"Namun, namanya juga dunia. Tidak semua keinginanmu dapat terlaksana."
[][][]
Tak biasanya aku memikirkan orang lain yang tidak bermasalah denganku. Apalagi seorang gadis asing. Namun, sejak melihatnya menangis kemarin, pikiranku tidak bisa berhenti menerka penyebab air matanya. Seolah wajahnya memenuhi kepalaku. Menggantikan posisi rumus-rumus yang sulit dimengerti.
Ditambah dengan orang aneh bernama Andra yang kemarin. Sungguh, membuatku menghabiskan banyak tenaga untuk mencari-cari maksudnya. Ucapannya yang tidak penting itu, seolah sengaja ditujukan kepadaku. Sangat aneh. Jelas-jelas, aku adalah anak satu-satunya dari keluarga.
Ya, jika kami masih bisa disebut seperti itu.
"Oke, pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Sepuluh menit lagi bel istirahat berbunyi, tapi Ibu izinkan kalian keluar kelas lebih dulu," ucap guru kimia sebelum membereskan barangnya dan melangkah keluar.
Meninggalkan penghuni kelas yang langsung bersorak semangat.
"Van, mau ke kantin?" tanya Rangga, teman sebangkuku yang juga anggota Riders.
Aku menggeleng, "Duluan aja."
Meskipun saat ini kantin masih sepi, aku tidak akan memilih untuk menghabiskan waktu di sana. Otak ini harus mendapatkan udara segar dan rasa sepi yang memberi pencerahan. Rasanya ingin menghilang saja. Ketika di pagi hari, malah mendapat pemandangan dua orang sedang bermesraan. Alih-alih semangat, aku justru merasa muak.
Kakiku bergerak ke arah seperti biasanya, tempat pembakaran sampah di belakang sekolah. Namun, baru setengah jalan, langkahku terhenti. Itu, kan tempat si gadis asing mengurku. Bagaimana kalau dia akan membuang sampah lagi hari ini?
Dengan cepat aku berbalik dan memilih untuk menaiki tangga. Terus ke atas sampai tiba di depan pintu yang menuju ke atap gedung. Seharusnya, tidak boleh ada murid naik ke sini. Namun, Devan si pembuat onar tidak mungkin mengikuti peraturan. Semua orang di sekolah ini sudah tahu akan itu.
Tanpa ragu, kugerakkan kenop pintu dan mendorongnya ke luar. Sinar matahari langsung berlomba masuk ke mataku. Memberi efek kejut akibat ruangan dengan tangga tidak mendapat banyak cahaya. Setelah mengerjap, kakiku melanjutkan langkah ke tujuan.
Meskipun aku sudah tahu tempat di atap sejak lama, tapi baru ini kali pertama bagiku untuk singgah. Karena tidak ada kanopi, suasana di atas sini terasa cukup terik. Namun, banyak angin semilir yang memberi rasa sejuk. Tidak buruk untuk menghabiskan beberapa batang rokok.
Kuedarkan pandangan ke arah kanan. Warung tegal yang paling dekat dengan sekolah pun terlihat. Banyak anak laki-laki yang menyemburkan asap dari hidung dan mulutnya. Karena di sana, adalah tempat nongkrong langganan atau bisa disebut "Markas Riders". Tampak Daniel, Randi, bahkan Rangga yang asik bercengkrama dengan anggota lainnya. Ternyata dia tidak jadi pergi ke kantin, ya.
Agak kekanakan, sebenarnya. Ketika sudah sampai jenjang SMA, tapi masih mencoba untuk mengklaim suatu tempat sebagai daerah kekuasaan. Namun, namanya juga dunia. Tidak semua keinginanmu dapat terlaksana. Apalagi soal kebebasan dalam hidup. Semakin kau mengingingkannya, maka kebebasan itu akan semakin terasa jauh.
Setelah bosan memperhatikan para berandal, aku menoleh ke arah kiri. Di sana ada sebuah ruangan berdinding kaca. Hanya pilar dan beberapa bagian saja yang terbuat dari bahan lain. Di dalamnya ada beberapa sajadah hijau yang menempel satu sama lain. Sepertinya, itu mushola sekolah.
Aku tidak pernah pergi ke sana. Entah bagaimana suasana di dalamnya. Apakah terasa sejuk? Menenangkan hati? Membuat kita merasa dekat dengan ilahi? Sejujurnya aku tak tahu. Bahkan, aku sudah lupa kapan terakhir kali beribadah di waktu yang benar.
Tanpa sadar bibirku terangkat sedikit. Menertawakan diri sendiri yang sudah melenceng jauh dari jalan cahaya. Namun, mau bagaimana lagi? sepertinya, tidak ada jalan untuk kembali.
Pemikiranku berhenti memaki diri ketika seseorang tampak berjalan di dalam sana. Dia menuju ke daerah perempuan dan memilih salah satu mukena dari dalam lemari. Tunggu, apa dia mau solat? Memangnya ini jam berapa?
Kurogoh ponsel dari saku untuk memeriksa. Ternyata, baru jam sepuluh pagi. Apa orang itu mau melaksanakan solat zuhur lebih awal? Meski itu bukanlah masalahku, tetap saja aku penasaran. Sehingga, mataku memperhatikannya lekat sampai orang itu menyelesaikan empat rakaat.
Namun, di tengah-tengah tadi, dia melakukan gerakan salam. Berarti, bukan solat zuhur? Dahiku mengernyit ketika isi kepalaku mencoba untuk mengingat jenis solat yang lainnya. Beberapa detik berlalu, lalu aku menemukannya. Ternyata, orang itu melakukan solat dhuha? Rajin juga.
Setelah sekiranya selesai berdoa, orang itu melepas mukenanya. Dia mengenakan kerudung panjang yang menutupi punggungnya. Rok abu-abunya pun tampak longgar. Sepertinya dia mengingatkanku pada seseorang.
Ah! Gadis yang menegurku di tempat pembakaran, kan, berpakaian seperti itu juga. Pantas saja rasanya familiar. Lalu kenapa pula aku harus senang dengan fakta itu? Sepertinya, orang aneh bernama Andar itu menularkan sesuatu kepadaku.
Namun, gadis itu berdiam di minimarket kemarin malam. Dalam keadaan menangis pula. Sangat ceroboh. Jika menangis, automatis sikap siaga kita akan berkurang. Sehingga, akan lebih mudah menerima serangan. Seorang perempuan yang sedang sendirian tengah malam, menunduk dan mengeluarkan air matanya. Situasi sempurna bagi para penjahat, bukan?
Lagi-lagi aku memikirkan gadis asing itu. Pasti ini semua gara-gara Andar. Setelah kalah akibat menantangku di jalanan, dia mengaku jika dirinya hanya mengalah? Yang benar saja! Taktik murah yang pasaran. Setidaknya, kalau dia laki-laki, harusnya mengakui kekalahan.
Lihat saja, aku akan mencari tahu maksud dari ucapannya.
Tanpa sadar, aku terus melamun sambil memperhatikan gerak-gerik gadis di dalam mushola. Sampai orang itu menoleh ke arahku dan mata kami bertemu. Apa-apaan? Dia gadis yang sama juga!
[][][]
KAMU SEDANG MEMBACA
Ineffable Sapphire
ChickLit(Ineffable : sesuatu yang sulit digambarkan/undescribe-able.) [] Devan Mahardika, siswa SMA berwajah tampan yang seringkali dianggap sebagai pembuat onar. Tiada yang menarik baginya selain balap liar, rokok jenis terbaru, dan suasana tenang. Dirinya...
