Kaki itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang memiliki pagar tinggi nan indah. Ia pun sedari meneguk saliva nya karena gugup untuk masuk ke gerbang rumah itu.
Bahkan bisa jadi beberapa orang yang berlalu-lalang menatapnya dengan bingung.
"Neng?"
"Astaga, ayam. Eh," Gadis terkejut dan setelah melihat seorang bapak memanggilnya, ia meminta maaf. "Pak.. aduh maaf."
Pria itu tinggi dan mempunyai kumis, dengan pakaian berwarna hitam yang sepertinya seorang security dan nametag yang bertuliskan Dodi.
"Aduh, neng, jadi kaget juga saya." ujar pak Dodi memegang dadanya.
"Maaf pak, soalnya bapak tiba-tiba dibelakang saya jadi saya kira siapa." ujar Michell menunduk masih dengan meminta maaf.
"Maaf neng," kekeh Pak Dodi. "Oh ya, neng ngapain berdiri di depan gerbang ini? Kurir? Tapi saya enggak lihat kamu bawa barang."
Bapak ngelawak.
"Bukan Pak, saya mau mampir ke rumah ini. Apa betul ini rumah keluarga Aleyxandro?"
Pak Dodi sedikit membulatkan matanya lalu kembali menunjukkan raut biasa dan ia pun mengangguk.
"Ada urusan apa ya neng kesini?" Tanya Pak Dodi seperti menyelidik.
"Saya tutor-nya Rio, Pak. Kami sudah janjian makanya dari jam dua saya di sini." Jelas Michell, Pak Dodi sepertinya sedikit percaya dengan gadis ini.
"Sudah ada janji kan?" Ia memastikan. Michell mengangguk mantap.
"Ya udah, yuk saya antar masuk ke dalam kasian neng di sini terus berdiri kaya penunggu disini." ujar Pak Dodi santai seraya berjalan duluan.
Michell mengikuti bapak itu dengan menggeleng kepala, Pak Dodi ini kelihatannya ramah suka bercanda lagi saat mengobrol namun wajahnya yang berkumis yang membuat ia sedikit menyeramkan.
Pak Dodi masuk lewat gerbang kecil di samping gerbang besar itu, gadis itu juga langsung melangkah masuk dan setelah melihat isinya untuk kedua kali pun Michell masih menatap kagum rumah besar itu.
"Neng, ayo, jangan-jangan neng ini di tahan sama penunggu sini lagi." ujar Pak Dodi dengan kekehan.
Michell tersenyum kecil.
"Eh, Di," panggil seorang pria dari arah taman yang memakai baju biasa dan topi purun dan disekitarnya terdapat beberapa alat bertanam. "Jangan ngegoda anak orang pakai bilang penunggu disini, kamu kali penunggu nya." Pria itu tertawa.
"Enak aja kamu Ge," jawab pak Dodi kepada Pak Gemo. "Enggak usah di dengar orangnya emang gitu neng."
"Kita duluan ya."
"Yo."
Keduanya pun lanjut berjalan menuju kearah rumah utama. Hampir 5 menit dari gerbang sampai rumah utama itu kalau berjalan, terasa jauh saja.
Mereka pun berhenti di depan tangga rumah itu, Pak Dodi menoleh kearah Michell yang di sampingnya. Gadis itu pun masih menatap kagum dua pintu besar berwarna coklat itu.
"Saya sampai sini aja neng, soalnya masih ada kerjaan lain. Neng bisa masuk sendiri kan ke dalam?"
"Iya Pak, bisa. Terima kasih banyak ya pak." Michell tersenyum manis.
"Santai aja neng, kalau gitu saya pergi dulu ya."
"Iya Pak."
Pak Dodi meninggalkan Michell sendiri di depan rumah besar keluarga Aleyxandro. Setelah siluet pria itu benar-benar hilang, Michell menghela napas perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trouvaille
Ficção Adolescente[On going] --- Gantungan kunci itu sangat berharga, bahkan tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Itulah yang terjadi dengan Michell, anak baru di sekolahnya dan sudah menjadi tutor untuk Rio yang sering disebut sebagai, mostwanted dan akan bersamanya...
