Arunika merebahkan dirinya setelah memposting sebuah narasi di blog kesayangannya tentang mimpi yang ia alami beberapa hari ini. Ia berharap tulisan di blog nya kali ini dapat menemukan titik terang akan arti dari mimpi tersebut.
Sebuah panggilan video grup masuk ke ponsel Arunika, dengan malas ia mengambil handphone nya yang ada di nakas. Setelah ia menggeser naik ikon panggilan, layar handphone menampilkan wajah dua temannya dan Arunika.
"Haloooo!" suara Athaya menyapa pertama kali.
"Hai, lagi pada ngapain nih?" tanya Kanya yang sedang membenarkan letak rambut nya.
"Baru kelar nulis di blog kalau gue." Balas Arunika.
Video call adalah salah satu kebiasaan Arunika dan kedua temannya.
kebiasaan ini berlangsung hampir setiap hari, kalau mereka gak sibuk dengan tugas tentunya.
Setelah menjalin pertemanan selama beberapa bulan akhirnya mereka bertiga membuat grup chat yang diberi nama "Triple A++" terkadang pembahasan mereka di grup gak terlalu penting untuk dibahas. Salah satu isi percakapan gak penting mereka tuh kayak gini.
"Eh, lo pada udah pernah nyobain siomay Mang Ucup belom?" tanya Athaya tiba-tiba.
"Mang Ucup yang jualan di depan sekolah itu?" Arunika bertanya balik.
"Iya lah, yang mana lagi. Mang Ucup hari ini baik banget, gue kan beli siomay cuma satu bungkus ya, eh dibonusin satu bungkus lagi katanya buat nyemil di rumah, kan gue jadi enak." Athaya bercerita dengan raut wajah yang senang karena mendapat bonus 1 bungkus siomay.
"Mang Ucup demen kali sama lo!" ledek Kanya.
"Asik, Athaya ada yang naksir juga akhirnya haha."
"Gebet tuh Mang Ucup, Tha. Mumpung masih muda." Arunika menimpali sambil tertawa kecil.
"Ah gak mau, yang ada gue dikasih makan siomay mulu tiap hari." Athaya menangkupkan sebelah pipinya
"Eits ... jangan salah, siomay bikinan Mang Ucup tuh bergizi apalagi dibuatnya spesial pake cinta buat Athaya."
"Setuju banget gue sama lo, Nya, gue sebagai sahabat hanya menyarankan aja, Tha. Hahaha."
"Tau ah, gak jelas ngobrol sama lo berdua." Athaya mencebikkan bibirnya, sudah mulai kesal dengan kedua temannya itu.
"Kayak lo pernah jelas aja." Balas Arunika.
"Emang nih calonnya Mang Ucup suka gak ngaca." Kanya menimpali.
"Udah ah ... mending kita bahas yang lain, contohnya kayak si Aru yang hari ini aneh banget." Athaya tiba-tiba membuka topik baru yang dirasa lebih seru.
"Lah, kok jadi gue yang diomongin sekarang?" Ucap Arunika tidak terima.
Emang ya, para perempuan ini paling semangat kalau ngeledekin sahabatnya, tapi kalau diledekin balik malah ngambek.
"Gantian dong, masa gue mulu yang diomongin."
"Serius, tadi lo aneh banget tiba-tiba bisa jawab pertanyaannya Pak Rudy padahal gue perhatiin lo cuma ngelamun doang di kelas."
"Iya, kelakuan lo beda banget akhir-akhir ini. Lo lagi dapet hidayah atau gimana, Run?"
"Emang gue pinter aja kali." Sanggah Arunika dengan percaya diri.
"Apaan, lo kalo pelajaran sejarah kadang kerjaannya tidur, berasa di dongengin bapak lo."
"Udah gitu tidurnya pules banget lagi, dikodein sama gue juga gak mempan."
"Kayaknya ini gara-gara mimpi itu deh, gue jadi ngerasa tertarik banget sama hal-hal yang berbau sejarah, apalagi zaman penjajahan"
"Ceritain dong lebih detailnya kayak gimana."
KAMU SEDANG MEMBACA
We Are From The Past
FantasySemenjak menginjak umur ke-17 Arunika menjadi sering bermimpi tentang kejadian-kejadian lampau, tepatnya saat masa penjajahan. Ia mulai mengalami hal-hal aneh. Seperti fasih tentang sejarah kolonialisme Indonesia, tiba-tiba mendapat gambaran peristi...
