"Jangan berbohong, Ayah. Aku sudah cukup besar untuk tahu tentang Ibu."
[][][]
Masih segar di ingatanku, ketika Ibu membereskan baju-bajunya ke dalam koper. Enam tahun lalu, satu pekan sebelum ulang tahunku yang ke sepuluh.
"Ibu mau ke mana?" tanyaku penasaran. Memang Ibu sering pergi ke luar kota, tapi saat itu hari sudah malam. Tidak mungkin kan, memilih berpergian dalam keadaan gelap?
"Ah, itu, Ibu ada urusan," jawabnya sambil menghindar dari sorot mataku. "Devan enggak tidur? Ini jam sebelas, loh. Besok harus sekolah."
Meski berkata demikian, tangan Ibu masih sibuk memilih barang yang akan dibawanya.
"Ibu juga enggak tidur. Devan mau antar Ibu sampai depan aja, deh."
Perkataanku membuat kegiatannya terhenti sejenak. Ibu memandangku lekat sambil menggigit bibir bawahnya. Seolah sedang memikirkan sebuah keputusan yang sulit. Namun, tak lama kemudian wanita itu menghela napas dan memejamkan mata.
"Ibu kenapa?" tanyaku khawatir. Karena biasanya, Ibu melakukan itu ketika pekerjaan membuatnya kelelahan. "Mau Devan buatkan teh hangat?"
Ibu mengangguk pelan sebagai jawaban, "Boleh."
Sebagai anak tunggal, aku diharuskan untuk mengetahui berbagai kebiasaan dari kedua orangtuaku. Baik itu ketika mereka senang, sedih, lelah, atau pun marah. Dua orang paling yang berjasa dalam hidupku sekaligus menjadi panutan nomor satu. Karena jika bukan aku yang mengerti akan keduanya, lantas siapa lagi?
Teh hangat kesukaan Ibu tidak boleh terlalu manis atau terlalu pekat. Kalau pagi hari, maka yang diseduh adalah teh hijau. Ketika tiba siang dan malam, pilihannya berganti menjadi teh melati. Terkadang, Ibu juga suka mencoba teh dengan rasa aneh. Namun, sekarang mungkin teh melati akan membuatnya merasa lebih baik.
Ibu terlihat duduk di meja makan saat tehnya siap. Tanpa kutahu saat dulu, wanita itu bahkan sudah siap untuk pergi.
"Ini tehnya, Bu." Aku meletakkan cangkir teh ke atas meja dengan kedua tangan.
Setelah cangkir itu kosong, Ibu mengantarku sampai ke kamar.
"Selamat malam, Devan. Mimpi indah ya, sayang," ucapnya sebelum mematikan lampu dan meninggalkanku.
Tentu saja aku terlelap. Selain karena kantuk yang mendera, Ibu juga berjanji akan menunda kepergiannya. Namun, ternyata itu hanyalah kebohongan yang sengaja dibuat. Agar diriku tidak perlu tahu, siapa yang datang untuk menjemputnya malam itu.
[][][]
Hari-hari berlalu tanpa ada Ibu di sisiku. Biasanya, wanita itu selalu hadir untuk sekadar menanyakan kabar dan memeriksa keadaanku. Meski hanya sebentar dan sambil diselingi pekerjaan, aku bisa merasakan perhatiannya.
Ayah yang biasanya lebih sibuk dari Ibu, kini terpaksa menjaga dan menenangkanku. Namun, setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu sama.
"Mungkin Ibu akan pulang suatu hari nanti, tapi Ayah tidak tahu kapan." Manik teduhnya menatapku sendu.
Bahkan di hari ulang tahunku, Ibu tak kunjung pulang. Membiarkan kami memupuk pertanyaan juga rasa rindu.
"Tenanglah, Ibu masih ada urusan." Senyum Ayah tampak dipaksakan.
Sampai tiba pada purnama berikutnya, tetap saja tidak ada perubahan. Meja makan dengan tiga kursi, kini terasa sepi. Ayah yang sibuk seringkali makan malam di luar. Membuatku malas jika harus repot berjalan keluar dari kamar.
"Maafkan Ayah yang belum bisa membawa Ibu pulang. Sabar, ya. Ayah akan kerja lebih keras agar Ibu bisa pulang ke rumah kita," ucapnya semangat.
Dengan berat hati, aku setuju untuk bersabar dan berdiam diri. Namun, perkataan Ayah menjadi peluru sat persatu. Tidak menembak ke arah musuh, tapi justru berbalik menghancurkan tubuh.
"Ayah sibuk, Devan. Tenang saja, Ayah berjanji akan melindungi keluarga kita."
Entah itu kebohongan jenis apa, tapi sudah jelas sang kepala keluarga mengingkarinya. Karena di malam-malam selanjutnya, sosok yang biasa dipanggil Ayah itu sering pulang dalam keadaan mabuk. Hingga di satu kesempatan, aku mendengar penuturan alam bawah sadarnya.
"Devan, ibumu pergi dan tak akan kembali. Perempuan itu lebih memilih teman SMAnya. Dia tidak menyayangi kita lagi."
Apakah artinya selama ini aku dibohongi? Bukankah Ibu hanya pergi untuk menyelesaikan urusannya? Mengapa Ayah tidak memberi tahu yang sebenarnya? Berbagai pertanyaan melintas di kepalaku. Saling berebut untuk menjadi yang diucapkan paling dahulu. Hingga bibirku kebingungan dan tidak memilih satupun untuk dilontarkan.
Keesokan harinya, ketika sudah sadar, Ayah kembali tersenyum. Menanyakan keadaanku seperti hari-hari sebelumnya, tanpa menyadari perubahan raut wajahku.
"Ayah, jadi Ibu pergi ke mana?" tanyaku tenang dengan wajah datar.
Tangan Ayah terulur untuk mengusap rambutku, "Ibu? Masih ada urusan, katanya. Devan sabar, ya."
Kenapa berbohong lagi?
"Ibu benar-benar memilih teman SMAnya?"
Ayah tercekat, tampak berhenti bernapas sejenak. "Kamu ngomong apa, Devan?"
"Jangan berbohong, Ayah. Aku sudah cukup besar untuk tahu tentang Ibu."
Laki-laki itu mengacak rambutnya dengan kasar lalu berjalan menuju ke meja makan. Tanpa aba-aba, aku pun mengikutinya. Duduk di salah satu kursi dari dua yang tersisa.
"Ayah kemarin keceplosan, ya?" tanyanya sambil menunduk. Dia menggeleng pelan, seolah mengingkari perbuatan yang sebelumnya telah dilakukan. "Maaf, Ayah baru bisa bilang sekarang."
Lalu, Ayah pun menceritakan semuanya. Tentang Ibu yang bosan dengan kehidupan kami dan lebih memilih untuk memulai petualangan baru dengan sosok yang lain di luar sana. Alih-alih sedih, aku merasa marah. Dengan napas memburu, kakiku melangkah cepat ke kamar dan memasukkan beberapa baju ke dalam tas.
"Devan, mau ke mana?"
"Aku mau menginap di rumah teman. Lagi pula, Ayah akan pulang dalam keadaan seperti kemarin lagi, kan?"
Ayah memberiku uang agar tidak bingung ketika hendak membeli makanan. Setelah itu, aku melangkah keluar dari rumah. Berencana untuk menghirup udara segar dan mengalihkan kemarahan. Memang, pikiranku menjadi lebih tenang. Sebelum kembali pulang, melangkah ke dalam rumah, dan menemukan Ayah dengan perempuan lain sedang berduaan di ruang tengah.
[][][]
KAMU SEDANG MEMBACA
Ineffable Sapphire
ChickLit(Ineffable : sesuatu yang sulit digambarkan/undescribe-able.) [] Devan Mahardika, siswa SMA berwajah tampan yang seringkali dianggap sebagai pembuat onar. Tiada yang menarik baginya selain balap liar, rokok jenis terbaru, dan suasana tenang. Dirinya...
