Bertahanlah

3.5K 363 8
                                    

"Lo bodoh Ra, ini semua salah lo. Chika sekarang hilang dan itu semua salah lo," batin Ara memaki dirinya sendiri.

Dengan tangan yang bergetar Ara mengambil telepon milik Chika. Tanpa berpikir panjang, Ara langsung berjalan menuju kasir.

"Mbak permisi, boleh saya lihat CCTV tokonya?"
"Kenapa ya mbak?"
"Pacar saya sekitar sepuluh menit lalu kesini mbak, terus sekarang hilang dan teleponnya kegeletak gitu aja disana," ucap Ara menjelaskan sambil menunjuk tempat dimana telepon Chika berada tadi.

Penunggu toko pun akhirnya memberikan izin untuk melihat CCTV tokonya. Ketika Ara melihat CCTV benar saja bahwa sesaat setelah Chika masuk ke dalam toko itu Vivi juga masuk dan seperti berbicara kepada Chika. Ara yang melihat hal itu langsung emosi dan rasanya ingin membunuh Vivi detik itu juga.

Setelah selesai melihat CCTV Ara mengucapkan terima kasih kepada penunggu toko itu dan berjalan menuju mobilnya berada. Ara sudah memasuki mobil dan akan menyalakan mesin mobilnya untuk mencari Chika, tiba-tiba telepon Chika berdering dan terdapat telepon masuk. Ara segera mengangkatnya.

"Halo Ara, gimana? Panik?"
"DIEM YA LO BANGSAT, KEMBALIIN CHIKA SEKARANG,"
"eits kok ngamook, sabar dong,"
"Dimana lo sekarang? Kalo berani lawan gua, gausah bawa-bawa Chika,"
"Gabisa lah, kan gua maunya Chika jadi milik gua bukan lo, gimana? Lu ikhlasin Chika buat gua apa Chika gua sakitin, kalo perlu gua bunuh sekalian aja kayaknya seru hahahha,"
"BRENGSEK,"
"ehh tenang dong, gimana?"
"Dimana lo sekarang?"
"Yakali gua kasih tau, ok gua kasih waktu 1 jam buat mikir, lebih dari itu ya lo liat aja apa yang bakal terjadi,"

tut.. tut.. tut..

"HALO HALO, BANGSAT,"

Ara sangat marah tapi dirinya memilih untuk menahan emosinya. Setelah cukup reda akhirnya Ara menjalankan mobilnya sambil menelepon teman bundanya.

"Halo tante, nomer yang Ara kirim apa tante bisa lacak posisi nomer itu sekarang dimana?"
"Oh gampang, emang kenapa Ra?"
"Itu nomer Vivi yang lagi dipake sekarang tante dan sekarang Chika lagi sama Vivi, mungkin sejam lagi nomer itu bakal dibuang sama Vivi, kalo boleh tau butuh berapa lama buat tau lokasinya ya tante?"
"Lima menit,"
"Ok tante Ara tunggu,"
"Ok Ra nanti lokasinya tante kirim, ini tante juga bakal berangkat ke lokasinya,"
"Iya tante, hati-hati ya te,"
"Kamu juga,"

Setelah beberapa menit akhirnya Akhirnya Ara mengetahui lokasi Vivi berada. Untungnya lokasi dimana Vivi berada tidak begitu jauh dari dirinya.

"Chika aku mohon bertahan dikit lagi, aku bakal sampe," ucap Ara dengan suara yang bergetar.

*****

"Hai sayang gimana jalan sama aku?" ucap Vivi sambil mengelus pipi Chika.
"Paan sih lo kak, nyetir yang bener gausah pake pegang-pegang," tepis Chika pada tangan Vivi.
"Lo udah gua lembutin masih bertingkah ya," ucap Vivi sambil menjambak rambut Chika.
"Akh.. sakit kak," rintih Chika kesakitan.
"Makanya sayang kalo gua masih ngomong baik-biak tuh gausah banyak tingkah,"

Chika semakin merintih kesakitan karena kuatnya jambakan Vivi kepadanya. Air mata pada mata Chika sudah tidak dapat ditampungnya lebih lama. Ingin sekali rasanya sekarang ini dirinya mengadu kepada Ara. Bahkan pacarnya saja tidak pernah melakukan hal ini kepadanya.

"Araa.." ucap Chika lirih dan sangat pelan.
"ARAA?" bentak Vivi sambil menatap tajam Chika.

Chika hanya terdiam.

Always With You [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang