"Jangan terlalu percaya, bersandar atau berharap kepada manusia. Sejatinya manusia hanya bisa memberikan kecewa.
Percaya, berharap dan bersandar saja pada sang pencipta. Karena tidak mungkin Allah akan mengecewakan kita."
Seketika setelah kepergian Kanaya dengan segala ungkapan isi hatinya, kedua orangtua Kanaya menjadi terdiam. Melihat anak bungsunya sampai menangis sedih seperti itu membuat mereka tidak tega. Mereka jadi sedikit sadar untuk tidak terlalu menekan Kanaya, karena biar bagaimana pun juga Kanaya hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit hati.
"Pak, apa kita sudah keterlaluan pada Kanaya?" Siska bertanya pada suaminya.
"Bapak rasa iya, biarkan Kanaya menenangkan diri. Sebaiknya kita jangan terlalu menekan Kanaya mulai sekarang." Jawab Wijaya.
Mereka merasa bersalah pada anaknya, mereka tidak menyangka bahwa Kanaya akan memiliki pemikiran demikian. Akhirnya kedua orangtuanya membiarkan Kanaya menenangkan diri di kamarnya.
"Hiks.. lagi-lagi semua orang selalu menyudutkan gue, emang salah gue kalau sampai sekarang belum menikah? Emang salah gue kalau jodoh gue belum datang, apa semuanya salah gue karena gue gak bisa langsung sreg aja sama orang. Seolah gue yang terlalu pemilih atau jual mahal, padahal namanya cari pasangan untuk sekali seumur hidup jelas lah harus pemilih." Kanaya menyeka air matanya.
Tanpa terasa dirinya tertidur bahkan saat belum makan, rasa laparnya tertutupi rasa kecewa dan sakit di dadanya mengingat perlakuan orang lain yang disebut keluarga. Bisa-bisanya mereka menggunjing saudaranya sendiri, inilah alasan Kanaya malas dekat dengan orang. Kita memang tidak boleh terlalu berharap pada orang lain, karena manusia tidak boleh di jadikan sandaran. Cukup kita bersandar dan berharap kepada sang pencipta.
***
Pagi ini Kanaya seperti biasa sarapan bersama kedua orangtuanya, namun keadaan terasa jauh lebih canggung dari biasanya. Mungkin karena kejadian kemarin membuat mereka merasa canggung satu sama lain.
"Bapak, Mama. Kanaya pamit berangkat kerja dulu yah, assalamualaikum." Pamit Kanaya sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
"Iya nak, hati-hati dijalan. Waalaikumsalam." Jawab Bapak dan mamanya.
Kanaya berangkat dengan motor matic nya menuju ke sekolah, namun anehnya ternyata Abigail sudah berdiri di sana lagi. Berdiri di tempat kemarin saat muridnya itu menghentikannya dan meminta tebengan ke sekolah.
"Loh, Abigail. Kok kamu ada disini lagi?" tanya Kanaya saat dia menghentikan motornya di depan Abigail yang sedang tersenyum kearahnya.
"Iya bu, hari ini saya nebeng lagi yah?" pinta Abigail memohon.
"Memang rumah saudara kamu yang mana? Siapa namanya?" tanya Kanaya penasaran.
"Itu lah bu, em.. ya itu. Udah yuk bu berangkat, nanti telat ke sekolah." Abigail gelagapan dalam menjawab pertanyaan dari Kanaya, dia malah langsung memutuskan naik kemotor gurunya padahal belum di ijinkan.
Akhirnya Kanaya hanya bisa diam dan melajukan motornya sampai ke sekolah, lagi-lagi banyak siswa-siswi yang heboh melihat Abigail yang berangkat bersama gurunya.
"Besok-besok gak ada tebengan lagi ya Abi, fans kamu jadi menggunjingi ibu loh dari kemarin." Protes Kanaya.
Selama ini memang Kanaya suka memberikan tebengan pada sesame guru atau anak muridnya, dengan catatan searah dengannya. Tapi selama dia memberikan tebengan pada yang lain, respon anak muridnya tidak seheboh seperti saat dirinya memberikan tebengan kepada Abigail. Mungkin karena popularitas dan fans Abigail yang terbilang sangat banyak, dari kelas satu sampai kelas tiga. Bahkan beberapa senior yang sudah kuliah saja banyak yang menjadi fans dari sianak tengil satu itu.
"Loh kenapa pilih kasih sih bu, si Bombom aja boleh kenapa saya gak boleh?" kesal Abigail memprotes larangan dari Kanaya.
"Jelas beda lah, kalau saya memberikan tebengan kepada yang lain tuh respon anak-anak tidak seheboh saat kamu yang nebeng. Kamu tidak tau apa, kemarin saya sampai di gunjingi gatel sama murid sendiri oleh fans kamu." Protes Kanaya yang kemarin tanpa sadar mendengar gunjingan dari siswinya.
"Siapa bu yang berani bilang kaya gitu, biar saya hajar." Kesal Abigail tidak bisa menahan emosinya. Berani sekali mereka mengata-ngatai Kanaya, ingin sekali Abigail memberikan pelajaran pada orang-orang yang berani menjauhkan dirinya dengan Kanaya.
"Hus, jangan begitu. Kan ibu sudah pernah bilang, kamu tidak boleh seperti dulu lagi. Sekarang kamu sudah kelas tiga loh. Focus belajar Abigail, awas saja kalau ibu dengar kamu membuat masalah lagi." Ancam Kanaya.
"Siap bu, demi dirimu apapun akan ku lakukan." Jawab Abigail sambil memberi hormat seperti saat upacara bendera, hal itu membuat Kanaya tertawa.
"Kamu ini."
***
Akhirnya hari outbound pun tiba, mereka pergi menggunakan bus menuju ke Villa yang berada di puncak. Terdapat lima buah bis yang berangkat, nampak sekali para murid Kanaya sangat antusias pergi berlibur sebelum nantinya mereka di sibukkan dengan ujian nasional dan perjuangan memasuki kampus idaman.
"Bus nya ada karaoke nih, tadi Feri sudah bernyanyi. Sekarang siapa lagi yang mau nyanyi?" tanya Kanaya pada kelas yang di bimbingnya.
Ternyata Kanaya kebagian bertanggung jawab di kelas Abigail, dan sisanya di bagi-bagi lagi. Mereka juga ketambahan dua guru lagi yang menjadi pendamping di acara kali ini. Satu guru bertanggungjawab untuk satu kelas. Kanaya berusaha mengakrabkan diri dengan anak-anaknya agar mereka tidak jenuh selama perjalanan.
"Bu, ada lagunya blackpink yang kill this love gak? Kalau ada saya sama Julie mau dong nyanyi lagu itu." Usul Feiza salah satu muridnya yang penyuka K-pop seperti dirinya.
"Ada dong, ibu sudah siapkan hehe." Jawab Kanaya.
Akhirnya kedua muridnya ini membawakan sebuah lagu dari girlband asal korea selatan Black Pink yang berjudul Kill This Love yang sedang booming di masa itu. Bahkan anak-anak tetangga Kanaya di kompleks rumahnya pernah membuat sebuah video cover dance dari lagu itu di lapangan kompleks. Dia melihatnya karena kebetulan sore itu Kanaya habis pulang dari sekolah dan melewati lapangan itu.
Feiza dan Julie membawakan lagu itu sambil menari-nari mengikuti irama lagunya, nampak murid yang lain bersorak dan suasana memang menjadi hangat dan menyenangkan. Setelah selesai membawakan sebuah lagu dari Black pink mereka duduk kembali.
"Ayo siapa lagi yang mau?" Kanaya kembali menawarkan murid yang lain.
"Bu, saya mau deh sama Joni asal ada lagunya jkt48."
Ujar Joni yang merupakan fans dari grup idol yang mengadaptasi konsep jepang dan merupakan sister group dari idol grup tersohor di negeri sakura sana yang bernama AKB48. Idol grup asal Indonesia itu terdiri dari banyak sekali member yang terus beregenerasi setiap tahunnya. Setiap tahun akan ada satu generasi baru, dan generasi yang pertama yang Kanaya tahu adalah rombongan dari melody, nabilah, veranda, Shania dan yang lainnya.
"Bentar yah di download dulu, ada yang mau menyumbang lagu lain?" tanya Kanaya.
"Bu, saya pengin sih nyanyi. Tapi saya mau nyayi lagu pamer bojo, niat nya sih pengin nyanyiin buat Vita anak kelas sebelah. Mantan saya yang sekarang udah punya gebetan baru, padahal pas mutusin saya katanya mau focus ujian dan gak mau pacar-pacaran dulu. Eh taunya udah ada gandengan baru." Ujar Jono sedih.
Teman-teman yang lainnya antara tertawa karena cerita Jono lucu dan dia bisa-bisanya curhat di bus. Tapi disisi lain kasihan juga, namun rasa kasihannya tertutup oleh rasa ingin menertawakan kemalangan si Jono.
"Yaudah lo duet aja Jono, sama si Joni. Lagu pamer bojo nanti pas bagian cendol dawetnya di ganti oi oi oi pake chart nya ala wota." Usul Bondan membuat teman yang lain tertawa.
Ternyata perjalanan kali ini menyenangkan juga, Kanaya sebagai guru merasa senang melihat anak-anaknya gembira. Bayangan masa SMA nya kembali muncul di benak Kanaya. Dulu saat masih sekolah semua terasa menyenangkan, apalagi teman-teman Kanaya gokil-gokil membuat suasana kelas menjadi penuh warna. Andai waktu bisa di ulang, ingin sekali rasanya Kanaya menjadi anak sekolah lagi.
Padahal dulu dia pikir setelah lulus sekolah akan menyenangkan, karena tidak ada lagi yang namanya tugas menumpuk, ulangan dadakan, ujian. Tapi ternyata ujian hidup jauh lebih berat. Dan ternyata masa yang paling indah adalah masa sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapan nikah?
RomanceFollow dulu sebelum baca! Kanaya seorang guru honorer di SMA ternama yang masih betah menjomblo diusianya yang sudah 24 tahun, membuatnya kerap mendapatkan pertanyaan "Kapan Nikah?" Dari orang-orang. Suatu hari dia berurusan dengan dua pria. Pertam...
