#4 Gadis di Dalam Mimpi

91 26 0
                                        

Kanvas yang masih berwarna putih polos diletakkan di easel. Tidak jauh darinya terletak kuas dan cat yang sudah menjadi senjata Abhra dalam melukis.

Seragam putih abu-abu masih melekat di tubuh Abhra. Seakan-akan ia tidak peduli jika seragamnya itu akan terkena tumpahan cat.

Menjelang lomba Abhra jadi lebih sering menghabiskan waktunya untuk melamun dan memikirkan konsep lukisannya. Sampai ia lupa makan dan mandi.

Abhra mengambil buku sketsa yang ada di dalam tasnya. Membuka halaman di mana terdapat gambar Arabelle.

"Arabelle, apakah kau berkenan jika aku melukismu?" Ujar Abhra seolah-olah sosok Arabelle benar-benar ada di hadapan Abhra.

Kadang Abhra berpikir bahwa dirinya sudah gila, jatuh cinta dengan wanita yang muncul di bunga tidurnya tidaklah masuk akal. Tapi kegilaan terhadap Arabelle adalah kegilaan yang indah.

Abhra memperhatikan setiap goresan yang ia buat pada sketsa Arabelle. Mengamati lekukan bibir, untaian rambut, sorot mata, dan kulit yang halus.

Walau hanya lukisan, tapi rasanya Abhra dapat merasakan kehadiran Arabelle. Abhra dapat merasakan bahwa Arabelle ada di dunia yang sama dengannya, entah di mana, ia akan membiarkan waktu yang menjawabnya.

Abhra sangat yakin bahwa dirinya dan Arabelle terhubung di kehidupan masa lalu. Bahwa ada alasan mengapa Arabelle selalu hadir di dalam mimpi indahnya.

Tiba-tiba saja terlintas di dalam pikiran Abhra judul dari lukisan yang akan ia buat.

"Gadis dalam mimpi"

Ide cemerlang itu langsung ia gambarkan di kanvas. Abhra kembali mencoba mengingat-ingat semua kejadian dalam mimpinya.

Latar tempat sebuah kota ramai bernama Batavia, tahun 1939, dengan rumah bergaya klasikal kolonial seperti rumah-rumah eropa namun dibalut dengan cuaca tropis, senyuman manis dari gadis londo bernama Arabelle. Semua itu tergambar jelas di dalam pikiran Abhra.

Sekarang ia harus menyatukan semuanya di dalam sebuah lukisan.

Bersamaan dengan pikirannya yang melanglang buana, Abhra terus menggoreskan warna-warna yang dipadu padankan dengan indah. Ia melukiskan Arabelle seolah-olah sosoknya sedang ada di depannya.

"Ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, Arabelle," ucap Abhra berbicara pada lukisannya. "Kenapa kau memanggilku Damar? Kenapa bukan Abhra?"

Abhra tahu bahwa pertanyaan tersebut tak akan dijawab oleh benda mati itu. Namun ia tak sanggup lagi menahan semua rasa penasaran yang ada di dalam otaknya. "Siapa sebenarnya Damar? dan siapa sebenarnya dirimu, Arabelle?"

"Kenapa aku selalu memimpikanmu? kenapa di mimpi latar waktunya 1939? kenapa di mimpi itu aku merasa bahwa aku sedang menjalani kehidupan seorang Damar? Kenapa mimpi itu selalu mendatangiku setiap malam?"

Banyak sekali pertanyaan yang berenang-renang di kepala Abhra, ia merasa mimpi itu seperti misteri yang harus segera ia pecahkan. Ia yakin bahwa mimpinya bukan sekedar bunga tidur seperti yang dikatakan Baskara.

Abhra menggoreskan kuasnya ke kanan dan ke kiri, membuat gradasi indah pada rumah Belanda dengan bangku dan meja yang terbuat dari kayu jati di halaman. Arabelle tengah terduduk di bangku itu sembari menikmati teh hangat ditemani dengan beberapa buku bacaan.

"Aku ingat, di mimpi itu kau sangat senang membaca di pagi hari ditemani dengan teh dan buku-buku yang begitu tebal." Ujar Abhra lagi. "Dan entah kenapa, aku yang kau panggil Damar, selalu menyiapkan teh itu untukmu. Teh yang tidak terlalu manis dan harus hangat katamu. Tidak boleh panas atau dingin."

We Are From The PastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang