Alarm berbunyi keras, membuat Adara terbangun pagi ini, "Hoaahhh..." Ia memaksa tubuh nya bergerak dan segera mandi.
Ia harus datang pagi. Setelah mandi, ia menuju lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.
"Kenapa hidungku sakit?" Tanyanya mengusap pelan bagian kanan hidungnya.
Ia melangkah ke meja wardrobe. Namun, sesuatu nampaknya membuat Adara tak bisa lagi menahan teriakannya.
"HUWAAAAAA!!!!!! MAMA!!!!!!!!!"
---
Dean melangkah ke arah ruangannya, namun ia mendapati seseorang memasuki ruangannya.
"Siapa itu?" Tanyanya berjalan mendekat.
Sosok itu nampak merapikan mejanya. "Adara?" Panggilnya. Wanita itu berbalik.
"I-iya tuan..."
"Kenapa kau mengendap-endap? Kenapa pakai masker?" Tanya Dean mendekat.
"Itu..." "Kau sakit?" Tanya Dean menyentuh kening Adara.
"T-tuan... Aku baik-baik saja..."
"Kenapa pakai masker?" Tanya Dean.
"Saya baik-baik saja..." Ucap Adara.
"Kenapa??" Tanya Dean melepas masker Adara. Ia terdiam beberapa saat.
"Apa yang ada di hidungmu ini? Plester?" Tanya Dean. Adara menahan malu, wajahnya memerah.
"Ini jerawat. Saya menutupnya dengan acne patch agar tidak terlalu terlihat..."
Dean yang tadinya terdiam, seketika tertawa keras.
"Astaga... Kenapa harus selalu itu?"
"Anda saja bisa tertawa! Bagaimana orang lain?!" Protes Adara.
Dean masih tertawa. Sementara Adara mendesis kesal.
"Jerawatnya di hidung! Jelas sekali kelihatannya!!!"
Dean mengusap kepala Adara. "Bahkan kau tetap lucu dengan jerawat itu."
Adara terdiam, ia menatap Dean yang tersenyum lebar.
"Tak perlu pakai masker, aku khawatir jika Jo mengira kau adalah penyusup. Dia tak pandai mengenali orang dengan masker." Ucap Dean.
Adara terdiam. Dean tersenyum tipis.
"Jerawat... Bukankah hal yang biasa untuk anak muda sepertimu?"
"Tapi ini di hidung. Sakit..." ucapnya mengusap pelan hidungnya.
Dean menatap gadis di depannya. "Berhenti protes, kembali ke ruanganmu..." Ucap Dean.
Adara mengangguk. Ia berjalan cepat-cepat keluar dari sana. Dean diam tetap memperhatikannya.
"Ada-ada saja..." Ucapnya pelan.
Adara menghembuskan nafasnya lega. "Aaahh!! Memalukan sekali..." Umpatnya.
Ia terdiam. "Seperti ada yang kurang..." Gumamnya.
Adara yakin ia melupakan sesuatu. "Jadwalnya!" Paniknya berbalik ke dalam ruangan Dean.
---
Dean terdiam di balkon kamarnya malam ini. "Papa, mau kalian bicarakan semuanya lagi, baik-baik..."
Dean diam menarik nafas dan membuangnya perlahan. Memang sial...
"Tuan..." panggil seorang pelayan. Dean menoleh, "Kenapa?"
"Nyonya dibawah..." "Siapkan kamarku di paviliun...." ucap Dean bangkit menyahut botol anggurnya. Ia menuruni tangga, mendapati Risa di ruang tengah.
Dean hanya diam melintas, "Dean! Tunggu..." Tangan Dean tercekal. Lelaki itu menghempasnya cepat.
"Jangan sentuh aku..." "Kita bisa selesaikan semua baik-baik..." "Semua sudah selesai, tak perlu repot-repot." ucap Dean.
"Kenapa kau seperti ini!?" teriak Risa. "Bisakah pelankan suaramu?" tanya Dean.
"Kenapa kau menceraikanku!? Aku tak menginginkan perjodohan ini!" teriak Risa. Dean menatap tajam kearah Risa.
"Itu cukup jadi alasan kenapa kau harus hamil anak laki-laki itu, pengkhianat. Pergi dari sini..." ucap Dean tenang.
"Kau tak bisa mengusirku?!" "Memang kenapa?!" teriak Dean balas. Ia mulai muak.
"Ada apa ini?" Tanya Oma tiba-tiba muncul. Dean menoleh, "Oma..."
"Kenapa kalian ribut?" Tanya Oma.
"Oma, maaf... Kami hanya..."
"Siapa yang berkhianat?" Tanya Oma. Deg...
Dean mematung disana. Risa terdiam, "Kalian bertengkar tentang apa?" Tanya Oma.
Dean menggeleng. "Tidak, oma. Kami hanya salah paham." Ucap Dean menahan diri.
"Risa... Masuk ke kamar..." Ucap Dean pelan.
Risa diam menurut. Ia segera berjalan menuju kamarnya. "Oma..."
"Kenapa harus malam-malam..." "Maaf, oma."
"Sudah. Oma ingin istirahat." Ucap Oma berbalik menjauh.
Dean diam membiarkan oma kembali masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak bisa begini." Ucapnya berbalik menyusul Risa.
"Risa..." Panggilnya agak keras dan menutup pintu cepat.
Wanita itu menoleh menatap Dean. "Aku tidak mau cerai."
Dean menggeleng, "Aku sudah tak kuat mengingatnya. Kau akan bahagia bersama laki-laki itu." Ucap Dean.
---
Adara menyandarkan kepalanya ke sofa. Hari yang biasa untuk dia yang biasa, kecuali kejadian acne patch yang memalukan.
"Hah... Sialan..." Umpatnya pelan.
Ponselnya berdering. "T-tuan Dean? Ada apa malam-malam telepon?"
"Malam tuan..."
"Besok aku tidak masuk, jam 3 sore antar dokumen yang mungkin harus ku tandatangani. Ke rumah."
Adara diam. Tumben... "Kenapa anda tidak ke kantor?" Tanya Adara.
"Aku ingin dirumah. Lakukan saja tugasmu. Paham?" Tanya Dean.
Adara mengangguk. "Baik tuan..."
Tuttt...
"Tak biasanya tuan Dean seperti ini. Apa ada masalah lagi?" Batin Adara.
"Aahh... Ikut campur saja. Aku hanya sekretarisnya, kenapa harus memikirkan yang lain." Ucap Adara.
Keesokan harinya, benar saja banyak tumpukan file yang harus Dean tanda tangani.
"Kasihan tuan..." Ucapnya pelan menatap tumpukan dokumen itu.
Ia melangkah keluar. "Pak!?" Teriaknya pada seorang OB.
"I-iya, nona..." "Sini..." Ucap Adara.
OB itu mendekat. "Pak, panggil beberapa teman OB mu, bawa dokumen ini semua ke mobilku. Ini kuncinya. Letakkan di kursi belakang. Mengerti?" Ucap Adara memberikan kunci mobil miliknya.
OB itu mengangguk dan mulai melaksanakan tugasnya.
Ponsel Adara berdering, kali ini...
"Antar ke apartement ku... Aku kirim alamatnya."
Pesan dari Dean.
"Apartement?" batin Adara.
-tbc-
KAMU SEDANG MEMBACA
Beauty And The Boss
RomanceAdara mendapatkan tugas untuk magang di sebuah perusahaan terbesar di kota berkat nilai pendidikannya yang terlampau memuaskan. Ia mendapat tempat sebagai sekretaris yang harus menghadapi boss nya yang dingin. Namun, semua tak sesuai ekspetasinya. ...
