"Berbohong tetaplah berbohong, dan itu adalah sesuatu yang salah. Terlepas dari alasannya demi kebaikan atau apapun itu."
.
"Jadi nak Bagas benar-benar pacarnya Kanaya?" tanya sang mama memastikan.
"Iya tante." Jawab Bagas sopan.
"Astaga, mama seneng banget, akhirnya anak bungsu mama ada yang mau juga. Mama tidak menyangka, kalau kamu bisa dapat pacar setampan ini." Puji mamanya terang-terangan.
"Apaan sih mah, gini-gini Kanaya juga ada kali beberapa cowok yang deketin. Cuma akunya aja yang gak mau, soalnya gak sreg." Ujar Kanaya tidak terima.
"Iya-iya deh. Nak Bagas mau minum apa? Kopi, teh, susu atau sirup?" mama Kanaya menawarkan minum.
"Tidak perlu repot-repot tante." Ujar Bagas merasa tidak enak hati.
"Tidak repot kok nak, malah tante tidak enak karena di rumah tidak ada apa-apa. Kanaya tidak bilang sih kalau kamu mau kesini." Ujar mamanya sambil melirik Kanaya.
Akhirnya mama Kanaya pergi kedapur untuk membuatkan minuman dan mencari cemilan untuk di hidangkan. Kanaya dapat melihat raut kebahagiaan yang terpancar di wajah mamanya yang beberapa waktu belakangan ini selalu murung. Nampaknya keputusannya sudah tepat untuk berpura-pura pacaran dengan Bagas.
"Maaf ya nak, gak ada banyak cemilan dirumah. Adanya ini doang." Mama Kanaya keluar membawa es sirup dan beberapa cemilan yang mereka dapatkan dari hajatan Fera beberapa waktu yang lalu.
"Ya ampun tante, padahal mah jangan repot-repot." Bagas merasa tidak enak.
"Gak repot kok nak, adanya cuma ini." Ujar sang mama.
"Bentar yah, mama panggilin bapak dulu. Dia pasti senang mendengar kamu akhirnya membawa pacar kerumah." Mama Kanaya berniat memanggil suaminya karena dia yakin kalau suaminya akan bahagia melihat putri bungsunya pulang membawa pacarnya.
"Tante, katanya bapak nya Kanaya sedang sakit. Biar saya yang ke kamar menengoknya saja, bagaimana?" tanya Bagas sopan.
"Ya ampun, nak Bagas pengertian sekali. Baiklah, mari kita tengokin bapaknya Kanaya." Ajak sang mama.
Akhirnya mereka masuk kedalam kamar orangtua Kanaya, nampak sang bapak terbaring diatas kasurnya dengan keadaan lemas. Wajahnya juga terlihat pucat, membuat Bagas jadi teringat pada bapaknya sendiri yang pernah juga sampai jatuh sakit hanya karena memikirkan dirinya.
"Loh ada siapa ini? Gak bilang-bilang sama bapak." Bapaknya sedikit kaget ketika melihat istri dan anak nya masuk ke kamar dengan seorang pria muda yang tidak dikenalnya.
"Assalamualaikum pak. Perkenalkan, nama saya Bagas. Saya pacarnya Kanaya." Dengan sopannya Bagas salim atau mencium tangan bapak Kanaya.
"Waalaikumsalam, ya ampun ternyata anak bapak sudah ada pacar."
Nampak sekali wajah bapaknya kaget namun terlihat sumringah, hal itu membuat Kanaya merasakan perasaan yang campur aduk. Disatu sisi dia senang karena ternyata kebohongannya mampu membuat kedua orangtuanya senang. Namun, tetap saja Kanaya merasa sedih dan merasa bersalah karena dia harus berbohong pada kedua orangtuanya.
Bapak Kanaya mencoba bangun dari tempat tidurnya, kini dia duduk di ranjang sambil bersandar di ujung ranjang. Sang bapak tidak mau terlihat lemah, dia turut bahagia ketika melihat putrinya bisa menemukan seseorang yang bisa berbagi rasa cinta.
"Kalau bapak boleh tau, sejak kapan kalian berpacaran?" tanya bapaknya.
Mereka saling pandang, sebelumnya keduanya sudah menghafalkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin di ajukan. Sudah seperti kisi-kisi ujian nasional saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kapan nikah?
RomanceFollow dulu sebelum baca! Kanaya seorang guru honorer di SMA ternama yang masih betah menjomblo diusianya yang sudah 24 tahun, membuatnya kerap mendapatkan pertanyaan "Kapan Nikah?" Dari orang-orang. Suatu hari dia berurusan dengan dua pria. Pertam...
