""Percayalah, di dunia ini masih ada orang-orang baik. Walau terkadang mereka tertutup oleh orang-orang yang kurang baik.
Jadi kita berfikir kalau orang baik itu langka, jadi kalau kamu susah menemukan orang-orang baik.
Maka jadilah salah satu diantara mereka, jadilah orang baik itu."
"Jadi kamu sudah pernah bertemu orangtua Kanaya?" tanya mamanya kepo.
"Sudah lah mah, ketemu keluarga besarnya saja sudah." Jawab Bagas santai.
"Ya ampun, jadi kapan kita adakan pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan kalian?" mamanya malah tidak sabar ingin segera menikahkan mereka berdua.
"Uhuk.. uhuk.." keduanya tersedak secara bersamaan membuat mama dan papa Bagas saling pandang sambil tersenyum jahil.
"Jodoh tuh, keselek aja bareng gitu." Celetuk papa nya.
Kini giliran Bagas dan Kanaya yang saling pandang dengan tatapan bingung, mereka tidak menyangka kalau orangtua Bagas akan langsung membahas masalah pernikahan di pertemuan pertama mereka. Padahal kan, biasanya orangtua lain harus saling mengenal dulu. Harus saling tahu dulu bibit, bebet dan bobotnya. Lah ini, baru juga bertemu langsung membahas pernikahan.
"Kita mau saling mengenal dulu mah pah." Ujar Bagas.
"Halah, kelamaan. Sembari saling mengenal, mending langsung lakukan pertemuan keluarga. Biar lebih jelas lagi arahnya, kalau nungguin kalian kayanya kelamaan." Ujar papanya tak sabar.
"Ta.. eh mah, pah. Kalian kan belum tau Kanaya dan latar belakang Kanaya serta keluarga Naya. Takutnya nanti kalian kurang setuju, jadi lebih baik saling mengenal saja dulu." ujar Kanaya.
"Ya sudah, kita mulai saja saling mengenalnya dari sekarang. Usia Kanaya saat ini berapa tahun?" tanya mama Bagas.
"24 tahun." Jawab Kanaya.
"Wah, itu usia yang sudah pas untuk menikah bagi seorang gadis." Papanya ikut andil mengompori.
"Kanaya berapa bersaudara?" kini papanya yang mengajukan pertanyaan.
"Dua Pah, Naya punya kakak perempuan bernama kak Leoni. Sekarang dia sudah berkeluarga dan memiliki anak." Jawab Kanaya tanpa ada yang di tutupi.
"Kanaya sekarang bekerja dimana?" tanya mama Bagas.
Inilah pertanyaan yang Kanaya tunggu, dia sedikit punya keyakinan kalau orangtua Bagas tau tentang pekerjaannya pasti dirinya akan di tentang oleh mereka. Dan kemungkinan mereka akan berhenti terlalu memaksa Bagas dan Kanaya untuk segera menikah.
"Kanaya sekarang bekerja sebagai guru honorer, di sebuah sekolah menengah atas." Jawab Kanaya jujur.
"Wah, mulia sekali. Pekerjaan menjadi guru itu adalah pekerjaan yang mulia." Di luar dugaan Kanaya, justru mereka malah nampak biasa saja setelah mendengar pekerjaanya yang tidak sebanding dengan putra mereka.
"Iya Kanaya, dulu mama juga teringin menjadi guru. Tapi tidak kesampaian, karena orangtua mama penginnya mama kuliah jurusan managemen bisnis. Tapi berkat hal itu, mama sama papa jadi bertemu dan akhirnya menikah." Mama Bagas mengingat kembali kenangan masa mudanya, mereka berdua nampak sangat harmonis dan saling berbagi cinta.
Sejujurnya Kanaya iri melihat orangtuanya dan orangtua Bagas, mereka begitu beruntung memiliki satu sama lain. Suka duka di lalui bersama, bahkan setia sampai tua. Miris rasanya melihat beberapa kenalan Kanaya yang nikah muda lalu bercerai. Dia tau tidak semua pernikahan dini itu berakhir kandas, tergantung dari masing-masing individunya.
Tapi Kanaya jadi merasa takut saat melihat kegagalan dari orang-orang di sekitarnya atau bahkan teman-temannya sendiri. Kanaya hanya berharap, bisa membangun rumah tangga sekali seumur hidup. Saling mengerti dan melengkapi, saling setia sehingga ketika banyak badai menerpa bisa mereka atasi bersama. Dia iri pada pasangan-pasangan yang sudah paruh baya tapi masih mesra dan saling setia.
Tanpa disadari mata Kanaya berkaca-kaca, ternyata masih ada keluarga baik walau mereka kaya. Yang Kanaya takutkan adalah di pandang rendah atau bahkan sampai dihina. Karena dirinya tidak selevel dengan mereka, tapi ternyata mereka berbeda.
"Loh, kenapa kamu berkaca-kaca Nay?" tanya mama Bagas yang melihat mata Kanaya berair.
"Eh, em gapapa mah. I-ini kelilipan." Bohong Kanaya.
"Oh iya, sampai lupa. Ini hadiah dari Naya buat mamah sama papa, dan ini sedikit bingkisan yang tidak seberapa." Ujar Kanaya sambil memberikan kado dan bingkisan yang di bawanya.
"Ya ampun, kamu repot-repot banget sih Naya. Mama sama Papa kamu saja udah kasih bingkisan, ternyata kamu kasih juga." Ujar mama Bagas terharu.
"Gak seberapa kok mah, Kanaya juga gak tau itu sesuai sama kalian atau enggak." Ujar Kanaya.
"Terimakasih banyak loh nak." Kini papa Bagas yang mengucapkan terimakasih.
"Oh iya, kalau mama kamu bekerja atau mungkin sebagai ibu rumah tangga?" tanya mama Bagas.
"Ibu rumah tangga, mah." Jawab Kanaya.
"Kalau Papa kamu?" kini Papa Bagas yang bertanya.
"Bapak mengelola toko kecil-kecilan." Jawab Kanaya.
"Wah, kapan-kapan Papa mampir deh ke toko bapak kamu." Ujar Papa Bagas antusias, sebenarnya tujuannya adalah ingin bertemu secara langsung dengan calon besannya.
"Iya, boleh Pah." Jawab Kanaya.
"Ya sudah, mama sama papa tinggal keatas dulu yah ganti baju. Makan siang sudah disiapkan oleh bibi, oma sama opa tadi telepon katanya gak bisa kesini. Jadi kita makan berempat saja ya." Pamit mama Bagas.
"Nay, saya pergi kekamar sebentar yah." Pamit Bagas.
"Iya mas, jangan lama-lama ya."
"Iya."
Akhirnya Bagas mengikuti Papa dan mamanya yang hendak masuk ke kamar, padahal mereka berniat berdiskusi tentang baiknya mempercepat lamaran kerumah Kanaya. Tapi ternyata Bagas malah mengikuti mereka berdua.
"Kok kamu malah ikut kesini sih?" tegur mama Bagas.
"Tau ini anak, kasihan kan pacar kamu di tinggal sendirian. Bukannya di temenin malah ngintilin orangtua kekamar." Omel Papanya.
Bagas hanya menghela nafasnya saat mendengar omelan dari kedua orangtuanya, dia ada sesuatu yang ingin di sampaikan pada kedua orangtuanya. Maka dari itu Bagas sampai mengikuti mereka masuk kedalam kamar.
"Mah, Pah. Saya ada hal penting yang ingin di sampaikan." Ujar Bagas dengan nada bicara dan tampang yang serius.
"Apa?"
"Kalian jangan bilang kalau Bagas itu pemilik sekaligus pemimpin perusahaan CV Makmur Jaya Abadi. Karena Kanaya dan keluarganya taunya Bagas hanya bekerja disana. Dan nanti bilang yah, kalau rumah ini itu fasilitas dari kantor. Soalnya Bagas udah terlanjur bilang kalau mobil yang Bagas pakai juga merupakan fasilitas dari kantor." Ujar Bagas.
Perkataan dari Bagas membuat kedua orangtuanya melongo tidak percaya, bagaimana bisa putra semata wayang mereka bisa memikirkan kebohongan seperti itu. Padahal kebanyakan orang lain berbohong sebagai anak orang kaya atau pengusaha sukses. Tapi Bagas malah sebaliknya, tapi yang sangat di sayangkan oleh orangtuanya adalah kebohongan Bagas pada pacarnya sendiri. Tidak hanya itu, tapi Bagas juga berbohong pada orangtua dari pacarnya. Biasanya pria akan mati-matian terlihat keren, mapan dan sukses di depan calon mertuanya. Tapi Bagas malah berbohong dan merendah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapan nikah?
RomanceFollow dulu sebelum baca! Kanaya seorang guru honorer di SMA ternama yang masih betah menjomblo diusianya yang sudah 24 tahun, membuatnya kerap mendapatkan pertanyaan "Kapan Nikah?" Dari orang-orang. Suatu hari dia berurusan dengan dua pria. Pertam...
