Hari ini adalah hari Minggu, banyak orang menghabiskan waktunya dengan melakukan aktivitas di luar rumah untuk sekadar jalan-jalan atau berbelanja. Salah satunya Arabelle yang kini sedang menyusuri jalan dengan senyum cerahnya menyaingi matahari yang sedang bersinar terik di negeri tropis itu. Agendanya hari ini adalah ke toko buku favoritnya yang terletak masih di kawasan Batavia yaitu toko buku G. Kolff & Co—merupakan toko buku pertama di Batavia yang didirikan pada tahun 1848 oleh seorang pengusaha Belanda, Willem Van Haren Noman.
Arabelle mengenakan gaun berwarna putih gading yang dihiasi renda di bagian pinggirnya, rambut cokelatnya dibiarkan terurai. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri mengamati gedung-gedung yang bergaya arsitektur khas Belanda. Dibelakangnya ada Damar yang setia mengikutinya kemana pun, terkadang ia tersenyum kecil melihat tingkah anak majikannya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan menggunakan trem dan delman, akhirnya mereka berdua sampai di pusat toko buku G. Kolff & Co. Damar membukakan pintu untuk Arabelle lalu dibalas dengan senyum tipis dan ucapan "Dank je wel" yang berarti terima kasih.
Setelah masuk mereka berdua disambut dengan jejeran rak-rak buku yang terisi berbagai macam buku. Mata Arabelle berbinar melihatnya, ia langsung berlari menghampiri salah satu rak yang bertuliskan *Geschiedenis di atasnya.
*Geschiedenis : Sejarah
"Maaf nona Belle, kenapa harus jauh-jauh ke sini? Padahal di Weltevreden juga ada toko ini." Tanya Damar penasaran.
Pertanyaan Damar membuat Arabelle berhenti sejenak dari kegiatannya memilih buku, ia menoleh ke arah Damar. "Yang di Weltevreden itu cabangnya, Damar. Buku-buku di sana kurang lengkap, sedangkan di sini lengkap, buku yang kucari ada semua." Jawab Arabelle lalu kembali melanjutkan kegiatannya sedangkan Damar hanya mengangguk sebagai jawaban.
Arabelle mengamati satu-persatu judul buku. Baginya pergi ke toko buku atau ke perpustakaan merupakan "cuci mata" yang harus ia lakukan minimal satu bulan sekali. Damar pun mulai terbiasa dengan kebiasaan Arabelle ini.
Sementara Arabelle asyik memilih buku-buku sejarah, Damar berkeliling melihat-lihat toko buku terbesar yang pernah ia kunjungi. Damar melewati rak kartu pos, buku pelajaran, dan sampai di ujung ruangan terdapat rak surat kabar yang kebanyakan pembelinya adalah para pria londo paruh baya. Harian Bataviaasch Nieuwsblad memenuhi rak surat kabar. Sepintas Damar membaca judul yang tertulis dalam bahasa Belanda, "Nippon Kuasai Asia."
"Damar?" sebuah suara perempuan berhasil membuat leher Damar menoleh secara spontan.
"Aku kira kau meninggalkanku." Arabelle terlihat gundah, ia takut sekali ditinggal Damar.
"Saya sedang melihat-lihat, Nona Belle." Damar merasa bersalah karena telah meninggalkan Arabelle sendirian. Ia segera mengalihkan perhatian. "Apakah Nona sudah menemukan buku yang Nona cari?"
Arabelle memanggut. Ia menunjukkan buku-buku yang akan ia beli. Arabelle membeli empat buku yang berbeda. Buku-buku tebal yang siap memuaskan hasrat pengetahuannya.
Damar membawa buku-buku yang dipilih Arabelle. Lalu mengikuti langkah Arabelle ke meja kasir. Seorang wanita bergaun hitam dengan rambut disanggul menyambut mereka. Matanya berwarna biru, namun perawakannya begitu pribumi. Pikiran Damar langsung mengatakan bahwa perempuan tersebut adalah Indo, keturunan Eropa dan pribumi.
"Pilihan buku yang bagus, Nona." Ujar wanita kasir itu.
Arabelle membalas dengan senyuman tipis. "Terima kasih."
Mata Arabelle memandangi wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Damar, kenapa wanita pribumi itu memiliki mata biru seperti orang Eropa?" bisik Arabelle pelan agar tak terdengar oleh sang kasir.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Are From The Past
FantasySemenjak menginjak umur ke-17 Arunika menjadi sering bermimpi tentang kejadian-kejadian lampau, tepatnya saat masa penjajahan. Ia mulai mengalami hal-hal aneh. Seperti fasih tentang sejarah kolonialisme Indonesia, tiba-tiba mendapat gambaran peristi...
