24-Kasih sayang orangtua

344 61 4
                                        


"Kasih sayang orangtua sepanjang masa, bahkan dalam diamnya. Mereka akan terus memikirkan kebahagiaan dan kebaikan anak-anaknya.

Sekalipun menggunakan cara keras, cara lembut atau cara diam-diam sekalipun dalam menunjukannya. Percayalah, mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya."

Hari ini akhirnya tiba juga hari dimana pernikahan Fera berlangsung, sungguh rasanya masih seperti mimpi. Bayangan masalalu saat mereka masih kecil, bahkan remaja terlintas di benak Kanaya secara tiba-tiba. Entah dirinya yang tidak terasa atau dunia memang berputar terlalu cepat. Teman-teman yang dulu saat kecil bermain bersamanya kini satu persatu telah berkeluarga.

Jujur saja, rasanya Kanaya ingin mengunci diri di kamar dan tidak mengahadiri pesta itu. Karena dia sadar bahwa banyak orang-orang toxic yang akan menggunjing di belakang maupun menghujatnya secara terang-terangan. Kemarin saat acara pertunangan yang di selenggarakan oleh Fera saja sudah begitu. padahal hanya di hadiri beberapa kerabat dekat saja. Lantas bagaimana dengan saat ini? Pesta pernikahan yang di hadiri banyak orang.

Jika bukan karena kedekatan mereka sejak dulu, rasanya enggan sekali Kanaya hadir. Mungkin dia akan mencari kesibukan lain sebagai alasan, tapi karena rasa sayangnya pada sahabat sekaligus saudara itu akhirnya Kanaya memutuskan kembali menguatkan hatinya.

"Duh cantik banget sih sepupuku." Puji Kanaya pada Fera dengan tulus.

"Makasih Nay, doain yah semoga acaranya lancar. Aku deg-degan banget tau." Fera memang nampak sangat grogi saat itu.

Maklum lah, mungkin hampir semua perempuan saat menjelang pernikahan pasti akan gugup.

"Pasti akan selalu aku doakan, kamu coba tenangkan diri biar gak tegang ya Fer." Ujar Kanaya.

"Duh mba Naya kapan nih mau nyusul?" tanya tukang rias pengantin yang rumahnya masih satu kompleks dengan mereka.

"Doain aja tan." Jawab Kanaya tak lupa menyunggingkan senyumnya.

"Tapi calon udah ada?" tanya tante Tina lagi.

"Sayangnya belum nih tan, belum kelihatan jodohnya." Jawab Kanaya dengan nada becanda.

"Duh, masa sih di umur segini masih jomblo. Nanti jadi perawan tua loh, makannya jangan terlalu pilih-pilih. Anak kecil jaman sekarang aja udah pada punya pacar, masa kamu belum." Perkataan yang datar tapi nyelekit itu hanya di tanggapi dengan senyuman.

"Nanti juga jodohnya dateng tante, doain aja. Atau mungkin tante punya kenalan pria single yang baik." Fera mencoba mencairkan suasana, dia tau Kanaya mulai tidak nyaman berada disana.

"Duh, sayangnya gak ada. Orang cowok jaman sekarang aja malah nikahnya lebih cepet di banding cewek." Jawab tante Tina.

Sepanjang acara Kanaya harus menahan hatinya agar tidak sakit hati dengan gunjingan yang tidak sengaja di dengarnya maupun yang secara terang-terangan di depan matanya.

"Aku pamit pulang dulu ya Fer, insyaAllah nanti kesini lagi." Karena hari sudah sore dan Kanaya juga merasa tubuhnya mulai lengket akhirnya dia memutuskan untuk pamit pulang.

"Beneran loh yah, nanti kesini lagi." Ujar Fera.

Kanaya hanya mengangguk sambil tersenyum, dia melajukan motornya menuju rumah. Dengan cepat Kanaya mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Entah mengapa kamar mandi seperti tempat yang strategis untuk menangis. Kanaya cukup lama menangis di kamar mandinya, setelah dirasa puas menangis dia segera keluar. Kanaya sudah mengganti bajunya sekalian di kamar mandi. Namun dirinya sedang berjalan menuju kamarnya, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mama dan bapak nya di ruang tamu.

Kanaya kaget melihat mamanya menangis, dan nampak Bapaknya juga berwajah murung. Bukan bermaksud lancang atau tidak sopan, Kanaya hanya ingin tau penyebabnya maka dari itu dia menguping pembicaraan mereka secara diam-diam.

"Hiks.. hiks.. mama sedih pak, sepanjang acara rasanya lelah sekali mendengar gunjingan dan cemoohan dari mereka. Mama hanya tidak mau anak kita sampai mendengarnya dan sedih."

"Iya, bapak tau, bapak juga sedih dan lelah memikirkan masalah Kanaya yang belum juga menikah. Bapak hanya ingin yang terbaik untuk anak kita, tapi bapak juga tidak mau terlalu memaksa Kanaya dan malah membuatnya sedih."

Hati Kanaya bagai di remas-remas, terasa pengap dan menyakitkan. Dia tidak tega melihat orangtuanya sedih hanya karena memikirkan dirinya. Dia juga tidak mau kedua orangtuanya menanggung semua ini, mulut mereka semakin lama semakin jahat saja.

"Mama jadi malas datang kesana, tadi mama habis ribut dengan istrinya pak Jaka. Habisnya dia nyinyir banget pak. Mama gak tahan mendengar hinaannya pada anak kita, makannya tadi mama maki-maki. Rasanya kesabaran mama juga ada batasnya." Ujar sang mama membuat Kanaya semakin kaget.

"Iya mah, memang sesekali kita harus keras pada mereka. Mereka makin lama kalau kita diamkan malah semakin jadi dalam menghujat." Perkataan dari bapaknya membuat Kanaya terharu.

"Kalau bisa, bapak juga maunya panjang umur, terus sehat, rejekinya lancar biar bisa jagain Kanaya terus. Bapak juga tidak keberatan kalau Kanaya tetap disini bersama kita. Tapi umur manusia tidak ada yang tau, bapak hanya takut Allah panggil bapak sebelum Kanaya bertemu orang yang akan menggantikan bapak dalam menjaganya." Air mata Kanaya jatuh bersamaan dengan air mata bapaknya yang mengalir. Hatinya seperti tersayat-sayat mendengar kesedihan dari kedua orangtuanya.

"Iya pak, mama juga maunya menemani anak cucu sampai seterusnya. Tapi mama juga punya kekhawatiran yang sama dengan yang bapak rasakan. Mama takut kalau kita pergi, siapa yang akan menjaga Kanaya nanti? Mama tidak pernah menganggap Kanaya sebagai beban, bagi mama dia adalah titipan terindah yang Allah titipkan. Mama hanya memikirkan yang terbaik untuk putri bungsu kita hiks.. hiks.." air mata mamanya terdengar seperti kepiluan yang semakin menyayat hati seorang Kanaya.

Ternyata kedua orangtuanya sangat menyayangi Kanaya, membuat Kanaya semakin dilema dan tidak tega. Dia tau menjadi orangtua tidak lah mudah, mereka memaksa bukan karena tidak sayang. Tapi justru karena mereka sangat menyayangi kita sehingga tidak mau kita sampai di hina orang. Mereka memaksa karena mereka cemas pada kita, mereka hanya takut waktunya tidak sepanjang itu untuk menjaga anak-anaknya.

Bukan berarti dengan memaksanya menikah cepat-cepat dan menganggap kita sebagai beban artinya mereka tidak sayang. Mereka hanya ingin cepat menyerahkan anaknya pada orang yang akan menjaganya saat suatu hari nanti mereka tiada.

Kanaya yang sudah tidak kuat lagi menahan isakannya pun bergegas berlari ke kamarnya. Dia menumpahkan air matanya disana, rasa sakitnya seperti patah hati yang terdalam. Bahkan melebihi rasanya patah hati karena cinta.

"Patah hati terberat ternyata bukan karena cinta, tapi karena melihat orangtua yang sudah semakin menua. Dan kita belum bisa menjadi apa-apa, belum bisa membuat mereka bahagia maupun bangga. Dan dilema terberat adalah memaksakan diri yang belum siap demi kebahagiaan orang tua, atau menuruti kata hati yang merasa belum siap dan menunggu waktu yang tepat." Gumam Kanaya sambil menyaka air matanya.

Dia rasanya tidak sanggup lagi jika harus kembali kerumah Fera, saat ini yang dia inginkan adalah menangis diam-diam di kamarnya. Akhirnya dia mengirimkan pesan pada Fera dan pada Bapaknya kalau dirinya sakit kepala dan ingin tidur di kamar untuk beristirahat.

"Nay, kamu sakit? Udah minum obat belum?" bapak Kanaya mengetuk pintu kamarnya dan menanyakan kondisi sang anak.

"Udah pak, maaf yah Naya mau tidur dan istirahat dulu jadi gak bisa pergi ke Fera lagi." Ujar Kanaya dengan suara seraknya, dia berusaha sekuat tenaga agar tidak terisak. Dia tidak mau bapaknya tau bahwa saat ini Kanaya tengah menangis sedih, dia tidak mau semakin menambah beban pikiran bapaknya.

"Iya Nay, kamu cepet sembuh ya. Baik-baik di rumah sendiri, bapak sama mama harus lanjut bantu-bantuin lagi di rumah Fera. Kalau ada apa-apa kamu telpn bapak atau mama ya." Pamit Bapaknya.

Kanaya bertambah sedih mendengar bapak dan mamanya harus kembali lagi kesana. Artinya mereka menahan semuanya dan bertemu dengan orang-orang menyebalkan yang hobinya mengurusi kehidupan orang lain itu. Sungguh hati Kanaya sangat sakit mengetahuinya, ternyata bapak dan mamanya jauh lebih kuat di bandingkan Kanaya yang cengeng dan pengecut ini. Kanaya hanya merasa sedang tidak baik-baik saja, dia takut emosinya meledak jika nanti pergi dan terpancing oleh perkataan yang kurang mengenakan hati.

Kapan nikah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang