33-Ketemu camer? (3)

345 62 8
                                        


"Jangan di biasakan berfikir negative yah, karena kalian yang akan rugi dan lelah sendiri.

Berperang dengan batin kalian sendiri dengan segala kemungkinan yang belum tentu benar adanya."

"Kamu tegang kenapa? Orangtua saya tidak akan menggigit kok, jadi kamu tenang saja." Gurau Bagas.

Sunggung dia tidak kuat menahan tawanya saat melihat raut wajah tegang milik Kanaya. Terlihat gadis yang biasanya ceria dan blak-blakan, tiba-tiba berubah kalem dengan wajah yang tegang. Ingin rasanya Bagas menjahili Kanaya, tapi dia urungkan niatnya. Takut Kanaya akan ngambek nantinya, kan Bagas akan repot sendiri kalau itu terjadi.

"Iya lah tau kalau mereka gak akan gigit, kan mereka bukan kanibal." Ujar Kanaya dengan tatapan kesal membuat Bagas semakin tidak kuat menahan senyumnya.

"Ya sudah, kamu jangan tegang begitu."

"Mas, gimana aku gak tegang coba. Ini pertama kalinya aku ketemu sama orangtua pacar aku, ya walau kita cuma pacar pura-pura. Gimana kalau nanti orangtua mas gak suka sama Naya? Terus kaya di sinetron-sinetron gitu. Memang bagus sih, biar bisa jadi alasan nanti kita pas putus. Tapi tetep aja aku pasti sakit hati lah kalau nanti kaya di sinetron." Celetuk Kanaya.

Bagas sudah tidak kuat lagi menahan gelak tawanya, akhirnya dia tertawa kencang didalam mobilnya akibat ulah Kanaya yang drama banget menurutnya. Sampai kepikiran pertemuan dengan calon mertua bak di sinetron.

"Kamu ini, Haha.. orangtua saya itu tidak seperti mertua yang ada di sinetron, mereka baik kok. Bahkan mereka yang paling ngotot soal pasangan." Bagas mencoba sedikit menghibur Kanaya yang sudah ciut duluan.

"Tapi kan, bisa aja orangtua mas gak setuju sama aku. Bisa aja nanti mereka sinis ke aku karena aku gak cantik, aku juga gak kaya, apalagi kalau nanti ditanyai pekerjaan. Aku kan masih guru honorer dengan gaji yang tidak seberapa, sementara mas Bagas sendiri bekerja di perusahaan besar. Gimana kalau nanti saya langsung diusir?" Kanaya masih terhanyut oleh gambaran mertua yang selama ini tertanam di benaknya akibat sinetron yang ada di chanel ikan terbang yang biasanya di tonton oleh mamanya.

"Kebanyakan nonton sinetron nih kamu, kurang-kurangin." Tegur Bagas.

Kanaya memanyunkan bibirnya kesal, sedari tadi dia tidak ada hentinya memainkan jadi-jari dan kukunya. Memang kalau sedang tegang, Kanaya akan memainkan kukunya dan jari tangannya.

Tak terasa, kini akhirnya Bagas telah sampai di kediaman kedua orangtuanya. Bagas memasuki halaman rumahnya saat satpam dirumahnya membukakan gerbang. Kanaya mebelalakan matanya kaget saat mereka sampai di halaman rumah Bagas. Nampak disana berdiri sebuah rumah yang mewah bertingkat dua, rumah dengan gaya modern yang berlantai dua itu nampak seperti rumah di FTV yang biasa di tonton mama Kanaya.

"I-ini rumah mas Bagas?" tanya Kanaya tergagap.

"Bukan, ini rumah orangtuaku." Jawab Bagas santai.

"M-mas, aku jadi makin takut." Keluh Kanaya.

"Ya ampun Naya, udah ayo buruan." Bagas memegang tangan Kanaya dan sedikit menariknya agar dia mau keluar.

Kanaya menarik napasnya dalam-dalam, dia mencoba menenangkan hatinya yang sudah tidak karuan dengan segala pemikiran negative yang bersarang di kepalanya. Akhirnya Kanaya dan Bagas masuk kedalam rumah sambil masing-masing menenteng bingkisan. Kanaya membawa bingkisan dan kado miliknya, sementaraa Bagas membawa bingkisan dari mama dan bapak Kanaya.

"Assalamualaikum." Keduanya mengucapkan salam sebelum masuk kedalam rumah.

"Waalaikumsalam." Mama Bagas yang sedang berada diruang keluarga dan mendengar suara putranya, serta suara dari seorang gadis langsung antusias keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Sejak tadi dia dan suaminya saling berdiskusi mengenai perkataan Bagas yang menyebutkan akan membawa calon istri kehadapan mereka. Keduanya sejak tadi masih belum terlalu yakin, tapi mereka tidak berhenti berharap kalau Bagas benar-benar akan membawa calon menantu kehadapan mereka.

Saking senangnya saat melihat Bagas datang dengan seorang gadis, mamanya sampai terdiam mematung. Hal itu membuat Kanaya semakin cemas, dia bertambah takut saat melihat rumah Bagas yang mewah ini. Yang artinya keluarga mereka berasal dari orang yang berada, sedangkan Kanaya rasanya sudah seperti upik abu yang jelek dan tidak memiliki apapun yang bisa di banggakan.

"Mah, kok bengong sih? Perkenalkan, ini Kanaya. Pacarnya Bagas." Bagas memperkenalkan Kanaya pada mamanya yang masih diam mematung sambil menatap mereka berdua.

"Ya ampun, jadi benar nak. Kamu beneran pacarnya Bagas?" tanya sang mama memastikan.

"I-iya tante." Jawab Kanaya gugup.

"Sini masuk." Ajak mama Bagas dengan ramahnya.

Kanaya bisa menghela napas tenang, sepertinya mama Bagas adalah orang yang baik. Bukan jenis ibu-ibu sosialita yang sombong dan merendahkan orang lain. Teman Kanaya dulu pernah berpacaran dengan salah satu anak orangkaya di kampusnya. Tapi ternyata keluarga pacarnya kurang setuju, karena teman Kanaya sama sepetinya yang berasal dari ekonomi menengah kebawah.

Dan orangtua dari pacar temannya Kanaya sangat menentang keras hubungan itu. Apalagi ibunya yang gayanya ala ibu-ibu sosialita masa kini, dia sangat merendahkan teman Kanaya sehingga pada akhirnya temannya memutuskan untuk putus hubungan dengan pacarnya itu.

Kanaya sebenarnya tidak masalah jika tidak di setujui oleh orangtua Bagas, toh mereka juga pacaran hanya berpura-pura saja. Dan justru hal itu bagus juga karena bisa di jadikan alasan putusnya mereka nanti saat mereka memutuskan mengakhiri sandiwara ini. Hanya saja, Kanaya tidak siap hati jika harus di hina dan direndahkan. Tapi untunglah, karena sepertinya mama Bagas adalah orang yang baik.

"Ayo nak sini, duduk dulu." Mama dari Bagas menyuruh Kanaya dan Bagas untuk duduk di ruang tamu.

Papa Bagas yang baru keluar dari kamar mandi pun kaget melihat Bagas tengah duduk bersama dengan seorang gadis di sebelahnya. Mungkinkah benar bahwa Bagas kini sudah memiliki kekasih hati?

"Kita ulangi kenalannnya yah nak. Perkenalkan tante mamanya Bagas, dan ini papanya Bagas. Kamu panggil kita mama sama papa saja yah biar akrab." Ujar sang mama antusias.

Bagas hanya tersenyum, dia sudah tau respon dari kedua orangtuanya saat dirinya memperkenalkan Kanaya. Dia semakin tersenyum lebar saat melihat ekspresi cengo dari Kanaya saat mamanya meminta dirinya memanggil mereka dengan mama dan papa.

"Nak, kamu gapapa?" tanya papa Bagas.

"I-iya om." Jawab Kanaya tergagap.

"Loh, tadi kan mama udah bilang. Panggil nya santai saja nak." Ujar mama Bagas.

"I-iya mah, p-pah." Kanaya benar-benar kaku kala mengikuti permintaan dari kedua orangtua Bagas.

"Kamu namanya siapa?" tanya papa Bagas.

"Nama saya Kanaya om eh p-pah." Jawab Kanaya yang masih belum terbiasa.

"Wah nama yang indah, sudah berapa lama kamu dan Bagas berpacaran?" papa Bagas nampaknya lebih kepo dari mamanya.

"Belum lama pah, baru sekitar semingguan." Jawab Kanaya.

"Wah, baru dong yah. Kalian kenal dimana?" kini mamanya ikut kepo.

"Di bandung, kebetulan saat itu sama-sama sedang ada urusan disana." Kanaya menjelaskan.

"Mah, nanti lagi introgasinya. Ini ada bingkisan dari mama sama bapaknya Kanaya. Mama Kanaya bikin kue sendiri tadi pagi, katanya buat mama sama papa. Mereka juga menitip salam dan mengucapkan selamat untuk ulangtahun pernikahan mama sama papa." Bagas menyampaikan amanah dari kedua orangtua Kanaya.

Nampak kedua orangtua Bagas saling pandang dan senyum-senyum sendiri.

Kapan nikah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang