Cahaya mentari pagi samar-samar menembus gorden tipis di kamar Abhra. Seorang remaja lelaki labil yang sedang menikmati masa pubertasnya.
Abhra mengusap kedua mata lalu merenggangkan badan. Sayup-sayup ia melihat ke handphonenya yang menunjukkan pukul 05.30 am. Padahal ia menyetel alarm pada pukul 06.00.
Belakangan ini ia sering bangun lebih awal dari biasanya.
Belakangan ini ia juga memimpikan hal yang sama berulang kali.
Abhra memejamkan mata. Mengingat sosok perempuan di dalam mimpinya. Seorang perempuan berambut pirang menyala dengan iris mata berwarna cokelat muda sempurna.
Entah bagaimana, ia dapat mengingat setiap detil bagian dari tubuhnya. Padahal itu hanya sebatas mimpi.
Dan entah bagaimana, mimpi itu lebih terasa seperti memori. Tetapi dari tubuh yang berbeda.
Abhra terus merasa bahwa dirinya masih berada di mimpi itu, di tahun 1939.
"Arabelle..." Gumamnya, sambil pikirannya mengembara jauh ke dalam ingatan-ingatan mimpinya semalam.
Sosok perempuan cantik itu terus menghantui mimpinya. Mata indahnya yang membuat siapapun terpesona, rambutnya yang begitu halus dan selalu dibiarkan tergerai membuatnya begitu anggun ketika tertiup angin.
Seperti itulah gambaran tentang Arabelle. Jantung Abhra tak pernah berhenti berdegup kencang ketika mengingat wanita itu, padahal ia pun tahu bahwa sosok Arabelle hanyalah bunga tidur semata.
Matahari semakin naik. Sebagai tanda bahwa Abhra harus segera mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah. Padahal di dalam lubuk hati yang paling dalam ia ingin tidur saja. Rasanya mimpi lebih indah daripada realita. Setidaknya di mimpi Abhra punya pacar bule.
- WAFTP -
Pedal sepeda dikayuh dengan santai karena jam masuk sekolah masih 30 menit lagi dan jarak antara rumah Abhra dengan sekolah pun tak begitu jauh.
Inilah keseharian Rainindra Langit Abhra.
"Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa goes sepeda ..." senandungnya memplesetkan lirik yang asli.
Jalanan pagi ini begitu lengang. Belum banyak kendaraan yang berlalu-lalang Tak heran Abhra senang berangkat sekolah pagi-pagi, alasannya untuk menghindari kemacetan yang bisa membuat darahnya naik sampai ubun-ubun.
Gerbang sekolah sudah berjarak beberapa meter lagi. Pak satpam terlihat sedang duduk di pos sambil sesekali meneguk kopi yang rasanya pahit seperti kehidupan.
"Pagi Pak Udin!" Sapa Abhra.
"Pagi, Bhra." Balas Pak Udin
Kalau sudah berada di sekolah, siapa pun akan menyapa Abhra. Ia adalah siswa berprestasi yang dalam satu semester bisa menghasilkan belasan piagam.
Teman-teman Abhra memanggil ia dengan sebutan "Atlet Kuas".
Ya, Abhra adalah seorang pelukis. Banyak goresan-goresan ajaib yang ia ciptakan. Sudah sejak kecil ia menggandrungi dunia perkuasan ini.
Walaupun terkenal di sekolah, teman Abhra dapat dihitung dengan jari. Tepatnya dua jari.
Abhra menurunkan standar sepedanya. Menyeka keringat dengan handuk kecil yang selalu ia bawa.
Kelas Abhra berada di lantai tiga. Membuat Abhra selalu menghelas napas saat menaiki satu persatu anak tangga. Belum lagi kelas Abhra berada di pojok koridor. Ia harus berjalan jauh dari ujung ke ujung.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Are From The Past
FantasíaSemenjak menginjak umur ke-17 Arunika menjadi sering bermimpi tentang kejadian-kejadian lampau, tepatnya saat masa penjajahan. Ia mulai mengalami hal-hal aneh. Seperti fasih tentang sejarah kolonialisme Indonesia, tiba-tiba mendapat gambaran peristi...
