32-Ketemu camer? (2)

343 64 3
                                        


"Salah satu momen paling menegangkan adalah saat pertama kali kita akan bertemu dengan orangtua atau keluarga pasangan."

Pagi ini Bagas sudah bangun dan berolahraga pagi, dia memang suka berolahraga setiap pagi di hari libur. Jika biasanya dia sering memilih lembur di kantor, tapi khusus hari ini dia harus libur. Karena hari ini merupakan hari ulangtahun pernikahan mama dan papanya. Kalau sampai dia memilih lembur, bisa-bisa dia di kutuk jadi batu nanti.

Setelah selesai berolahraga Bagas bersiap-siap menjemput Kanaya di rumahnya. Kedua orangtuanya kebetulan sedang berada di ruang keluarga sambil menonton TV dan papanya membaca Koran sembari minum kopi. Mereka langsung berburuk sangka saat melihat Bagas keluar dengan baju rapi sambil memegang kunci mobil di tangannya.

"Bagas, ingat loh. Hari ini ada acara ulangtahun pernikahan mama sama papa. Siangnya kita makan bersama bareng oma dan opa, nanti malam baru deh kita adakan pesta bareng anak-anak perusahaan." Ujar Kanaya.

"Mah, ngapain sih pake segala ngundang karyawan. Jangan lah, gak usah terlalu heboh gitu deh." Protes Bagas.

"Kan maksud mama sama papa ngadain pesta yang lumayan besar biar kamu sekalian cari calon istri. Siapa tau kan, di pesta nanti kamu menemukan calon istri." Usul mamanya.

"Astaghfirullah mah, gak usah begitu juga dong." Kesal Bagas.

"Habisnya kamu belum juga bawa calon." Rajuk mamanya.

Bagas menghela nafasnya, setiap hari yang kedua orangtuanya inginkan adalah Bagas membawa calon menantu kehadapan mereka. Untung saja sekarang Bagas memiliki Kanaya, jadi kupingnya aka terasa lebih aman dari biasanya.

"Ya udah, hari ini Bagas bawakan calon menantu kehadapan kalian." Ujar Bagas santai membuat kedua orangnya tercengang sampai melongo tak percaya. Mereka saling pandang untuk memastikan bahwa mereka tidak salah dengar.

"Papa gak salah denger kan?" tanya papanya.

"Iya bener." Jawab Bagas.

"Kamu sudah punya calon?" pekik mamanya girang.

"Ini Bagas mau jemput." Masih dengan nada tenang, Bagas menjawab semua pertanyaan dari kedua orangtuanya.

"Ini bukan mimpi kan?" saking hebohnya, sang mama mencubit tangan suaminya yang akhirnya mengaduh kesakitan.

"Kok mama buktiinnya dengan cubit papa sih." Rajuk papanya.

"Ternyata benar bukan mimpi, ya sudah buruan kamu bawa kesini." Mama nya malah mengabaikan suaminya yang ngambek, saking senangnya.

"Bagas pamit, Assalamualaikum." Pamit Bagas pada kedua orangtuanya, tak lupa juga dia mencium tangan kedua orangtuanya.

Bagas langsung melajukan mobilnya menuju kerumah Kanaya.

***

Kanaya sudah bersiap-siap, dia sudah memakai baju terbaiknya yang sopan tentunya. Riasannya tipis karena memang sejak dulu, Kanaya tidak bisa dandan. Dan mamanya sudah heboh mendekat-dekatkan kue buatannya dan beberapa bingkisan yang mamanya berikan.

"Mah, ini banyak banget." Kanaya sampai melongo sendiri.

"Ini kue dari mamah, dan ini sisanya dari bapak. Katanya dia juga mau ngasih bingkisan buat mama sama papa nya Bagas." Mama Kanaya memberikan penjelasan.

Kanaya tidak menyangka kalau ternyata bapaknya juga ikut heboh dan antusias, ternyata kemarin saat sang bapak masih di toko. Mama Kanaya menelponnya dan memberitahukan bahwa Kanaya akan pergi kerumah orangtua Bagas karena ada acara ulangtahun pernikahan. Dan bapaknya yang masih berada di toko langsung heboh mencari jajanan serta bingkisan di toko-toko sebelah untuk di bawa Kanaya ke rumah orangtua Bagas.

"Mah, pak. Ini sih kalo di liat-liat udah bukan kaya bingkisan, tapi kaya bawaan mau pulang kampung. Banyak banget asli, apa yang punya Kanaya gak usah di bawa aja." Ujar Kanaya sambil memijat pelipisnya.

"Heh, bawa lah." Ujar mama dan bapaknya secara bersamaan.

"Kan pasti nanti Bagas jemput kamu pake mobil, gak repot juga lah. Tinggal di masukin bagasi mobil apa susahnya." Usul mamanya.

"Hmm, baiklah." Akhirnya Kanaya mengalah saja, kini dia tinggal menunggu kedatangan Bagas. Tadi sih dia sudah mengirim pesan, katanya sudah lagi dijalan.

"Assalamualaikum."

Baru juga dibicarakan, ternyata Bagas sudah sampai. Karena mobilnya bagus, jadi tidak mengeluarkan suara sehingga mereka tidak menyadari bahwa Bagas sudah datang.

"Waalaikumsalam, sini nak masuk dulu." ujar Bapak Kanaya.

"Nak, mulai sekarang kamu memanggil kami dengan panggilan bapak dan mama saja yah, sama seperti Kanaya." Pinta mama Kanaya membuat Kanaya sontak membelalakan matanya saking kagetnya.

"Ih mamah apaan sih?" protes Kanaya.

"Iya mah, pak." Jawab Bagas membuat kedua orangtua Kanaya tersenyum senang.

Sementara Kanaya menatap Bagas dengan kesal, dia tidak mau kalau sampai Bagas mengambil hati kedua orangtuanya terlalu banyak. Kanaya tidak mau kalau nanti sandiwara ini berakhir maka kedua orangtuanya lah yang paling sakit hati.

"Oh iya, ini ada sedikit bingkisan dari bapak sama mama buat orangtua kamu. Katanya mama dan papa kamu sedang merayakan ulangtahun pernikahan yah?" ujar mama Kanaya.

"Ya ampun, mama sama bapak tidak perlu repot-repot seperti ini. Lagi pula acaranya kecil-kecilan saja kok." Bagas merasa tidak enak hati kala melihat banyaknya bingkisan yang di berikan oleh kedua orangtua Kanaya. Bagas menyadari bahwa Kanaya dan keluarganya adalah orang-orang yang baik dan tulus.

"Tidak repot sama sekali kok, ini hanya kue buatan mama tadi pagi. Dan sisanya dari bapak, beberapa jajanan dari toko." Jawab mama Kanaya.

"Bapak dan mama nitip ucapan selamat yah untuk kedua orangtuamu." Kini bapaknya membuka suara.

"Iya, nanti Bagas sampaikan yah pak, mah. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mau repot-repot membuatkan kue segala. Mama sama papa pasti senang menerimanya." Ujar Bagas membuat kedua orangtua Kanaya senang.

"Ya sudah, yuk mas berangkat." Ajak Kanaya.

"Kami pamit dulu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Akhirnya mereka ber dua memasukan bingkisan itu kedalam mobil, dan Bagas melajukan mobilnya menuju kekediamannya. Di sepanjang jalan Kanaya nampak sangat tegang, karena ini pertama kalinya dia menemui orangtua dari pacaranya. Ya, walaupun hanya pacar pura-pura saja tapi tetap saja dia tegang. Selama ini walau beberapa kali pacaran, tapi Kanaya tidak pernah sampai di bawa kerumah atau di kenalkan kekedua orangtua pasangannya. Tentu saja alasannya adalah karena mereka keburu putus.

Kanaya tidak pernah pacaran lebih dari dua bulan, entah mengapa Kanaya merasa bosan dan kurang cocok saja dengan pria-pria yang menjadi kekasihnya dulu. Kalau di hitung-hitung, Kanaya hanya pernah berpacaran tiga kali saja. Dan sisanya hanya sebatas Sebastian (Sebatas teman tanpa kepastian) namun tidak ada yang benar-benar berkesan di hatinya.

"Saya jadi tidak enak sama orangtua kamu, mereka sampai repot-repot begini." Bagas membuka obrolan, karena sejak tadi dia heran melihat Kanaya yang nampaknya tengah gelisah sendiri. Karena biasanya Kanaya pasti banyak bicara dan Bagas yang diam, tapi entah karena alasan apa sehingga saat ini Kanaya terlihat kalem.

"Gapapa mas, mereka malah seneng nyiapinnya." Jawab Kanaya.

"Kamu kenapa Nay?" tanya Bagas yang penasaran.

"Kenapa apanya mas?" Kanaya mengernyitkan alisnya bingung.

"Kenapa diam saja sejak tadi."

"Ya, masa aku di suruh teriak-teriak." Kekeh Kanaya.

"Maksudnya, kamu biasanya kan banyak bicara." Bagas memperjelasnya.

"Oh itu, aku tegang tau mas." Lirih Kanaya membuat Bagas tidak bisa menahan senyum yang akhirnya terbit di bibirnya.

Bagas paham rasanya, karena saat pertama kali dia mengantarkan Kanaya pulang dan bertemu dengan kedua orangtua gadis itu. Bagas juga sangat tegang, tapi setelah bertemu beberapa kali dengan mama dan bapak Kanaya. Dia malah menjadi nyama dengan keluarga Kanaya karena mereka ramah dan baik.

Kapan nikah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang