5. Ayah yang Menyeramkan!

39.6K 5.6K 143
                                        

Pagi mulai tiba, matahari pun mulai menunjukkan wujudnya. Mata yang berat membuatnya enggan membuka matanya.

Hingga sebuah ketukan pintu terdengar. Tangan kecilnya menarik selimut agar menutupi hingga telinganya.

Ketukan pintu tak terhenti. Sampai akhirnya mata heterochromianya terbuka sempurna.

"Dasar orang gila! Ini masih pagi loh!" Kesalnya.

Alexia pun menyerah, ia pun turun dari kasurnya. Lalu berjalan ke arah pintu kamar.

Membukanya, lalu bersiap mengomeli orang yang membangunkannya. Pintu terbuka.

"Kau ini tau aturan tidak sih?! Aku masih mengantuk!" Teriaknya kesal, meskipun matanya masih sayup sayup.

"Maaf."

Seketika ia langsung membuka matanya lebar lebar, lalu menatap orang didepannya. Ia mendongak karena tinggi orang itu lebih tinggi darinya.

Pria dengan surai putih, ditambah dengan mata birunya.

Seketika Alexia menganga tak percaya. Duh kesalahan besar nih, manah tadi dia make acara marah marah tadi.

Kaki kakinya mendadak lemas. Ia berlutut. Kemudian dengan cepat memeluk kaki tinggi pria didepannya.

"Maafkan saya tuan Luxius! Sumpah saya tidak bermaksud tadi. Tolong jangan bunuh saya sekarang, saya masih mau nyari jodoh dulu!" Ujar Alexia asal.

Lalu tiba tiba dengan mudah pria bersurai putih tersebut mengangkatnya kedalam gendongannya.

"Aaaa!" Pekiknya terkejut.

Luxius, pria itu tersenyum kecil ketika melihat bagaimana putrinya yang meronta diturunkan.

"Ku-kumohon tuan, turunkan aku!"

Entah kenapa panggilan anaknya membuat Luxius sedikit perih dan sesak pada hatinya.

"Panggil aku ayah. Aku ayahmu." Perintahnya mencoba berkata lembut.

Tapi sayangnya masih terdengar dingin ditelinga Alexia. Bahkan gadis itu mulai berurai keringat dingin, karena mendengar suara ayahnya sendiri.

"Kau mendengarku?" Tanya Luxius sambil berjalan ke kediaman utama dengan putrinya yang masih digendongannya.

Disepanjang perjalanan ke kediaman utama. Banyak pasang mata dari pengawal yang menernyit heran. Apa yang baru saja mereka lihat ini sungguhan?

Padahal dulu jangankan menggendong, menghampiri ke menara ini saja pria itu tidak pernah.

"Alexia?" panggil Luxius. Ia menoleh kearah pundaknya yang memberat. Lalu terkekeh.

Ternyata putrinya tertidur lagi. Apa dia terlalu pagi membangunkannya? Ia tak menyangka jika putrinya masih mengantuk.

Setelah sampai di kediaman utama. Ia masuk kedalam ruang makan. Pintupun terbuka.

Tak ada siapapun disana kecuali para pelayan yang masih sibuk menata sarapan pagi untuk keluarga ini.

Mereka yang melihat Luxius berjalan menuju kursinya langsung menunduk hormat. Sedangkan Luxius hanya membalas dengan anggukan sekali.

Ia pun duduk dengan Alexia yang masih tertidur dipangkuannya. Tangan besarnya mengusap penuh sayang pada kepala putrinya.

"Bangun Alexia."

"Ngh? Aku masih mengantuk." Gumam Alexia lalu kembali tidur dibahu Luxius.

Senyuman tipis terpatri diwajah tampan Luxius. "Kau harus sarapan terlebih dahulu."

Alexia mengangguk, sementara waktu ia lupa jika orang yang tengah memangkunya adalah pria yang sangat membencinya awalnya.

Tangan besar Luxius langsung memposisikan anaknya menghadap ke meja makan.

"Saya duduk di kursi saja tuan-"

"Ayah. Jangan berbicara formal pada ayahmu sendiri Alexia." Potong Luxius cepat.

Mendadak Alexia merinding mendengar suara yang begitu menakutkan itu. Ia pun hanya mengangguk lalu turun dari pangkuan sang ayah, memilih duduk di kursi sebelah Luxius.

Lalu para pelayan menjauh sedikit dari meja makan. Membiarkan anak dan ayah itu sarapan.

Alexia mengambil banyak sekali makanan yang dihidangkan. Kalau kata dia 'rugi banget kalau di sia siain!'

Setelah itu mulai menyantapnya. Matanya berbinar ketika lidahnya merasakan rasa yang begitu menakjubkan!

Melihat kefokusan sang putri yang memakan makanannya dengan lahap membuat hati Luxius menghangat.

Setiap melihat mata berbinar itu, Luxius seperti melihat Altera. Yang selalu bahagia setiap kali mendapatkan apa yang ia mau.

Dia jadi ragu, apa benar putrinya ini yang telah membunuh istrinya? Rasanya itu sulit dipercaya tapi ia juga melihat kejadiannya.

Dulu ketika ia masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Altera tiba tiba pemandangan yang ia suguhkan adalah Altera yang sudah bersimbah darah. Dengan anak gadis berumur sembilan tahun disisinya. Gadis itu memegang sebuah pisau.

Mengingat hal itu semua membuat rahang milik Luxius mengeras. Bahkan hawa dingin yang menusuk tiba tiba ada disini.

Alexia yang tengah makan langsung terdiam. Mata heterochromia nya langsung menatap ke ayahnya. Terlihat pancaran penuh amarah disana.

Trang'

Sendok dan garpu yang dipegang Alexia terjatuh. 'Sial dingin banget!' Rutuknya dalam hati. Seharusnya ia tak kesini tadi.

"Di-dingin! Hentikan a-ayah!" Teriak Alexia ketika suhunya semakin menusuk.

Luxius tersentak. Ia langsung menatap putrinya yang menggigil. Ia pun tersadar. Secepat mungkin ia mengontrol emosinya. Lalu kembali tenang. Suhu pun kembali seperti biasa.

Baru saja tangan besarnya ingin meraih sang putri, tapi sayangnya Alexia menghindar.

"Ada apa?" Tanya Luxius.

Alexia menggeleng ribut. "Kau menakutkan!"

Luxius terdiam. Ini semua salahnya. Niat untuk bisa akrab kembali dengan putrinya ia justru semakin dijauhi. "Maafkan ayah."

Diam. Tak ada satu kata yang terlontar dari mulut kecil Alexia. Kenapa sifat Luxius berubah? Bukankah ia harusnya kejam dengannya? Tapi baguslah jika dia berubah!

"Ayah akan memberikan apapun untukmu, jadi maafkan ayah." Bujuk Luxius.

Mata heterochromianya tiba tiba berbinar. "Oke sepakat!" Ujarnya semangat sambil mengulurkan tangannya.

Luxius tersenyum. Ia pun menerima uluran putrinya. Lalu mendekati Alexia dan kemudian memeluknya erat.

"Kenapa kau tadi terlihat takut?" Tanya Luxius ketika melonggarkan pelukannya yang tiba tiba.

Alexia yang tadi terdiam karena perlakuan yang mendadak oleh sang ayah pun menjawab. "Su-sudah aku katakan. Ayah menyeramkan!"

---
Tbc

Vote!

Antagonist Princess [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang