9 : Ucapan Terima Kasih

14 2 1
                                        

"Kenapa kemarin di mushola, lo bisa tau gue pingsan?"

[][][]

"Gimana maksudnya?" tanya Safir sambil tetap mengerutkan keningnya.

Alih-alih menjawab, bibirku malah membeku. Memilih bisu sambil terus menatap lekat.

"Hey?" Gadis itu mulai mengibaskan tangannya di hadapanku. "Jadi, apa maksudnya?"

Aku berdeham, mencoba mengalihkan perhatiannya pada benda atau makhluk lain. Namun, tetap saja gagal. Karena, bertepatan setelah itu, bel tanda masuk berbunyi.

"Besok, gue jelasin. Naik ke situ pas jam istirahat," ucapku sambil menunjuk ke arah atap. Lalu berbalik dan melangkah pergi.

Bukan karena ingin tampak keren ataupun misterius, hanya saja aku masih perlu waktu untuk menyusun kata.

[][][]

Setelah dipikir-pikir, ucapanku kemarin terdengar sangat aneh. Seperti sosok yang ingin menculik dengan embel-embel akan dibawa ke taman bermain. Kira-kira, gadis itu akan tetap datang atau malah melaporkan aku pada teman-temannya?

Tiba-tiba, satu-satunya pintu yang menuju ke atap berderit. Disusul langkah kaki yang mendekat perlahan. Memang area kumpul di atas sini masih jarang yang tahu, karena tidak tersedia fasilitas yang baik selain pemandangan dan angin sepoi-sepoi.

"Ini, buat lo," ucap Safir ketika tiba di hadapanku. Dia menyodorkan sebuah botol minuman berwarna oranye dengan tangan kanannya.

"Makasih."

Setelah berhasil mendapat beberapa tegukan, aku terhenyak ketika mendapatinya yang masih berdiri sambil menatapku tajam di tempat yang sama.

"Punya lo, enggak diminum?"

Gadis itu menggeleng cepat, "Nanti aja, enggak ada tempat duduk."

Kukira, Safir sangat pemilih karena harus minum di posisi santai. Namun, penjelasan yang dia lontarkan selanjutnya membuatku tercengang.

"Kalau minum sambil berdiri, bisa melukai otot penghubung antara kerongkongan dan lambung. Ujung-ujungnya, bisa berakibat pada gerd, gangguan pencernaan, tegang saraf, atau bahkan gagal ginjal."

Aku menyipitkan mata tidak percaya.

"Tapi dibalik itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyarankan agar makan dan minum sambil duduk. Berarti, hukumnya sunnah," gadis itu mengangguk di akhir penjelasannya.

Jadi, dibalik popularitasnya, Safir juga serba tahu?

"Tau dari mana?"

"Hadits riwayat Muslim No. 2024 dan 2026, atau...,"

"Oke, oke. Gue percaya," aku mengangkat kedua tangan sebagai isyarat menyerah. Bisa-bisanya dia tahu nomor hadits?

"Kalau gitu, sekarang jelasin. Kenapa kemarin di mushola, lo bisa tau gue pingsan?

Lo yang dua kali bawa gue ke UKS, ya?"

Tebakannya tepat. Seharusnya aku tidak perlu menjawab lagi, kan? Bibirku pun hanya mengeluarkan gumaman.

"Hmm, doang?"

"Harusnya?"

Sebenarnya, aku ingin meminta maaf telah menyentuh tubuhnya tanpa izin. Namun, dua-duanya merupakan hal darurat. Lagipula, apa hal terburuk yang bisa terjadi?

Gadis itu menimbulkan suasana hening karena tidak berkata-kata lagi. Saat menoleh, kudapati matanya yang bulat sedang berkaca-kaca.

"Eh, lo kenapa?"

Bukan menjawab, Safir malah mulai terisak. Kedua tangannya langsung naik untuk menutupi wajah. Meskipun salah satunya masih menggenggam botol minuman berwarna oranye.

"Loh, Safir. Lo kenapa? Jawab gue,"

Aku tidak mencoba maju dan menyentuh lengannya seperti yang ada di film-film. Karena jika dilihat dari reaksinya akan insiden di mushola, dia tidak suka jika diperlakukan seperti itu.

"Gue enggak ngapa-ngapain, kok. Sumpah, cuma bawa lo ke UKS doang!"

Sudah sekitar dua menit berlalu. Napasnya yang memburu, mulai berangsur teratur. Sepertinya, dia berusaha untuk menenangkan diri sendiri.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu dan membiarkannya tenang terlebih dahulu.

"Harusnya, gue enggak boleh selengah itu sampai kayak kemarin. Tapi, terima kasih banyak. Kalo bukan karena lo, mungkin anak-anak kelas ngiranya gue bolos," ucapnya sambil tertunduk lesu. Safir menarik napas panjang dan mengembuskannya kembali.

Aku membalasnya dengan beberapa anggukan yang kemungkinan besar tidak kelihatan.

"Ah, gue boleh nanya?"

Kepalanya terangkat sedikit sebelum kembali menunduk. Dia mengangguk untuk mengiyakan, ya?

"Soal nama lo. Yang bener itu Safir atau Juli, sih? Apa jangan-jangan Lo pake nama samaran gitu, ya?"

Meskipun terdengar konyol, aku akan tetap menanyakannya. Safir mulai mendongak perlahan-lahan, sampai maniknya bisa membalas tatapanku.

"Dua-duanya nama gue, kok. Tapi, temen-temen di sekolah lebih familiar sama nama Juli."

Mulutku membulat saat kepalaku mengangguk-angguk.

"Soal minuman yang di minimarket waktu itu, impas, kan?" tanya Safir sambil mengangkat botol di tangannya sampai sejajar dengan pandang.

"Ah, iya."

"Oke," Safir mengangguk singkat sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu.

"Eh, tunggu!"

Mau ke mana dia? Apa ada tugas yang harus dikerjakan? Buru-buru sekali.

"Kenapa?" Gadis itu menoleh tanpa membalikkan tubuhnya.

"Itu, sekalian gue juga mau ngaku." Melihat alisnya yang terpaut, aku melanjutkan, "Sebenernya, gue itu adek kelas lo."

Safir tidak memberi respon kecuali matanya yang berkedip-kedip. Memang tampak lucu, tapi malah membuatku ragu. Apa dia akan menganggapku pembohong?

"Oh," ucapnya singkat.

"Lo enggak kesel?"

"Enggak, tuh. Udah, kan? Duluan!" Gadis itu tiba-tiba saja sudah menghilang.

Bukankah beberapa saat lalu dia baru saja menangis? Namun, mengapa sekarang tampak seperti tidak terjadi apa-apa? Tadi, katanya, teman-teman di sekolah lebih familiar dengan nama Juli. Sedangkan waktu itu, dia memperkenalkan dirinya padaku sebagai Safir.

Apa ini artinya, dia menganggapku istimewa? Alisku berkedut akan pikiran yang terdengar agak terlalu percaya diri. Seorang siswi terkenal yang memiliki reputasi baik, menganggap adik kelas berandalnya istimewa?

Sepertinya kalau dilihat dari narasi ini, aku hanya berekspektasi tinggi sendiri.

[][][]

Ineffable SapphireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang