BAGIAN TIGA

447 56 6
                                        

HAPPY READINGGG❤️

SEMOGA SUKA YA DENGAN CERITA INII, MAAF UNTUK KETERLAMBATAN UPDATENYA, JANGAN LUPA DUKUNG CERITA INI DENGAN LIKE KOMEN DAN JUGA SHARE CERITA INI💛

STAY SAFE SEMUANYAA💖

-Tidak semua apa yang kamu inginkan, orang lain pun menginginkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Tidak semua apa yang kamu inginkan, orang lain pun menginginkan. Hargai mereka-



Haruna mengerang pelan, menyalahkan dirinya yang tidak mempunyai stok makanan jika ia lapar malam harinya. Kini ia harus keluar sendiri karena perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi. Jujur saja dia takut untuk kebawah apalagi waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, gadis itu mengeratkan pegangan jaketnya. Untungnya saat di lift ada gerombilan gadis yang bersamanya.

Sesampainya di depan gedung apartment, Haruna menoleh kanan-kiri, untuk melihat gerobak makanan yang ada di dekat apartmentnya. Gadis itu berjalan menghampiri salah satu gerbokan yang menjual nasi goreng, Haruna langsung memesan. Baru saja ia akan mendudukan bokongnya di trotoar deruman motor saling bersautan terdengar. Haruna panik, dia bingung harus bagaimana disaat semua orang berhamburan pergi. Seseorang menariknya untuk bersembunyi di balik tembok yang bahkan sangat sempit, Haruna diam tak banyak bicara. Jantungnya masih berdegup kencang karena takut. Sekitar lima belas menit barulah Haruna mendongak melihat siapa yang menolongnya. Aksara, teman kelasnya itu menolongnya dan parahnya wajah pria itu terdapat luka memar dan juga darah.

Haruna terhenyak kaget saat melihat itu, gadis itu sedikit menjauh dari Aksara. Melihat teman kelasnya itu terluka, Haruna langsung menggenggam tangan pria itu. Dan membawanya ke apartmentnya. Tak mempedulikan rasa lapar yang tadi menyerangnya, lagian penjual nasi goreng tersebut sudah tak terlihat. Aksara hanya diam tak membantah saat dirinya di tarik oleh gadis itu, dia tahu bahwa Haruna sedang takut. Terlihat dari tangannya yang gemetar dan juga matanya yang memerah menandakan ingin menangis. Aksara duduk di sofa yang ada di ruang tamu apartment Haruna, gadis itu datang dengan sebuah kotak yang Aksara yakini adalah kotak P3K. Gadis di depannya itu dengan cekatan membersihkan luka diwajahnya dengan tangan sedikit gemetar.

"Kenapa nangis?" Tanya Aksara pelan sambil mengusap lembut pipi gadis cantik didepannya ini.

Haruna tak menjawab dia diam dan fokus pada luka wajah Aksara. "Sssttt, Aw. Sial," Ringis Aksara pelan saat tak sengaja menekan luka di bagian perutnya.

Haruna mengangkat baju Aksara dan menemukan luka gores yang lumayan dalam. Melihat itu Haruna menangis dengan deras tanpa suara, Aksara yang melihat itu langsung memeluk gadis itu. "Hei, lo kenapa nangis? Kalau lo takut, it's okey. Ada gue," Haruna menangis di dada Aksara, dia takut, dia takut dengan semuanya. Dia ke Indonesia untuk belajar bukan untuk mendapatkan trauma. Saat sudah tenang Aksara menatap wajah Haruna, mata yang sembab dan hidung yang merah. Menggemaskan, itulah kata yang cocok untuk gadis itu.

THE END Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang