3 : Gadis yang Menangis

17 3 0
                                        

"Lo emang juara bertahan, tapi jangan sampe lupa pulang."

[][][]

Aku sempat berpikir jika Ayah lebih baik daripada Ibu. Namun, dugaan itu langsung hilang dalam sekejap. Ternyata mereka sama saja. Para orang dewasa yang mengutamakan kepentingan pribadi di atas segalanya.

Dua tahun setelah Ibu pergi, Ayah membawa banyak perempuan ke rumah. Entah berapa jumlahnya, tapi aku yakin mereka tidaklah berharga. Dari melihat wajahnya, aku dapat merasakan tujuan lain selain mendapatkan perhatian dan kasih sayang sang kepala keluarga. Jika laki-laki itu masih bisa disebut demikian.

"Ayah, aku butuh kendaraan untuk pergi ke sekolah," pintaku setengah hati. Hanya ingin melihat bagaimana reaksi seorang Ayah terhadap putranya yang baru menginjak sekolah menengah pertama.

"Oke. Besok Ayah belikan motor, ya?" jawabnya sambil tetap memainkan ponsel pintar di genggaman, tanpa menoleh sedikit pun.

Dengan sebuah dengkusan kasar, aku pergi ke kamar dan membanting pintunya. Tidak peduli jika Ayah mendengarnya lalu beranjak marah. Namun, tidak ada ketukan ataupun sahutan yang menandakan responnya.

Malam itu, semua amarah membuatku mengeluarkan banyak air mata. Jika memang harus menerima kenyataan, aku akan mengambil waktu untuk menikmati rasa kesal ini. Lalu, tanpa sadar, tertidur sambil meringkuk di atas kasur. Terbangun keesokan harinya dengan sebuah sepeda motor kopling yang cukup tinggi apabila dinaiki.

[][][]

Layaknya seekor kucing yang diberi ikan goreng, aku menggunakan kendaraan itu dengan sebaik-baiknya. Mencucinya setiap pekan, membawanya ke bengkel untuk perawatan, sampai mempelajari spesifikasinya. Hingga suatu hari, salah satu teman sekolahku melihatnya dan menarikku ke sebuah dunia yang baru.

"Motor lu bagus. Mau ikut balapan?" tanyanya dengan senyum yang tertarik sebelah.

Kegiatan itu mereka lakukan di akhir pekan, ketika matahari sudah tenggelam. Sangat bagus, karena aku tidak perlu bertemu dengan Ayah dan para perempuannya. Sebuah pelarian yang sempurna.

Meski baru kelas satu, aku tidak dicurigai sebagai anak di bawah umur. Postur tubuh tinggi dan wajah yang tidak bersahabat membuatku tampak lebih dewasa. Mungkin juga dibantu dengan gelapnya langit malam. Perlahan tapi pasti, urutanku merangkak naik ke posisi yang tinggi. Sehingga di tahun berikutnya, mereka menyebutku sebagai juara bertahan.

Setiap kemenangan akan mendapatkan benda taruhan sebagai hadiah. Namun, aku tidak pernah mengambilnya. Justru, akan kukembalikan pada sang lawan, benda apapun itu. Satu-satunya hadiah yang pernah kuterima adalah sebuah jaket kulit dari senior dengan jarak dua tahun. Angga namanya.

"Devan, buat yang ini, lo harus terima," ucap senior itu seraya melepaskan jaket tersebut dari tubuhnya.

Dahiku mengernyit, menatap bergantian antara jaket itu dan wajah Angga. "Tapi...,"

"Gue enggak terima penolakan." Maniknya menatap tajam seolah tidak ingin dibantah. Membuat tanganku tanpa sadar terulur dan menerima hadiah darinya.

Lalu sejak saat itu, jaket pemberian Angga aku pakai setiap kali akan balapan. Termasuk malam ini.

"Devan! Ada yang mau nantang lo, nih!" teriak Awan, salah satu senior kelas tiga di sana.

Aku terkekeh, "Bawa sini, Wan!"

Tidak ada yang keberatan mendengarku memanggil para senior tanpa embel-embel penghormatan. Karena sebelum masuk SMA, mereka mengira aku adalah bocah yang berumur sama dengan mereka. Sehingga, setelah usia asliku terbongkar, mereka pun tidak mempermasalahkannya akibat sudah merasa nyaman dengan panggilan yang biasa.

Tak lama, seorang anak lelaki yang sedikit lebih pendek dariku berjalan mendekat. Tatapannya tajam dan menelisik. Seolah mencari celah dari kehadiranku di hadapannya.

"Jadi nih, nantangnya?" tanyaku santai.

Anak itu tersenyum miring, "Kita liat aja, juara bertahan." Ucapannya terdengar sangat merendahkan. Namun, itu adalah suatu keharusan jika kau berniat untuk menantang seseorang. Predator yang kejam tidak akan memberi ampun pada mangsa yang lemah, bukan?

Arena untuk kami berdua pun disiapkan. Tak kusangka anak itu memiliki kendaraan yang sama denganku. Hanya saja, tampak lebih baru dan mengkilap. Mataku memandangnya curiga.

"Ada apa, Juber? Kagum sama motor gue?" tanyanya disusul dengan tawa kecil.

Aku menyipitkan mata, "Lo aneh."

Setelah gadis dengan pakaian minim menurunkan bendera, kami sama-sama melajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Melalui lampu-lampu jalan dan juga persimpangan yang sudah ditentukan. Suara deru napasku teredam oleh bunyi mesin yang bekerja sekuat mungkin. Memutar dua roda yang menjadi kaki di ajang balap jalanan ini.

Hingga ketika kami hampir mencapai garis akhir, aku mendengar suara mesin yang berbeda. Anak itu melepaskan tarikan gasnya. Bodoh.
Sorakan menyambutku yang tiba lebih dahulu. Lalu Awan dan yang lainnya menghampiri untuk ikut dalam selebrasi. Meskipun hanya sorak-sorakan yang beradu dengan musik kencang.

"Gue Andra," ujarnya ketika mengulurkan tangan.

Tersenyum miring, aku pun menyambutnya. "Lo pasti udah tau gue, kan?"

Anak itu terkekeh sampai matanya terpejam. Namun, tiba-tiba, dia menarikku dengan kuat dan cepat. Sehingga kepalaku menjadi sejajar dengannya.

"Lo emang juara bertahan, tapi jangan sampe lupa pulang."

Dahiku mengernyit kebingungan. Sebelum sempat protes dan bertanya, dia menarik pundakku menggunakan tangan yang satunya. Semakin mendekat ke arah telingaku.

"Iya, tadi gue sengaja ngalah. Supaya tahta adik gue enggak pindah ke tangan orang lain," bisiknya sebelum menepuk pundakku cepat dan kembali naik ke atas kendaraannya.

"Hei! Apa maksud lo?"

Alih-alih menjawab, orang itu malah memakai helm dan menyalakan mesin. "Lo pasti enggak terima hadiahnya, kan? Gue duluan, ya!" serunya sambil mulai melajukan motor dan pergi.

Apa-apaan itu? Pasti dia sedang mengigau, bukan? Sangat tidak
Meski ucapannya tidak masuk akal, tapi tetap saja merasuk ke dalam pikiranku. Setelah dari arena balap, aku sengaja mampir ke minimarket yang buka semalaman. Kata-kata orang aneh iti, cukup menganggu.

Namun, sebelum aku berhasil membuka tutup botol dari soda yang baru dibeli, sebuah pemandangan lain muncul. Seorang perempuan dengan kerudung panjang duduk sambil menunduk di salah satu kursi. Ya, minimarket ini menyediakan beberapa meja untuk pengunjung.

Tiba-tiba mengingatkanku pada seseorang beberapa hari yang lalu. Lalu, ketika dia mengangkat wajah, tampak aliran air mata di kedua pipinya. Bahkan suara sesegukannya sampai ke telingaku. Apa yang membuatnya sedih sampai seperti itu?

Aku memiringkan kepala agar bisa melihatnya lebih jelas. Setelah beberapa detik, aku baru menyadari. Dia adalah gadis yang menegurku di tempat pembakaran sampah.

[][][]

Ineffable SapphireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang