"Cinta bisa merubah segalanya, seperti mengubah bongkahan es batu menjadi air yang hangat."
"Pah, carikan Abigail guru ngaji."
Abigail mengejutkan orangtuanya saat dirinya tengah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Bahkan papanya sampai tersedak karena perkataan dari putra tunggalnya.
"Kamu mau ngaji lagi?" Tanya sang mama memastikan.
"Iya, dulu waktu kecil kan Abigail rajin ngaji. Tapi pas udah agak besar aku berubah nakal, aku mau mengulang pelajaran mengajinya biar bisa jadi anak sholeh." Ujar Abigail.
"Abigail, kamu gak kebentur sesuatu kan? Atau kamu sedang sakit. Cerita sama kami, kamu ada keluhan apa, jangan memendam semuanya sendiri." Papa Abigail malah memikirkan hal yang negative saat putranya yang badung tiba-tiba berubah.
"Apaan sih papa, aku gak sakit. Aku hanya teringin lebih lagi mendalami ilmu agama." Ujar Abigail.
Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya papa Abigail mencarikan guru mengaji untuk putranya yang katanya ingin lebih mendalami ilmu agama. Antara senang dan bingung, mamanya bangga dengan perubahan sang putra yang kini menjadi lebih baik lagi.
"Mah, pah Abigail berangkat sekolah dulu. Aku di anter sama Pak Udin yah." Pamit Abigail sambil mencium tangan kedua orangtaunya, padahal biasanya dia jarang sekali berpamitan. Bangun saja sering kesiangan, tidak sarapan dan langsung pergi.
"Kok buru-buru banget sih Abigail, ini masih jam berapa coba." Mama Abigail melirik jam tangannya yang baru menunjukan pukul 06:05 WIB.
"Gapapa, aku pergi dulu. Assalamualaikum." Bahkan kini Abigail mengucapkan salam, padahal sering kali Abigail pergi tanpa pamitan apalagi mengucap salam. Walau sering kali di tegur oleh kedua orangtuanya karena hal itu, tapi Abigail tetap saja bandel.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka bersamaan. Mama dan papa Abigail sampai bengong sambil memandangi kepergian putranya.
Abigail berangkat kesekolah diantarkan oleh supir keluarganya, padahal biasanya dia membawa motor atau mobil sendiri. Tapi kali ini dia mempunyai rencana sendiri.
Ternyata Abigail turun di dekat rumah Kanaya, dia sengaja menunggu di pinggir jalan sembari menunggu Kanaya lewat. Abigail bahkan menyuruh supirnya untuk pulang dan dia melarang supirnya memberitahu orangtuanya tentang hal ini.
Abigail sengaja ingin nebeng pada Kanaya, sehingga saat motor Kanaya lewat dia langsung menghentikannya.
"Loh kok kamu bisa ada di sekitar sini Abigail? Setau ibu rumah kamu bukan di daerah ini." Tanya Kanaya penasaran.
"Iya bu, soalnya aku nginep di rumah saudara di deket sini. Tapi nunggu angkutan umum gak ada mulu, jadi boleh gak saya nebeng." Abigail sengaja berbohong demi ingin lebih dekat dengan Kanaya.
"Kamu gak bawa kendaraan sendiri?" Tanya Kanaya.
"Lagi di bengkel bu." Jawab Abigail lagi berbohong.
"Ya sudah, ayo naik." Kanaya akhirnya memberikan tumpangan pada anak muridnya itu.
Dengan wajah cerahnya Abigail langsung naik ke jok belakang motor Kanaya, entah mengapa jantungnya berdebar-debar dan bibirnya tidak bisa menghentikan sunggingan senyum bahagianya itu.
"Bagaimana kemarin survey lokasinya bu?" Tanya Abigail.
Dia berusaha sebanyak mungkin berinteraksi dengan Kanaya, ternyata pdkt pada guru sendiri itu sangat susah karena mencari topic pendekatannya harus ekstra mikir keras.
"Alhamdulilah berjalan lancar, ibu dengar Villa yang akan di pakai adalah milik ayah kamu?" Tanya Kanaya.
"Iya bu, saya beberapa kali pernah kesana saat liburan." Jawab Abigail.
"Tempatnya bagus, ibu rasa sangat sesuai untuk kegiatan besok. Pemandangan alamnya sangat menyejuk kan hati, ibu rasa acara reflesing ini akan menyenangkan." Puji Kanaya jujur, dia suka dengan keindahan alamnya bahkan masih ingin berlama-lama disana. Tapi apalah daya, dia bisa pergi saja hanya karena tugas kerjaan. Tapi dia ingin kesana lagi untuk berlibur, hanya saja Kanaya bingung mau mengajak siapa. Fera kan sudah mau menikah, sementara temannya yang sama-sama belum menikah juga sibuk bekerja.
"Kalau ibu suka, kapan-kapan liburan kesana. Bilang aja sama saya, nanti gratis deh gak disuruh bayar." Ujar Abigail.
"Haha kamu ini, nanti saya di tuntut karena KKN dan memanfaatkan murid sendiri lagi." Gelak tawa Kanaya memang sangat renyah, bahkan seperti bisa menular kehangatannya.
"Ya gak lah bu, saya serius." Ujar Abigail.
"Kamu sudah kelas tiga loh Abi, kamu harus rajin belajar dan berhenti membuat masalah." Kanaya memberikan nasehat pada anak didiknya.
"Iya bu, saya akan rajin belajar dan berubah jadi anak yang baik demi ibu." Ujar Abigail semangat.
"Loh kok demi saya? Jangan dong. Harus demi diri kamu sendiri, demi masa depan kamu dan demi orangtua kamu." Ujar Kanaya.
"Kan masa depan saya adalah ibu Kanaya." Ujar Abi yang hanya di tanggapi dengan gelak tawa. Kanaya tidak pernah menganggap serius gombalan-gombalan yang di lontarkan oleh murid-muridnya, karena dia tahu mereka bercanda. Dan Kanaya juga orangnya suka bercanda, jadi dia selalu santai saja.
"Saya serius loh bu, kalau ibu mau berlibur kesana bilang saja sama saya. Sumpah deh gratis tapi cuma buat Bu Kanaya doang."
Kanaya hanya tertawa menanggapinya, dia tidak mau aji mumpung dan memanfaatkan oranglain atau keadaan. Tak terasa mereka sudah sampai di gerbang sekolah, Abigail merasa kecewa karena rasanya mereka cepat sekali sampainya. Padahal Abigail masih ingin berlama-lama berdua dengan Kanaya.
Teman-teman Abigail yang sedang nongkrong di parkiran kaget saat melihat temannya di bonceng oleh Bu Kanaya. Abigail malah sengaja melambaikan tangannya dengan cengiran bak anak kecil yang sedang pamer pada temannya.
"Loh kok si Abigail bisa di bonceng sama Bu Kanaya sih?" pekik Aji.
Teman-teman yang lain juga merasa aneh dengan pemandangan itu, bahkan beberapa siswi yang menyukai Abigail juga ikut kaget melihatnya. Mereka juga merasa iri pada Kanaya, yang bisa dekat dengan Abigail. Padahal sejak dulu Abigail tidak pernah dekat dengan guru manapun.
"Terimakasih ya bu, kapan-kapan saya boleh nebeng lagi ya bu." Pinta Abigail setelah mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Iya sama-sama Abi, tidak apa-apa nebeng lagi, asalkan searah dan memang kondisinya membutuhkan bantuan." Ujar Kanaya.
"Iya bu, siap."
"Ya, sudah. Saya masuk dulu, kamu juga sebaiknya langsung masuk kelas. Di bandingkan nongkrong-nongkrong tidak jelas begitu." Walau pun Kanaya belum lama mengajar disana dan statusnya masih guru honorer, tapi dirinya tidak takut bertindak tegas pada murid-muridnya. Mau itu murid yang nakal atau anak dari pemilik sekolah sekalipun, jika salah tentu akan Kanaya tegur atau marahi.
"Baik bu, saya akan langsung masuk kelas." Jawab Abigail ramah, padahal dia tidak pernah seramah itu pada guru lainnya.
Karena Abigail terkenal cuek, pendiam dan dingin oleh guru yang lain. Beberapa guru senior Kanaya bahkan salut padanya, karena sejak dulu berani pada anak badung. Padahal beberapa guru senior ada yang tidak berani menegur Abigail karena sifat Abigail dan statusnya yang merupakan anak pemilik sekolah yang sangat di manjakan oleh orangtuanya.
Setelah kepergian Kanaya, teman-teman Abigail langsung menghampiri dirinya. Dengan penuh rasa penasaran mereka bertanya pada Abigail untuk meminta penjelasan mengapa dia sampai bisa berangkat bersama Bu Kanaya. Padahal jelas-jelas rumah mereka berlainan arah.
"Abigail, kok lo bisa nebeng sama Bu Kanaya sih?" Juna mulai mengintrogasinya.
"Iya nih, padahal rumah kalian kan gak searah." Niko juga ikut-ikutan.
"Kalian mau tau yah?" goda Abigail, padahal biasanya dia tidak begitu.
Niko merasa cinta sudah merubah seluruh tatanan isi kepala seorang Abigail.
"Iya lah, buruan kasih tau." Herman sangat tidak sabar.
"Mau tau banget apa mau tau aja?" goda Abigail lagi.
Memang benar yah kalau orang kesemsem hatinya, otaknya jadi ikut konslet. Abigail yang dulunya dingin dan jarang bercanda begini, sekarang malah jadi begini keadaanya. Pikir teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapan nikah?
RomansaFollow dulu sebelum baca! Kanaya seorang guru honorer di SMA ternama yang masih betah menjomblo diusianya yang sudah 24 tahun, membuatnya kerap mendapatkan pertanyaan "Kapan Nikah?" Dari orang-orang. Suatu hari dia berurusan dengan dua pria. Pertam...
