Prolog

127 12 2
                                        

Hanya cukup memandang mu saja

Dari tempat yang jauh

Yang tidak terlihat siapa-siapa

Rasa sedih juga karena tak bisa memilikimu seutuh

Aku paham dengan keadaan ini

Aku hanya gadis biasa

Tidak akan ada kesempatan seperti gadis ini

Hanya diam untuk selamanya

Semua terjadi hanya di dunia dongeng

Hanya imajinasi tinggi

Tidak akan seindah dengan yang di bayang

Cukup ilusi tersendiri

Terasa sakit saat hanya memandang mu

Hati bergemuruh kuat

Menolak semua pikiran itu

Tapi tetap saja selalu teringat

Ini sebuah kalimat yang cukup ku sampaikan

Aku cukup menulis perasaan ini di kertas putih

Aku hanya cukup menjadi pengagum mu saja

Pengagum rahasia untuk selamanya

MLSky

•••


Sekolah mulai ramai dengan para siswa siswi yang berlalu lalang. Seorang gadis berambut keriting dan manik mata berwarna coklat itu melangkahi koridor sekolah barunya.

Benar nggak sih ini ruang kepala sekolahnya?

Gadis itu mengedarkan pandangannya, lalu dua orang perempuan menatapnya dan mendekati.

"Lo cari siapa?" Tanya cewek berkulit sawo matang dengan wajah yang cantik dan nama Fanya Cansafra bertengger di sisi kiri seragam putihnya.

"Emm, benar gak ini ruang kepala sekolah?" Tanya gadis itu.

"Lo anak baru?" Tanya cewek di samping Fanya yang tomboi, mata sipit dan rambut sepanjang bahu, juga nametag bertuliskan Jovlien Mikhayla.

Gadis itu mengangguk.

"Lo dikelas mana?" Tanya Fanya.

"Seingat ku di 12 IPA-1."

"Santai aja sama kita jangan terlalu baku ngomong nya." gadis itu mengangguk dan tersenyum ramah.

"Ya udah ikut kita aja, kita anak 12 IPA-1." gadis itu mengangguk lalu mengikuti kedua cewek itu menuju kelas barunya.

"Nama Lo siapa?" Tanya Jov saat mereka sedang berjalan.

"Aku Michell Lentrasky."

"Gue Fanya Cansafra."

"Jovlien Mikhayla."

"Kamu keturunan orang Jepang?" Tanya Michell kepada Jov yang memang memiliki mata sipit seperti orang Jepang, Jov mengangguk.

Ia menatap kagum dan hal itu membuat Jov terkekeh, sehingga Michell gadis itu bingung.

"Banyak orang bilang gitu, tapi bukan kok, enggak ada keturunan Jepang." Sesekali lah pede dikit, bukan?

Fanya merangkul bahu Jov, "Orangnya emang gini, sedikit nyebelin." Fanya mencubit pelan lengannya.

Michell tersenyum, lucu melihat kedua perempuan tersebut yang bisa di bilang teman barunya ini.

"Kalau ada yang macam-macam sama lo," Fanya menepuk bahu Jov. "Tenang aja dia bakal nge-lindungin." tambah Fanya sambil terkekeh.

Michell tersenyum sedangkan Jov mengacungkan jari jempolnya. Baru saja menjadi anak baru di sekolah barunya, ia sudah di sambut sangat baik oleh teman baru lebih tepatnya teman sekelasnya.

Ketiga gadis itu menuju kelas dan Michell memperkenalkan dirinya di kelas barunya, semua siswa-siswi bersikap baik padanya.

•••

"Rio."

"Rio."

Sudah dua kali di panggil tapi cowok yang bernama Rio itu tidak menjawab. Cowok itu menelungkup kan kepalanya di lipatan tangan di atas meja.

Adriel menatap kearah Levan, seakan berkata kenapa ni anak?.

"Lo mikirin apa, WOI!" Adriel melempar gumpalan kertas besar tepat kearah kepala Rio.

"Kenapa sih?" Cowok berjambul keriting pendek itu emosi dan mengucek matanya.

"Kita panggil dua kali lo gak denger, ke sambet apa ya?" Adriel pura-pura bergidik ngeri.

"Gampang entar kita ruqyah aja kalau tuh anak ke sambet setan." Levan malah menyemangati.

Rio melipat tangannya di depan dada bersandar di kursi kayunya.

"Udah berapa lama gue tidur?" Tanya Rio.

"Lo tidur? Gue kira cuman nutup mata."

Levan menatap Adriel. "Iya dia nutup mata dulu baru tidur." Kedua cowok itu tertawa tapi Rio tidak.

Ada apa dengan kedua sahabatnya ini?

"Sejam kok lo tidur. Itu aja untung karna nggak ada pak Jarwo, kalau tadi ada lo pasti di suruh lari di lapangan." jawab Levan sambil mengambil gawai-nya dan memainkannya.

Rio menghela nafas.

Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Tiba-tiba arah matanya menatap seorang gadis yang baru saja ia lihat, tapi ia tidak peduli.

"Kuy, ke kantin gue haus." ajak Adriel dan kedua cowok itu mengangguk, melangkah kaki keluar dari kelas.

Tanpa sadar seorang gadis menatap kepergian mereka, tapi ia lebih berfokus pada cowok berjambul keriting itu.

•••

TrouvailleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang