terbaik maka aku....

Sasuke menutup matanya, tidak ia tak menginginkan perceraian apapun, dan apa-apaan perkataan hinata yang seolah menyetujuinya.

"Hinata...

Hahaha....

Hinata tertawa sarkas, raut wajah yang tadi sendu kini telah kembali berubah datar, hinata memilih berjalan dengan penuh percaya diri ke arah suaminya, lalu memilih merapikan dasi suaminya setelah ia sampai di depan pria itu.

...maaf jika itulah hal yang ingin kau dengar, sasuke...

Seringai tipis muncul di wajah cantiknya lalu menatap onyx itu intens.

...mungkin aku takkan mengatakannya sekarang, tapi besok atau lusa bisa saja aku berubah pikiran,... Lanjut hinata, tangannya masih sibuk merapikan dasi suaminya itu.

"Hinata.....

Sekali lagi sasuke menyebut nama istrinya, tapi jari lentik istrinya malah kembali menempel di bibirnya, membuat sasuke enggan untuk melanjutkan apa yang ia ingin sampaikan saat ini.

"Stttt.... Hmmm aku tidak pernah keberatan dengan perceraian sasuke, itupun jika kau juga tak keberatan menjadi gelandangan setelahnya, kau tak memiliki sepersen pun saham tanpa diriku,...

Hinata terkekeh seringainya semakin mengembang, ia sangat suka kernyitan di dahi suaminya, sasuke yang marah dan bingung adalah hiburan tersendiri bagi hinata.

....kau tidak lupa kan?, Jika kakek tercintamu memberikan saham milikmu atas namaku, hmmm aku sangat menyayangi kakekmu, sayangnya dia sudah di surga, jika saja dia masih hidup mungkin sekarang kau sudah tinggal nama".

"Cukup. Cukup hinata, apa pantas kau mengatakan itu pada suamimu?".

Sasuke sudah tak tahan lagi, bagaimana mungkin lidah hinata bisa lebih tajam dari belati, sasuke bahkan curiga dimana hinata mempelajari cara bicara itu, apa hinata pergi ke suatu tempat dan berguru disana?.

Hinata masih bersikap tenang, "suami ya?, tanyakan pada dirimu sasu, apa pantas kau ku sebut sebagai suami?".



~~~





Hinata menyesap teh nya perlahan, sebenarnya ia lebih suka meminum kopi, tapi mengingat ia sedang hamil jadi minum teh sepertinya bukan ide yang buruk, matanya melirik sebentar ke seberang meja makan yang sudah ditempati oleh sakura, setelah beberapa menit sasuke menyusul dan memilih duduk di sampingnya.

Tak ada yang memulai pembicaraan, mereka bertiga hanya makan dalam diam, hinata masih sibuk dengan roti selai coklat kesukaannya, begitupun dengan sasuke yang lebih memilih sandwich sedangkan sakura yang hanya memakan omelete dan susu sebagai sarapannya.

Semuanya baik-baik saja sampai suara kesakitan sakura membuat pasangan suami istri itu memandang ke arah si wanita pinky.

"Ada apa sakura?".

"Sakit, hiks...i-ini sakit sekali sasuke".

Sakura merintih kesakitan, perutnya tiba-tiba terasa kram dan kakinya kesemutan, ia baru pertama kali merasakan sakit seperti ini.

Sasuke bergegas ia menghampiri sakura lalu mencoba membantu wanita itu untuk berdiri sedangkan hinata masih tetap diam di tempat duduknya sambil tetap mengunyah rotinya, sebelum suara panik sasuke membuatnya sadar sekaligus jengkel.

"Hinata, apa yang kau lakukan?, Cepat siapkan mobil, kita harus membawanya ke rumah sakit

"Hah... Hinata ingin sekali menertawakan kehidupannya, sebenarnya siapa yang berperan sebagai istri pria itu?.

Hinata memilih berdiri dengan tampang kusut lalu menatap sasuke dengan tatapan kesal, "apa?, Aku bahkan berharap dia mati sekarang".

"Sayang...

Dengan ogah hinata berjalan dan mengambil kunci mobil dan diikuti oleh sasuke di belakangnya.

"Ya-ya aku hanya bercanda dear". Kata hinata sambil memainkan kunci itu di jari telunjuknya.




~~~



"Dia, wanita itu?".

Hinata mengedikkan bahunya lalu mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Bagaimana keadaannya?".

Hinata bertanya namun sai tau jika pertanyaan yang hinata ajukan hanya sekedar formalitas.

"Dia dan bayinya baik-baik saja, hanya sedikit setres dan kelelahan". Jawab sai tanpa beban, dia bahkan tak mempedulikan bagaimana perasaan hinata saat mendengarnya.

"Oh.

Sai mengernyit, dia yang awalnya sibuk mencatat sesuatu kini beralih cepat untuk menatap wanita yang duduk di depannya sambil memainkan ponsel.

"Kau.... Kau tidak marah?, Kau tidak merasakan sedih atau sejenisnya?".

Hinata tetap diam sambil memainkan ponselnya,

"Apa kau benar mencintai sasuke apa tidak sih?".

Hinata menghela nafas lelah, ia memasukkan ponsel pintarnya ke dalam tas lalu menatap sebal pria itu.

"Apa urusanmu hah?, Daripada kau sibuk mengurusiku kenapa tidak urusi aja ruanganmu yang berantakan ini?,...

Hinata mendengus sebal memperhatikan bagaimana ruangan sai yang nampak kacau tak terurus, buku dimana-mana, jaket di atas kursi, sepatu di bawah meja, hah melihatnya saja sudah membuat kepala hinata ingin pecah.

....aku bahkan ragu jika kau lulus kedokteran karena kepintaranmu, akui saja jika kau lulus karena hanya kebetulan kan?".

Sai mendengus sebal, "seharusnya kau pertanyakan itu pada suami bodohmu, dia bahkan tidak tau harus memilih siapa".

Hinata menghela nafas lelah, "apa sasuke mengatakan sesuatu sai?".

"Tadi dia mencarimu, dan kubilang saja mungkin kau berada di ruanganku".

Hinata memutar bola mata malas, "seperti kau siap dihajar olehnya saja, jika kau mengatakan seperti itu mungkin sasuke sudah kemari sedari tadi".

"Ya mungkin saja kan wanita itu yang menahan sasuke".





~~~




"Sasuke?

Sakura membuka kelopak matanya,

"Hn.

"Apa bayi kita baik-baik saja?".

Sasuke mengangguk tipis, dan jawaban itu membuat sakura tersenyum senang, tangannya terangkat hanya untuk membelai lembut perutnya.

"Sayang, kaasan pasti akan menjagamu". Sakura menghela nafas, ia menarik tangan sasuke untuk ikut membelai perutnya.

"Tousan juga sayang, dia juga pasti akan menjagamu".

Sasuke hanya diam membiarkan sakura mengatur alurnya untuk saat ini, hanya sebentar, ini hanya sebentar, dan sasuke sudah memiliki rencana untuk kedepannya.

Tanpa mereka sadari di luar ruangan hinata berdiri dengan tatapan datar menatap kebahagiaan yang terpancar di wajah sakura, ia menyeringai tipis sebelum beranjak pergi dari tempat itu.












Komen aja lah hihi
Subscribe my channel : Jini CN
Makasi

Komen aja lah hihiSubscribe my channel : Jini CNMakasi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.










Bar Bar? (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang