13. best friend

176 42 17
                                        

—sesuai dengan tawaran Tinus sewaktu itu, padaku. rencana menghabiskan waktu berdua. dihari Sabtu, dan Minggu.

sekarang ini kami berada disalah satu taman hiburan, yang cukup terkenal akan wahana didalamnya. ramai sekali disini. padahal, kami sudah datang lebih awal tadi.

"jangan lepas dari genggaman tanganku nanti, kau hilang ditelan kerumunan pengunjung disini," -peringat Tinus padaku.

"siap!," -balasku membuat gerakan hormat ke arahnya.

"baiklah, ayo kita masuk," -ajaknya menggandeng tangan kiriku.

selain senang dapat menghabiskan waktu liburku berdua dengan, Tinus. aku juga sangat senang sebab, ia mengenakan topi beanie buatanku. kadang, aku sedikit miris kalau melihat ia melepas topi beanie miliknya.

ataupun penutup kepala lain yang ia punya. rasanya seperti, tubuh tinggi dan sifat menyenangkannya harus dipaksa menghilang. rambut tebalnya terganti oleh kepala plontos akibat nefroblastoma, menyebalkan itu.

"jangan melamun begitu, kau mau mencoba wahana apa, Tara?," -panggil Tinus membuat lamunanku buyar.

"ah hehe aku tidak tau, ramai sekali," -balasku beralasan.

"bagaimana dengan membeli permen kapas lebih dulu? sepertinya, kau mau yang satu itu," -ucap Tinus mengikuti arah pandanganku.

aku mengangguk dengan senyum merekah padanya. seperti biasa, ia akan ikut tersenyum kemudian mengusak suraiku. menarikku berjalan didepannya, mengarah ke booth penjual makanan manis dan snack.

"kau mau membeli yang berwarna apa, Tara?," -tanya Tinus padaku.

"aku mau yang merah muda!," -jawabku semangat.

"permintaan diterima! kau tunggu disini saja ya, biar aku yang mengantri," -ucap Tinus padaku.

"jangan nanti, kau lelah," -tolakku menahan lengannya.

"tidak, aku tidak akan lelah. sudah kau duduk dan tunggu disini. biar aku mengantri dan membelinya untukmu. setelah, itu kita mencoba berbagai wahana yang kau mau. mengerti nona?," -ujarnya padaku.

aku hanya mengangguk mendengar ujarannya. kemudian, Tinus berlalu membeli permen kapas untukku. dia terlalu baik menurutku, jujur aku takut ia kelelahan dan kembali jatuh sakit.

ah tidak, tidak. Tinus saja sudah optimis kalau dirinya sembuh. kalau aku memang sahabat baiknya, maka juga harus ikut mendukungnya.

"ini untukmu, nona," -sapa Tinus memberikan setangkai harum manis merah muda cukup besar padaku.

"terima kasih, Tinus!," -balasku mencoba terdengar semangat.

"sama-sama, kalau begitu ayo kita mulai rencana naik wahananya," -ajaknya mengandeng tangan kiriku.

"ayo!," -tanggapku mengikutinya.

























"huh mual sekali," -gumamku turun dari wahana roaller coaster.

pandanganku agak kurang jelas, pening sekali. tubuhku terasa oleng sana sini tidak dapat berdiri tegak. berbeda denganku, Tinus nampak masih semangat layaknya awal datang kemari.

"apa kau tidak mual?," -tanyaku padanya.

"tidak, itu tadi menyenangkan. apa kau mau mencobanya lagi?," -tanggapnya semangat padaku.

"kau sudah gila? jelas, aku akan menolaknya!," -cibirku ke arahnya.

ia terkekeh mendengar cibiranku. aneh sekali orang ini. semakin dicibir malah, makin lebar tawanya.

"baiklah, sebagai penutup acara hari ini. wahana apa yang ingin kau coba?," -tawar Tinus padaku.

"bagaimana dengan carousel? aku mau naik itu saja!," -tanggapku semangat sedikit melompat kesenangan.

"sesuai permintaanmu, ayo kita naik wahana itu!," -timpal Tinus menarik tanganku ke arah wahana carousel.

"yeay!," -ucapku semangat mengikuti langkah panjangnya.

"yeay!," -ucapku semangat mengikuti langkah panjangnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

senang sekali bisa kembali mencoba wahana kesukaaanku. sewaktu aku kecil dulu. mungkin usia lima tahun.

tepat sebelum Ayah kecelakaan. mengakibatkan, kedua fungsi kakinya hilang. aku tersenyum sendu kembali menaiki carousel ini, sambil mengingat memori manis lampau itu.

Tinus yang ada tepat dibelakangku, bersama beberapa orang lain. tersenyum dan berteriak menyerukan namaku. mungkin ia berniat menghiburku.

"apa kau baik saja, Tara?," -tanya Tinus padaku saat turun dari wahana carousel.

"iya, tentu aku baik saja," -bohongku padanya.

"senang mendengarnya, apa kau tidak keberatan untuk menghabiskan waktu bersamaku esok Minggu?," -sambungnya padaku.

"jelas tidak, aku sudah berjanji padamu. tidak mungkin untuk melanggarnya. lagipun sangat menyenangkan, dapat menghabiskan akhir pekan bersamamu Tinus," -tuturku tersenyum ke arahnya.

sepersekian detik, tubuhnya mendekapku. hangat dan nyaman sekali. setelahnya ia berbisik padaku.

"terima kasih banyak, Tara. senang sekali bisa mengenal dan dekat denganmu. doakan aku berusia panjang ya? supaya, dapat menghabiskan waktuku lebih lama denganmu," -jelas Tinus padaku.

lagi, untuk kesekian kalinya aku hanya mengangguk. lidahku kelu dan tenggorokkanku tercekat. setiap mendengar penuturan, Tinus padaku.

"baiklah, sudah petang. ayo kita pulang, besok kita masih punya banyak hal untuk dilakukan. jadi, waktunya untuk berisitirahat sebelum melanjutkan aktivitas besok," -ujarku mencoba mencairkan suasana.

Tinus tersenyum kecil, mengangguk. lalu menggandeng tanganku berjalan keluar area taman hiburan ini. kami, bergegas pulang ke rumah masing-masing.

bus, jadi pilihan kami. sebab, Tinus melarang supir keluarganya untuk mengantar kami berjalan-jalan. janjinya setelah kemoterapi selesai, maka hidup mandirinya kembali dimulai.

Tuhan, aku harap kau berbaik hati untuk mewujudkan harapan hidup sahabatku, Tinus. berilah ia usia lebih panjang lagi. semoga sakit yang ia derita benar sembuh setelah, pengobatan panjang kemarin.

tapi, kalau memang kau lebih sayang pada Tinus. dan ingin segera berkumpul dengannya, tidak apa. kami akan mencoba melepasnya dengan ikhlas.


tbc,

gone days ( hwangshin )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang