Arctophile - 14

942 62 59
                                        

Sorry for typo
HAPPY READING

HAPPY 1K READERS KEKEKE MAKASIH YA SEMUANYA, SAYANG KALIAN 🤧🤍🤍
________

Setelah dirasa Bre nyenyak dalam tidurnya. Jongin menghentikan tepukan tangannya pada punggung Bre, yang sedari tadi ia lakukan. Cukup cepat untuk menidurkan gadis kecil itu kali ini, mungkin karena dia sudah terlalu lelah dan mengantuk.

Bangkit dan mematikan lampu kamar, tidak lupa mensetting CCTV ruangan agar terhubung dengan kamarnya. Ia pun keluar menuju kamarnya dengan jennie, seperti inilah kegiatannya setiap malam, Jongin seperti memiliki dua anak yang harus ia jaga setiap detiknya.

"Kamjagi" Jongin membuka pintu bersamaan dengan Jennie yang akan keluar dari kamar itu.

"Baru saja aku mau kesana, apa Bre sudah tidur?" Tanya jennie, Jongin mengangguk. Matanya menyusuri tubuh jennie, malam ini wanita itu mengenakan gaun tidur berwarna hitam dengan tali tipis di pundaknya. Apakah jennie tidak tahu, warna hitam ditubuhnya akan jauh lebih meningkatkan gairah Jongin pada wanita itu.

"Kenapa?" Jennie yang merasa di perhatikan itupun bertanya, dia juga ikut menyelidiki tubuhnya. Sepertinya tidak ada yang salah kali ini, tapi kenapa Jongin menatapnya dengan...

Lapar.

"Kau tidak mau ganti baju?" Pertanyaan Jongin membuat jennie tertawa, lelaki dihadapannya ini sangatlah aneh.

Tidak mau mengambil pusing, jennie kembali masuk dan berdiri didepan meja rias untuk menyisir rambutnya serta memakai beberapa skincare malamnya. Jongin mengikuti langkah jennie dan berdiri tepat dibelakang wanita itu, mperhatikan setiap gerak gerik yang tercipta dari tubuh jennie.

Jongin memberikan sapuan lembut pada lengan jennie dengan punggung tangannya, sambil terus memperhatikan wanitanya yang sedang berkaca dengan berbagai jenis cairan dan krim yang wanita itu gunakan diwajahnya. Menundukkan tubuhnya, Jongin menghirup aroma jennie yang sebenarnya sudah tercium sejak tadi. Namun dia memilih untuk menaruh kepalanya di leher jennie, menikmati harum yang wanita itu ciptakan. Ini memabukkan, dan berhasil menaikkan gairahnya.

"Oppa, berhenti mengendus tubuhku. Itu geli" Jennie angkat bicara, perlakuan Jongin berhasil mengganggu sarafnya hingga membuat tubuh jennie menggigil. Dia tidak tahu arti dari rasa yang kini mendera tubuhnya, tapi satu yang pasti, jennie ingin jongin melakukan hal yang lebih jauh dari ini.

"Wangimu memabukkan Jen, aku menyukainya" Lirih Jongin dengan suara beratnya. Tangannya turun kearah perut jennie dan mulai memberi sapuan lembut yang membuat jennie semakin kelabakan.

Jennie menghentikan seluruh kegiatan karena memang sudah selesai. Membalik tubuhnya membuat Jongin sedikit menjauhkan tubuhnya, lalu berjalan kearah ranjang. Lagi, jongin mengikuti langkah jennie seperti anak kucing yang mengikuti kemana induknya pergi.

"Kau ini kenapa sih?" Tanya jennie, melihat jongin yang sudah tertidur dengan posisi tengkurap diantara kedua pahanya yang membuka. Jennie masih duduk bersandar pada ranjang saat ini, ia pun mengelus kepala jongin yang bersembunyi di sela dadanya.

Jujur saja jennie mengetahui gerak gerik lelaki itu, dia tidak bodoh untuk sekadar mengetahui bagaimana perilaku seorang lelaki yang menahan gairahnya. Tapi, haruskah hari ini dia memberikan dirinya pada Jongin, lagi?

Tangan Jongin yang berada dibelakang tubuh jennie memainkan punggung wanitanya itu, melukis pola-pola tak beraturan demi menahan hasratnya. Namun itu semua tetap saja gagal, jongin mendongakkan kepalanya menatap sayu kearah mata jennie yang juga tengah menatapnya. Wanita itu masih setia memberinya elusan lembut dirambut jongin.

"Nini"

Jennie berdeham singkat untuk menjawab panggilan itu. Bukannya bereaksi lain, Jongin justeru mendengus dan bangkit berdiri, jennie menahan lengannya.

Arctophile (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang