Sebuah tas kecil diisikan ponsel, dompet, dan beberapa benda lainnya yang dianggap penting oleh Arunika. Tak perlu banyak barang yang ia bawa. Karena pikirnya ia tidak akan berlama-lama di pameran itu. Toh tujuannya untuk bertemu Abhra, bukan untuk pergi melihat pameran yang menurutnya membosankan.
Tas itu diselempangkan pada bahunya yang kecil. Beberapa kali Arunika memandang tubuhnya yang sudah dibalut dengan dress berwarna cokelat muda. Ia rasa penampilannya sudah cukup. Tidak perlu riasan yang terlalu menor untuk sekedar bertemu lelaki yang baru dikenalnya.
Arunika memberikan sentuhan terakhir sebelum ia pergi, yaitu menyemprotkan parfum favoritnya yang beraroma vanila.
"Lo udah berangkat?"
Sebuah pesan singkat muncul pada layar ponsel Arunika.
"Baru mau berangkat. Udah mulai pamerannya?"
"Baru mau mulai, nih."
"Oke, gue berangkat sekarang." Arunika kembali menaruh ponselnya ke dalam tas.
Sepasang flat shoes yang berwarna senada dengan dress yang ia kenakan Arunika pasangkan pada kedua kakinya. Setelah itu Arunika melangkahkan kakinya dengan santai ke luar kamar. Menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu rumahnya.
Sukma Lestari dan Adnan terlihat tengah berbincang-bincang di dapur. Obrolan mereka terdistraksi oleh kedatangan Arunika, putri semata wayang kesayangan mereka.
"Mau kemana, nih, anak Papa?" Tanya Adnan seraya memandangi anaknya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Pasti mau jalan-jalan sama Anya dan Thaya, ya?" Sukma menebak-nebak.
Arunika menanggapi kedua orangtuanya dengan gelengan kepala. Sambil memberikan raut wajah sok misterius.
"Hm, kalo bukan sama mereka berdua sama siapa dong?" Sukma semakin dibuat penasaran.
"Sama temen aku, Ma ..."
"Ya, siapa?" Sukma kembali bertanya.
"Cowok?" Adnan mempertajam pertanyaan.
"Kepo ..."
Adnan dan Sukma mengecutkan muka mereka.
"Ya udah, deh, kalo Mama sama Papa gak boleh tau. Hati-hati, pulangnya jangan terlalu malem, oke?"
"Oke bos." Arunika membentuk lingkaran dari jari telunjuk dan jempolnya.
"Pertanyaan Papa tadi belum kamu jawab. Mau kemana?" Adnan mengulangi pertanyaannya di awal.
"Ke Galeri Nasional, Pa. Mau liat-liat pameran lukisan."
"Tumben-tumbenan mau pergi ke acara begitu. Emang kamu gak bosen?" Gurau Adnan.
"Papa gak boleh gitu, ah." Sukma memukul bahu Adnan pelan, ia tak ingin merusak perasaan anaknya.
"Ya.. kan Papa cuma tanya doang, Ma." Balas Adnan, tangan kanannya mengambil secangkir kopi hitam yang telah dibuat oleh Sukma lalu menyeruputnya.
"Ya udah. Aku berangkat dulu ya, Ma, Pa. Daah!" Pamit anak semata wayangnya.
Arunika melambaikan tangan. Ia berjalan kaki ke halte bus yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Gadis itu mempercepat langkah menuju halte, teriknya matahari tidak bersahabat dengan kulit Arunika yang halus.
Keadaan halte tak terlalu ramai, mungkin karena akhir pekan. Jadi para pekerja yang biasanya memenuhi halte banyak yang menghabiskan waktunya di rumah atau liburan ke luar kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Are From The Past
FantasiSemenjak menginjak umur ke-17 Arunika menjadi sering bermimpi tentang kejadian-kejadian lampau, tepatnya saat masa penjajahan. Ia mulai mengalami hal-hal aneh. Seperti fasih tentang sejarah kolonialisme Indonesia, tiba-tiba mendapat gambaran peristi...
