"Ketika kamu jatuh cinta, kamu akan lupa masalah tipe idaman, melupakan masalah perbedaan usia dan kamu akan melihatnya sempurna. Walau di mata orang lain dia biasa saja, tapi di matamu dia akan terlihat istimewa."
"Lebih baik sekarang siapa yang duluan maju dan membacakan puisi di depan?" Kanaya mengalihkan pembicaraan.
Saat ini jam mengajarnya di kelas itu memang sudah hampir usai, Kanaya ingin mendengar murid-muridnya membacakan puisi yang mereka buat sendiri. Sebenarnya ini juga salah satu penilaian diam-diam yang dia lakukan untuk memilih pemeran utama dan para pemeran inti lainnya.
"Saya bu," beberapa anak mengangkat tangannya.
Diantaranya adalah Vani, Bianca, Karenina, si raja pantun Gio, si raja gombal Feri, ketua kelas yang selalu aktif dalam segala hal yaitu Tomy, dan ternyata Abigail juga mengangkat tangannya. Dia kembali membuat teman yang lain tercengang, termasuk Kanaya. Pasalnya kenapa sekarang Abigail jadi anak yang rajin dan aktif? Ada apa gerangan? Apakah dia salah makan atau mungkin sedang demam.
"Oke, di mulai dari Vani. Silahkan Vani maju kedepan dan bacakan puisimu." Kanaya akhirnya menunjuk Vani.
Vani kemudian berdiri dari tempat duduknya dan bergegas maju kedepan, dia memulai membacakan puisinya yang berjudul ibu. Puisi yang sangat menyentuh yang dia tujukan pada ibunya yang sudah tiada sejak dia masih kecil.
"Ibu, sosokmu akan selalu terkenang dalam nadiku. Walau ingatan akan wajahmu sudah tidak seperti dulu, perlahan pudar di gilas waktu. Tapi rasa ini masih sama untukmu, terimakasih sudah mau mengantarku. Mengantarku sampai kedunia, dimana engkau mengharapkan aku tumbuh besar dengan penuh cinta."
Vani mengakhiri puisinya dengan setetes air mata yang mengalir di pelupuk matanya. Puisi dari Vani yang di bawakan dengan penuh cinta dari seorang anak yang merindukan ibunya yang sudah berada di surga, mampu membuat Kanaya menitikkan air mata.
Terdengar tepuk tangan meriah dari teman-temannya, mereka merasakan juga perasaan yang ingin Vani sampaikan. Sebuah rindu yang menggebu namun tidak akan berujung temu.
"Puisi yang sangat bagus Vani, silahkan duduk kembali." Kanaya mempersilahkan Vani untuk duduk.
"Selanjutnya, silahkan Feri."
Kini giliran raja gombal yaitu Feri, dia menunjukan kebolehannya dalam sepak terjangnya selama ini dalam merayu perempuan.
"Wahai wanita cantik, sudikah engkau menemaniku sampai ke titik. Titik terakhir dalam hidupku, aku bukanlah arjuna cinta. Aku hanya manusia biasa yang mendambakan kehadiran bidadari surga. Maukah kamu bersamaku mengarungi samudra cinta, yang terbentang luas diatas dunia."
Puisi dari Feri langsung mendapatkan sorakan karena cara pembawaannya yang terkesan alay dan mukanya yang tengil seperti gayanya saat merayu perempuan.
"Oke, selanjutnya. Ini yang terakhir yah soalnya jam ibu sudah mau selesai, jadi siapa yang mau?" Tanya Kanaya.
"Saya bu!" seru Abigail seolah tidak mau kalah dan harus maju hari ini juga. Padahal besok juga ada pelajaran Kanaya lagi dan setiap murid akan berkesempatan maju ke depan untuk membacakan puisi yang mereka buat sendiri. Selain menjadikannya sebagai penilaian tugas, Kanaya juga sekalian menyeleksi siapa saja yang akan menjadi pemain inti dalam drama yang di buat sebagai kolaborasi seni dan bahasa ini.
"Baiklah, silahkan Abigail maju kedepan dan bacakan puisimu." Ujar Kanaya.
"Hidupku tadinya di penuhi warna hitam dan kelabu, sebelum dirimu hadir dan memberikan banyak warna baru. Senyum manismu semanis madu, keceriaanmu mengalahkan hangatnya mentari pagi. Aku pikir tidak ada yang namanya bidadari, sampai akhirnya aku sadari, bahwa dirimu secantik peri. Kau merubah hidup ini, dari kelam menjadi seindah pelangi. Dari malam sunyi menjadi malam penuh bintang, dari awan mendung menjadi cerah kembali. Karena hadirmu seperti matahari yang menyinari bumi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapan nikah?
عاطفيةFollow dulu sebelum baca! Kanaya seorang guru honorer di SMA ternama yang masih betah menjomblo diusianya yang sudah 24 tahun, membuatnya kerap mendapatkan pertanyaan "Kapan Nikah?" Dari orang-orang. Suatu hari dia berurusan dengan dua pria. Pertam...
