"Tidak seharusnya mereka memulai sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan sendiri."
[][][]
Baru saja berjalan beberapa hari sejak pengakuan di atas atap. Namun, suasana hatiku kembali memburuk karena seseorang. Lebih tepatnya, sebuah kelompok.
"Ayolah, Van. Kalo sama lo, kita bisa menang," ucap Randi untuk membujukku, lagi.
"Kenapa kalian harus cari gara-gara, coba?" Kuatur nada bicara agar tidak meninggi meski di dalam hati sudah kesal setengah mati.
"Mereka duluan yang gores mobil Daniel pake kunci Inggris, Van. Ya, gimana si Daniel enggak ngamuk?"
Jadi, biar kuceritakan asal muasalnya. Saat bermain ke suatu tempat yang tidak kupedulikan di mana lokasinya, mereka terlibat cekcok dengan anak SMA lain sehingga berujung pada perkelahian. Daniel yang memiliki tubuh penuh otot, tentu saja menang dalam baku hantam. Namun, lawannya tidak terima dan menjanjikan akan serangan balasan yang melibatkan banyak orang.
"Anaknya jangan diabisin juga, dong." Aku memutar mata sambil menyiapkan sendok untuk menyuapkan nasi goreng.
Entah mengapa, hari ini aku merasa lapar. Sehingga, ketika jam istirahat tiba, kakiku malah melangkah ke kantin. Meninggalkan sejenak rutinitas mengawasi seseorang dari atas atap.
"Bukan gue yang lepas kendali, tapi si Daniel," jelasnya singkat.
Bibirku tidak memberi jawaban lagi selain decakan. Kuharap dia menyingkir karena nasi gorengku butuh dihabiskan.
"Gue anggap, lo lagi bimbang dan butuh waktu buat jawab. Tapi jangan lama-lama ya, Van!" ujar Randi sebelum menghilang entah ke mana. Wah, kata hatiku terwujud!
Preman sekolah seperti mereka itu, pasti bertemu dengan masalah suatu waktu. Entah cepat atau lambat, semesta akan memberi pelajaran tersendiri. Tidak seharusnya mereka memulai sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan sendiri.
Memangnya, siapa yang mau jadi pemain cadangan bagi mereka?
[][][]
Perasaanku diselimuti oleh kecurigaan besar ketika sepasang sepatu hak tinggi terparkir di depan pintu. Namun, suara ketukan oleh jemariku juga tidak mendapat sahutan. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Seharusnya Ayah sudah pulang, kan?
Dengan perlahan, aku melangkah ke dalam. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Firasatku yang menyarankan demikian.
Sayangnya, pemandangan yang kudapat malah memuakkan.
Aku berdecak kencang dengan sengaja, "Devan masih tinggal di sini, kalau Ayah lupa."
Lalu, kedua orang dewasa itu saling melepaskan diri. Meskipun sudah terbiasa, aku tetap tidak akan membiarkan mereka.
"Harusnya buat dosa di tempat yang enggak bakal kelihatan sama orang, Yah. Jangan di ruang tengah," ucapku cepat sebelum bergegas menuju ke kamar.
Tentu saja aku tak berencana untuk diam di sini. Menjadi saksi akan perbuatan Ayah dan wanita asing itu? Tidak, terima kasih.
Setelah berganti pakaian dan menukar tas, kakiku kembali melangkah ke luar. Melewati ruangan yang sama, hanya saja berbeda penampakan. Kini keduanya duduk agak berjauhan di sofa. Seolah tahu jika aku hanya mampir sebentar dan akan pergi lagi untuk meninggalkan mereka.
Sungguh, kepala keluarga yang sangat memberi panutan.
Dengan emosi memuncak, aku melajukan motor dengan kecepatan penuh. Entah ke mana, tapi yang penting pergi menjauh. Tiba-tiba terlintas di kepala untuk menuju ke minimarket dekat Rumah Sakit waktu itu.
Setidaknya, mungkin Safir ada di sana. Meskipun persentase kemungkinannya entah sampai seberapa kecil. Malah, bisa saja nol.
Aku paham, jika Ayah kesepian. Namun, apa memang harus seperti itu? Membawa perempuan yang berbeda dalam kurun waktu yang agak lama.
Apa dunia orang dewasa memang harus seperti itu?
Setelah tiba, mataku langsung berpendar mencarinya. Nihil. Hanya ada beberapa orang asing. Aku tertawa miris sebelum melangkah masuk dan mencari sesuatu untuk diminum.
Bahkan, saat percakapan di atap itu, wajahnya tidak menunjukkan rasa senang. Apa jangan-jangan, dia tidak mau menemuiku lagi untuk seterusnya? Lagipula, tidak ada alasan untuk bertemu juga, sih. Harusnya aku mencari lebih banyak kesempatan yang bisa membuat kami berselisih lagi.
Mungkin, apabila sekarang melihat wajahnya, rasa kesalku bisa teratasi. Karena ada hawa sejuk yang bisa dirasakan hanya dengan sebuah tatap, entah didapatnya dari mana. Lalu, tiba-tiba ponselku berbunyi. Apa dia berubah pikiran dan langsung menghubungiku?
Lagi-lagi, halusinasiku harus pupus. Karena hanya ada nama Randi yang terpampang di sana. Dengan cepat, kugeser layar untuk menjawab.
"Kenapa, Ra...,"
"Van, lo harus ke sini! Kita diserbu di warteg markas! Cepetan, please," sahut Randi menggebu. Terdengar suara hantaman dan teriakan sebagai latar belakangnya.
"Hah! Kok, bisa?"
"Udah, cepetan! Tolongin anak-anak, Van!" Sambungan telepon pun terputus.
Aku memutar mata malas. Apa yang dilakukan siswa SMA di daerah sekitar sekolah pada malam hari? Sudah pasti kejadian ini memang kesepakatan kedua belah pihak.
Namun, tanganku terkepal. Tanpa persetujuan isi kepala, kakiku melangkah menuju motor dan mengendarainya ke arah sekolah. Lalu, setelah tiba, aku bergegas turun sambil membawa helm dan mulai menghantamkannya pada wajah yang tak kukenal.
Mereka mengeluarkan sumpah serampah dan panggilan hewan, tapi aku tak peduli.
Sambil menghindar, kusiapkan rencana untuk menyerang. Orang yang ada di lokasi lumayan banyak. Sehingga, mungkin akan bertarung dengan lebih dari satu lawan sekaligus. Di saat seperti ini, aku harus lebih waspada lagi.
Inginnya sih, begitu. Namun, aku malah terus menghantam tanpa ampun. Tidak peduli dengan pukulan balik yang kuterima. Selama itu bisa menyalurkan amarah melalui tenaga, aku akan baik-baik saja.
Mungkin untuk kali ini, aku akan membiarkan diri untuk melepaskan semuanya.
[][][]
P.s. Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya, ya. Terima kasih 😄
KAMU SEDANG MEMBACA
Ineffable Sapphire
ChickLit(Ineffable : sesuatu yang sulit digambarkan/undescribe-able.) [] Devan Mahardika, siswa SMA berwajah tampan yang seringkali dianggap sebagai pembuat onar. Tiada yang menarik baginya selain balap liar, rokok jenis terbaru, dan suasana tenang. Dirinya...
