30-Cinta sama seperti micin

324 62 3
                                        


"Cinta itu seperti micin, kalau terkena mata bisa membuat buta, kalau kebanyakan di konsumsi bisa membuat orang menjadi bodoh."

"Abigail, ibu senang mendengar kamu sekarang sudah berubah menjadi anak yang lebih baik. Ibu yakin, kedua orangtuamu pasti bangga melihat kamu yang sekarang. Pertahankan terus yah, jangan kembali kejalan yang salah." Nasehat Kanaya.

"Siap bu." Jawab Abigail.

"Oh iya bu, sambil menunggu pesanan gimana kalau kita ngobrol-ngobrol masalah pribadi." Ajak Abigail.

"Boleh saja."

"Bu, misalkan nih yah. Ada murid ibu yang suka sama ibu, dan mengajak ibu untuk menikah. Pendapat ibu bagaimana?" tanya Abigail mencoba mengorek informasi.

"Ya jelas saya tolak." Jawab Kanaya langsung dan tegas tanpa berfikir dulu.

"Loh kenapa bu? Kalau dia benar-benar serius sama ibu dan serius ingin membangun rumah tangga bersama. Apa ibu tidak mau mempertimbangkannya?" Abigail sangat kecewa dengan jawaban dari Kanaya yang langsung menolak tanpa di pikirkan dulu.

"Jelas yang pertama karena usia, yang kedua dia kan murid saya jadi masa saya menikahi anak di bawah umur dan murid sendiri. Apa kata orang nanti, bisa-bisa saya di tuntut karena mengekspoitasi anak."

"Alasan kedua karena saya mencari suami yang sudah dewasa, dalam artian dia jauh lebih dewasa dari saya dalam pemikiran. Kalau saya menikahi ABG, jelas sifatnya masih labil dan kekanakan. Dia pasti masih mau main dan bersenang-senang, kemungkinan besar nantinya saya seperti sedang momong anak kecil. Pasti saya yang harus sering mengalah dan bersabar, padahal saya ingin suami yang dewasa, sabar dan bisa menjadi tempat saya bermanja." Lanjut Kanaya lagi.

"Alasan ketiga, banyak hubungan menikah muda yang kandas di tengah jalan. Apalagi kalau si pria yang jauh lebih muda dari sang wanita. Saya hanya mau menikah sekali seumur hidup, saya tidak mau menjadi pengasuh untuk anak yang belum matang karena rumah tangga bukan bahan percobaan." Sambungnya lagi.

"Yang keempat jelas masalah nafkah dan tanggungjawab, sebagai seorang suami tentu dia harus punya kewajiban menafkahi istrinya. Dan bertanggungjawab membimbing sang istri menjadi lebih baik lagi. Kalau dia saja masih berondong, mau nafkahin saya pake apa? Uang orangtuanya? Nafkah itu harusnya dari suami, bukan dari orangtua."

"Dan yang terakhir pasti dari restu orangtua, entah keluarga dia atau keluarga saya. Alasannya tentu karena perbedaan usia tadi. Keluarga dia dan keluarga saya pasti akan sangat menentang keras, saya yakin itu. Apalagi komentar-komentar miring yang akan di berikan oleh masyarakat nantinya." Tegas Kanaya.

Abigail mendengarkan dengan seksama, berarti dia harus ekstra berjuang demi bisa mendapatkan Kanaya. Dia harus bisa menjadi sosok suami yang baik dan menjadi sosok yang Kanaya inginkan.

"Bu, kalau misalkan nantinya ada berondong yang memenuhi semua kualifikasi ibu gimana? Kan gak semua berondong itu labil, contohnya saudara saya yang namanya bang Brandon. Walau tingkahnya sejak dulu slengekan, tapi dia mampu menjadi sosok suami dan ayah yang baik untuk istrinya. Bahkan perbedaan usia dia dan kak Sonya istrinya itu adalah tujuh tahun loh. Tapi saudara saya mampu menjadi suami yang baik, sabar, dewasa, pengertian dan bertanggungjawab. Cinta kan tidak pandang usia bu." Ujar Abigail.

"Entahlah Abi, tapi saya maunya yang pasti-pasti saja. Begini, terkadang ada juga yang seperti mati-matian berjuang dan berubah menjadi baik saat jatuh cinta pada seseorang. Apalagi di usia yang masih muda, namun seperti yang saya bilang tadi. Usia yang masih muda itu masih sangat labil. Mungkin dia bisa menjadi sosok seperti yang saya bilang tadi, tapi itu semua tidak menjamin dia tidak akan berubah setelah berhasil mencapai tujuannya. Lambat laun karena kelabilannya yang belum stabil, yang namanya berubah menjadi kekanakan sesuai umurnya pasti akan terjadi." Jawab Kanaya.

Abigail menghela nafasnya pasrah, dia tau dia tidak akan menang mendebat Kanaya dengan segala presepsinya. Saat ini Abigail hanya menerima segala presepsi Kanaya, karena mendebatnya hanya akan menjadikan suasana tidak kondusif. Dia sedikit banyak belajar dari saudaranya, yaitu Brandon.

Dia memang menjadikan Brandon sebagai panutannya dalam mengejar cinta. Sesuai saran dari pengalaman Brandon, mengejar wanita yang jauh lebih tua itu haruslah sangat sabar. Perlahan tapi pasti, kita harus membuat diri kita layak dulu baru bisa mengejarnya dengan terbuka. Saat ini focusnya adalah memperbaiki diri dan menjadi orang yang lebih baik lagi, barulah dia bisa mengejar Kanaya dengan penuh percaya diri. Seperti yang abang sepupunya lakukan dulu, dan ternyata kesabarannya membuahkan hasil karena gadis pujaan abang sepupunya itu akhirnya kini menjadi istrinya. Bahkan mereka sudah di karuniai seorang putri kecil yang menggemaskan.

Mang ujang datang sambil membawakan pesanan mereka yang sudah siap, dua porsi sate ayam dan lontong. Ini merupakan salah satu tempat favorit Kanaya, dan salah satu makanan favoritnya juga.

"Ini neng satenya, minumnya mau apa?" tanya mang Ujang.

"Es teh manis saja, kalau kamu mau minum apa Abigail?" Tanya Kanaya.

"Samain aja." Jawab Abigail.

Mang ujang akhirnya kembali untuk membuatkan dua gelas besar es teh manis untuk Kanaya dan Abigail. Abigail sedik ragu-ragu untuk memakan makanannya, dia baru pertama kali makan di pinggir jalan seperti ini. Namun saat memakan satu tusuk sate, ternyata rasanya enak juga. Tanpa sadar Abigail memakannya dengan lahap.

"Bagaimana rasanya?" tanya Kanaya.

"Wah, ternyata enak yah. Lain kali ajakin saya makan disini lagi dong bu, kalau sendirian saya gak berani. Mau ngajakin teman-teman juga mereka tidak akan mau, ibu tau sendiri kan." pinta Abigail memohon.

"Baiklah, kalau ada waktu nanti kita makan disini lagi." Akhirnya Kanaya mengiyakan.

Abigail senang mendengar jawaban dari Kanaya, dia tidak masalah mau makan dimana saja asalkan bersama dengan Kanaya rasanya segala tempat jadi menyenangkan dan segala makanan terasa lebih enak. Mungkin memang benar, cinta itu membutakan segalanya.

Tak terasa mereka telah menghabiskan makanan dan minuman yang ada, Abigail yang selalu makan pilih-pilih dan jarang memakan sesuatu dengan lahap. Akhirnya kini dia bisa menghabiskan seporsi sate dengan lontong, sungguh rasanya kenyang sekali. Kemudian dia bergegas membayar sate miliknya dengan milik Kanaya baik yang di makan maupun di bawa pulang. Mumpung Kanaya sedang memasukan kantong plastic berisi sate nya dan ponselnya kedalam tas.

"Pak berapa semuanya, sama punya Bu Kanaya juga." Tanya Abigail pelan, seperti berbisik. Karena dia tidak mau kalau sampai Kanaya dengar.

"Semuanya jadi tujuh puluh ribu nak." Jawab sang penjual sate.

"Ini, kembaliannya buat bapak saja." Ujar Abigail sambil memberikan selembar uang seratus ribuan.

"Apa? Serius ini nak? Ini mah banyak banget, apa sisanya di ganti sama dua porsi sate? Saya tidak biasa menerima uang dengan cuma-cuma begini. Apalagi dari anak sekolah." Ujar Mang Ujang merasa tidak enak hati.

"Gapapa pak, saya ikhlas kok." Ujar Abigail.

"Terimakasih ya dek, semoga kamu menjadi orang sukses." Doa mang Ujang tulus.

Kanaya tersenyum mendengarnya, ternyata Abigail sudah berubah menjadi anak yang baik. Tapi dia belum tau kalau Abigail sudah membayar pesanannya juga. Kanaya mendekati mang Ujang, dia berniat untuk membayar.

"Punya saya berapa mang?" tanya Kanaya.

"Loh neng, semuanya udah di bayar sama murid neng Kanaya. Bahkan dia malah mengikhlaskan kembaliannya buat mamang." Jawab Mang Ujang.

Kanaya kaget mendengarnya, tentu saja dia tidak mau di bayarkan oleh muridnya. Dimana wibawanya sebagai seorang guru, tadinya malah Kanaya yang ingin membayarkan makanan Abigail sebagai bentuk terimaksih karena mengantarnya pulang.

Kapan nikah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang