Keluarga Aksara menyambutnya dengan hangat, apalagi bunda lelaki itu yang benar-benar ramah terhadapnya. Nana, adik pria itu langsung memeluknya saat melihatnya yang masuk bersama Aksara dan langsung memperkenalkan dirinya kenapa keluarga Aksara yang lain—yang ternyata mereka semua sedang melakukan acara syukuran karena salah satu sepupu Aksara lulus PTN dengan jurusan kedokteran.
Aksara benar-benar tidak peduli dengan keluarganya yang lain, lelaki itu hanya menyapa bundanya dan adiknya saja. Setelahnya pergi ke kamarnya untuk mengambil bass yang menjadi tujuan awal mereka ke rumah lelaki itu.
"Haruna, ikut makan yuk, nak? Kalian berdua pasti belum makan, ya?"
Haruna tersenyum pelan, "Iya belum tante, ini sekalian mau cari makan juga bareng Aksaranya." Kata Haruna sopan.
"Oh gitu, nggak mau makan malem bareng?"
Haruna bingung menjawabnya. "Mau kok, tante. Tapi tunggu Aksara–nya dulu." Jawab gadis itu sopan.
Aksara turun dengan bass miliknya. Nana langsung berlari menghampiri kakaknya, merengek untuk ikut pergi bersama mereka. Bundanya yang melihat itu langsung memberi pengertian bahwa kakaknya dan Haruna ada urusan penting dan Nana tidak bisa ikut.
"Weekend kita jalan-jalan kalau gitu." Kata Nana mengganti keinginannya yang ingin ikut dengan Aksara dan Haruna.
Aksara tersenyum lembut dan menepuk puncak kepala adiknya. "Iya. Ke zoo mau?"
Nana mengangguk semangat. "Mau!!" Seru gadis kecil itu lantas langsung menoleh kearah Haruna yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka berdua. "Kak Haruna juga ikut, ya?" Nana memohon kepada gadis yang berada agak jauh dari mereka—dirinya dan Aksara.
Haruna mengangguk, "Oke." Nana berteriak heboh membuat keluarganya yang sedang berada di ruang tamu menatap ke gadis itu.
"Adik, jangan teriak-teriak, sayang." Peringat Bunga lembut. "Kamu nggak makan dulu, kak?" Tanya wanita itu.
Aksara tersenyum dan menggeleng pelan. "Maaf, Ma. Aku nggak makan di sini dulu, ya." Kata lelaki itu meminta pengertian.
Bunga mengangguk dan tersenyum mengerti. "Iya, sayang. Nggak apa kok." Kata Bunga lembut. "Kalau gitu kalian hati-hati, ya. Inget loh, kak. Kamu bawa anak gadis orang." Peringati wanita itu kepada putranya.
Aksara mengangguk. "Iya, Ma. Kalau gitu aku berangkat, ya." Lelaki itu mengecup pipi mamanya dan bergantian ke Nana yang membalasnya dengan pelukan erat.
Haruna menatap interaksi Aksara dengan Bunda dan Nana, pria itu sangat hangat dengan mereka berdua. Berbeda sekali saat Aksara dengan Arjuna–Ayahnya, lelaki itu canggung sekali dengan Ayahnya bahkan menjawab sekedarnya saat Ayahnya bertanya, seolah-olah lelaki itu ingin segara mengakhiri percakapan yang terjadi diantara mereka.
"Ingat! Pamit dulu sama Ayah dan keluarganya Ayah, kak." Beritahu Bundanya tegas.
Aksara menghela nafasnya pelan dan mengangguk, lantas tersenyum kecil kepada Bunga dan Nana. "Iya, Bun. Aku sekalian pergi, ya." Kata lelaki itu.
Setelahnya barulah Haruna yang berpamitan kepada Bunga dan Nana. Wanita itu menyuruhnya untuk datang ke sini agar wanita itu ada teman untuk pergi jalan-jalan karena Aksara dan Ayahnya sangat jarang ada waktu. Nana juga menyetujui itu, menyuruh Haruna untuk datang ke rumahnya setiap hari dan Haruna hanya bisa menyetujuinya saja dan mengatakan iya. Aksara menunggunya ternyata saat dirinya sudah selesai berpamitan dengan Bunga dan Nana.
Dirinya mengikuti Aksara yang berjalan di depannya, lelaki itu berpamitan dengan Ayah dan keluarganya yang lain, lagi-lagi kecanggungan yang dirasakan olehnya. Haruna juga ikut berpamitan pada yang lainnya dan barulah mereka keluar dari rumah Aksara diikuti oleh Bunga dan Arjuna.
"Hati-hati, nak." Kata Arjuna pada putranya.
Aksara mengangguk. "Ya, Yah." Dan barulah mereka berdua masuk ke dalam mobil lelaki itu.
Haruna baru bisa bernafas lega saat mobil lelaki itu sudah meninggalkan rumah Aksara. Haruna memukul pelan lengan lelaki itu. "Aku kaget banget tahu, rame banget di rumah kamu tadi." Kata gadis itu kesal dan memulai percakapan mereka.
Aksara menghendikan bahunya. "Gue nggak tahu kalau keluarga bokap gue bakalan ke rumah. Lagian aneh aja yang keterima di PTN siapa tapi syukurannya di mana. Aneh banget," Lelaki itu mengatakannya dengan santai tetapi nada sinis yang terdengar tak bisa ditutupi oleh lelaki itu.
Haruna hanya mengangguk bingung, tidak baik juga dirinya bertanya lebih jauh.
***
Setelah mengantar lelaki itu kini mereka berdua ke tujuan lain mereka, supermarket. Berbelanja adalah kegiatan yang paling disukai Haruna, dia akan selalu semangat jika melakukan kegiatan tersebut.
Kali ini sedikit berbeda, jika saat berbelanja dengan ibunya ia akan menjadi pemimpin kini dirinya hanya sebagau pengikut—mengikuti Aksara yang berjalan di depannya dengan sebuah trolly belanja yang di dorong lelaki itu.
Mata gadis itu sejak tadi sibuk melihat bagian sushi yang seolah-olah memanggilnya. "Aksara, aku mau kebagian Sushi dulu ya." Beritahu gadis itu tanpa menunggu respon dari Aksara—yang terpaksa mengikuti gadis itu kebagian sushi.
Haruna mengambil berbagai macam sushi yang menurutnya menarik, gadis itu hanya ingat dengan dirinya saja saat itu. Ia bahkan tidak menawarkan Aksara, karena setelah meletakan sushi pilihannya gadis itu hanya tersenyum lebar kearah Aksara seolah-olah mengatakan 'ayo, aku sudah selesai mengambil sushinya'—Aksara ingin tertawa melihat ekspresi polos yang ditampilkan Haruna.
"Lo cuman mikirin diri lo doang ya kalau keluar sama gue." Kata Aksara terkekeh pelan. Haruna mengernyit bingung, tidak mengerti maksud dari perkataan Aksara. "Lo nggak ada nawarin gue sama sekali, Haruna." Kata pria itu gemas.
Gadis itu menatap lekat Aksara. "Kamu mau?" Barulah bertanya pada lelaki itu yang kini malah menertawakannya.
"Nggak, telat banget lo nanyain gue." Kata Aksara. "Ayo, kita cari yang kita butuhin." Ajak lelaki itu. Haruna mengangguk dan mengikuti Aksara yang berjalan di depannya. "Samping gue jalannya, lo kaya pembantu gue kelihatannya." Suruhnya.
"Kamu cerewet banget ternyata." Kata Haruna polos dan tetap mengikuti apa yang diminta Aksara.
Lelaki itu melirik sekilas Haruna yang sudah berada di sampingnya dan tersenyum kecil mendengarnya apa yang dikatakan gadis itu, dirinya hanya tetap melanjutkan perjalanannya walaupun sesekali melirik Haruna.
"Kamu mau makan apa? Aku cukup sushi aja." Kata Haruna saat mereka hanya mengelilingi supermarket tersebut.
"Gue bingung." Kata Aksara pelan.
"Beli aja ramen, makan itu aja." Usul Haruna.
"Oke." Kata Aksara dan menuju rak ramen.
***
"Aksara kamu nggak kembali ke apartment kamu? Aku bukan ngusiri tapi aku mau tidur." Kata Haruna lemas setelah mereka menyelesaikan empat bungkus ramen dan beberapa sushi yang dibeli Haruna, tak lupa es krim milik Aksara yang diambil oleh lelaki itu dari apartmentnya saat mereka kembali dari supermarket.
Aksara yang sedang memainkan ponselnya lantas menatap Haruna yang menatapnya dengan tatapan mengantuk, mata gadis itu benar-benar sayu. Lelaki ity tersenyum kecil, "Gue balik sekarang." Jawabnya pelan.
Haruna ikut bangun dari sofa yang di dudukinya saat melihat Aksara sudah berjalan kearah pintu apartmentnya. "Bye, Aksara. Semoga kamu nggak ganggu aku lagi." Kata Haruna asal.
"Seharusnya lo berterimakasih sama gue, lo nggak punya temenkan?" Ejek Aksara.
Haruna menggerutu kesal. "Punya!" Serunya kesal. "Kamu pergi aja deh, aku beneran ngantuk." Kesal gadis itu dan mendorong tubuh Aksara yang masih berdiri di depan pintunya.
Tubuh lelaki itu terdorong pelan, "Good night, Haruna." Kata Aksara tanpa suara. Tanpa mengatakan apapun Haruna langsung menutup pintu apartment miliknya.
Gadis itu menahan senyum yang tampil diwajahnya. 'Ya tuhan, seharusnya mereka—dirinya dan Aksara tidak terlalu dekat.'
KAMU SEDANG MEMBACA
THE END
Fiksi Remaja⚠️CERITA INI MURNI DARI IMAJINASI AUTHOR SENDIRI⚠️ Musim semi yang datang setelah musim dingin
