Gadis cantik yang bernama Arunika Andjani atau biasa dipanggil Arunika itu terheran-heran di pagi hari yang cerah ini.
Akhir-akhir ini ia mengalami mimpi aneh yang berulang dan bersambung antar mimpinya seperti lanjutan suatu kisah.
Semua berawal pada lima hari yang lalu, tepat saat ia menginjak usia tujuh belas. Malam setelah ia merayakan pesta ulang tahunnya, Arunika bermimpi dimana ia menjadi pemeran utama dalam mimpi tersebut.
Seperti mengalami lucid dream, di mana seseorang dapat mengendalikan mimpinya. Ia sadar menjadi seseorang yang lain dalam mimpi itu.
Semua peristiwa terjadi begitu saja seperti menggambarkan sebuah cerita sejarah pada masa penjajahan dulu.
Di mimpinya, Arunika seperti berada pada sudut pandang orang lain. Dirinya seakan-akan sedang memerankan peran seorang gadis keturunan Eropa bernama Arabelle Roosevelt, putri tunggal keluarga Roosevelt.
Ia berambut pirang sepinggang, kedua bola matanya berwarna cokelat muda, Hidung bangir dan dagu yang lancip. Di sekitar pipi dan hidungnya dihiasi bintik-bintik khas orang Eropa yang biasa disebut dengan Freckles. Namun hal itu tidak mengurangi kecantikannya.
Ada sosok lain dalam mimpi itu, seorang laki-laki bernama Damar. Yang pasti ia merupakan seorang pribumi. Ia salah satu orang yang memanggil Arabelle dengan sebutan "Nona Belle". Arunika akui ia cukup tampan untuk seorang laki-laki zaman dulu.
Arunika menggelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk pipinya. Sadar akan kebodohannya yang terlalu lama melamunkan mimpinya semalam.
Tak mau membuang waktu, Arunika bangun dari tidurnya dan bergegas mandi untuk pergi ke sekolah.
Sampai di ruang makan, Ia langsung meminum susu yang sudah dibuat oleh sang Mama, dan memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
"Ma, Pa! Aru berangkat sekolah dulu, Bye!"
"Iya, hati-hati sayang!"
Sehari-hari Arunika berangkat sekolah menggunakan Bus. Alasannya untuk mengurangi polusi udara dan menghindari kemacetan Kota Jakarta yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan pribadi.
Sesampainya di sekolah, dilihatnya sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berlalu lalang di koridor dan beberapa baru datang.
Arunika melirik Arlojinya, waktu menunjukkan pukul 06.30, berarti masih ada waktu 30 menit lagi sampai bel masuk berbunyi. Biasanya Arunika sampai di sekolah pukul 06.50 tetapi karena mimpi aneh itu ia jadi terbangun lebih pagi.
Arunika kini berada di tingkat akhir, yaitu kelas XII. Ia mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial karena tak lain alasannya adalah "gue bego ngitung."
"Pagi!" sapa Arunika dengan senyum manisnya. "Pagi, Ar!" balas teman-temannya. Di kelasnya baru ada tujuh orang yang datang, termasuk si ketua kelas yang sangat teladan.
Arunika mendudukkan diri di kursi kesayangannya. Mengambil sebuah Novel Sejarah di dalam tasnya yang berjudul 'Arus Balik' karya Pramoedya Ananta Toer, Novel ini menceritakan kedatangan Portugis di Bumi Nusantara dengan latar awal Abad XVI, yaitu ketika surutnya pengaruh Kerajaan Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak. Ia melanjutkan bacaannya yang baru sampai halaman 98.
Buku ini baru dibelinya beberapa hari lalu. Tepatnya saat mimpi itu terjadi. Entah kenapa keingintahuan Arunika dengan sejarah menjadi begitu kuat.
Bahkan saat orang tuanya melihat Arunika membeli banyak buku mereka sampai terheran-heran.
"Eh, tumben. Matahari terbit jam segini udah di sekolah?" Tanya Athaya yang baru memasuki kelas bersama Kanya disebelahnya.
Matahari terbit adalah julukan yang disematkan Athaya pada Arunika. Karena nama Arunika berarti matahari terbit, yang merupakan peristiwa di mana sisi teratas matahari muncul di atas horizon di timur.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Are From The Past
FantasíaSemenjak menginjak umur ke-17 Arunika menjadi sering bermimpi tentang kejadian-kejadian lampau, tepatnya saat masa penjajahan. Ia mulai mengalami hal-hal aneh. Seperti fasih tentang sejarah kolonialisme Indonesia, tiba-tiba mendapat gambaran peristi...
