wanita itu sama seperti bunga, mereka harus diperlukan dengan lembut, baik dan penuh kasih sayang.
-TRD-
✨🌻✨

happy reading
Sebuah motor sport hitam melesat cepat membelah jalanan kota yang sedikit lenggang. Hanya memakan waktu lima belas menit untuk sampai dirumah Fara. Mereka memasuki pekarangan rumah bernuansa putih yang kelihatan sangat sepi. Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Namun... seperti ada sedikit kejanggalan di sana.
Devan menggendong gadis dibelakangnya dengan ala bridal style. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah agar segera di berikan perawatan. Ya, gadis itu demam. Pasalnya saat di perjalanan tadi mereka kehujanan.
Bi Kinanti, asisten rumah tangga Fara membukakan pintu dan mempersilahkan Devan untuk membawa anak majikannya ke kamar. Bi Kinan berlari kecil menunjukkan kamar anak majikannya dan diikuti Devan dibelakang.
"Kamu siapa? Kenapa non Fara sampai seperti ini?" Tanya Bi Kinan kepada Devan dengan raut cemas.
Devan tersenyum tipis. "Saya Devandra teman sekolah Fara, Bi. Saya gak akan berbuat diluar batasan kok. Tadi saya lihat anak itu menunggu bus tapi tidak ada yang lewat, makanya saya antarkan pulang, tapi sialnya malah kejebak hujan." Jelas Devan.
Mendengar ucapan Devan, Bi Kinan bisa bernafas lega. "Alhamdulilah, terimakasih. Kamu anak baik." Balas Bi Kinan sembari menepuk bahu Devan sebanyak dua kali.
Tanpa berlama lama Bi Kinan segera mengambil kompresan di dapur. Tak lupa Bi Kinan menitipkan anak majikan kepada Devan sebentar.
Tidak sampai dua menit Bi Kinan kembali dengan membawa satu baskom dan handuk untuk mengompres demam Fara.
"Biar saya aja, Bi. Bibi lanjutin masak gih." Tawar Devan.
Bi Kinan terkekeh. "Ya sudah kalau begitu ini den Devan yang kompres. Bibi tinggal ke dapur sebentar mau buatin non Fara bubur. Nanti kalau ada apa-apa langsung panggil bibi ya, di dapur lantai bawah." Ucap Bi Kinan lembut sembari memberikan baskom berisi air itu kepada Devan.
"Siap.." ucap Devan terkekeh.
Devan memeras handuk kecil yang basah terkena air, kemudian menempelkan di kening Fara dengan lembut. Devan mengompres kening Fara dengan telaten.
Laki-laki bermarga Prabagistara itu mengamati teluk wajah gadis dihadapannya dengan seksama. Ia sedikit menarik bibirnya keatas. "Cantik."
Devan mengelus lembut pipi Fara dan menyelipkan anak rambutnya yang sedikit menutupi wajah. Lagi lagi cowok itu tersenyum "kalo gini lebih cantik."
Sepuluh menit lamanya cowok itu enggan melepaskan pandangannya ke wajah cantik gadis dihadapannya. Senyum tipis milik cowok itu tiba-tiba berubah ketika..
"Samudra pergi lo, brengsek"
"Gue gak mau liat muka lo lagi, Samudra harusnya mati"
Tiba-tiba darah yang berada di dalam tubuh Devan seakan mengalir dengan deras. Bukan bermaksud apa-apa hanya saja ia takut jika Fara menyadari keberadaan dirinya di kamar gadis itu.
°^°
Pukul 08.00 Devan baru menginjakkan kakinya di rumah. Saat tiba di ruang tengah laki-laki itu sudah disambut oleh suara periang dari adik perempuannya.
"Abang..." Teriak Flora, adik perempuan Devan.
Gadis berselisih dua tahun dengannya itu berlari dan berhambur ke pelukan sang kakak. Bagi Flora mendekap ke pelukan kakaknya adalah salah satu hobi yang ia sukai.
Flora melepaskan pelukannya. "Abang bau asem." ucap Flora dengan sok menutup hidungnya rapat-rapat.
Devan menunduk menatap adiknya yang jauh lebih pendek darinya. Ia menggunyel pipi gembul milik Flora sekilas. "Kata siapa abang bau, hm?" Tanya Devan.
"Kata Flora, Abang baru pulang pasti abis ketemu sama curut-curut abang kan?" Tanya Flora sok marah.
"Sekarang pinter ya ngomongnya, diajarin siapa, hm? Tanya Devan lagi.
"Siapa lagi kalo bukan buaya darat abang." Balas Flora kemudian terkekeh kecil mengingatnya. Hm, siapa lagi kalau bukan Kenzie. Manusia itu kan memang sudah terkenal buayanya.
Tak lama berbincang dengan sang adik, kedua orangtua mereka datang. Aura mafia sekaligus CEO menyatu di keduanya. Mereka sudah rapi dengan memakai style baju yang serba hitam. Dari atas kepala sampai bawah kaki. Tak lupa dengan pistol yang dimasukan ke dalam selah saku milik Praba, ayah Devan dan Flora.
Devan mengerutkan keningnya. "Kalian mau kemana?" Tanyanya.
Praba tersenyum smrik. "Jaga adikmu. Ayah mau menjalankan misi sebentar" ucapnya sembari memakai kacamata hitam di tulang hidungnya.
Devan tau betul dimana arah perkataan ayahnya itu. Jika ini menyangkut dengan keadilan Devan pasti akan mengizinkan mereka untuk menjalankan misi.
°^°
Setelah mandi selama kurang lebih dua puluh menit Devan memilih rebahan diatas kasur bigsize nya. Ia mengambil handphone nya diatas nakas sebelum menyeruput kopi yang sempat dibuatkan oleh asisten rumah tangganya.
☠️VANDALAS'07☠️
geng..
gue semakin yakin buat pecahin misi ini
zafran
gue dukung, van
alen
orang itu bahaya, lo harus hati-hati @you
gue tau itu
kenzie
misi apasi, misa misi kek punya masalah aja lo pada
reano
lo gatau apa apa mending diem @kenzie
lebih baik lo diem atau mau gue sayat tangan lo, hm? @kenzie
kenzie
ampun bos gak lagi lagi
☺️🙏🏼
Devan menekan tombol menu di handphonenya. Ia berdecih, Kenzie benar-benar tidak bisa diandalkan. Jika membahas betina saja encer otaknya. Sekali membahas misi Vandalas otaknya kosong.
Setelah merenung beberapa saat Devan benar-benar yakin untuk segera memecahkan misi dan mencari keadilan. Ia terus kepikiran dengan kata kata seseorang tadi. Manusia tak berotak itu harus segera dimusnahkan dari dunia.
•••
TBC
KRITIK DAN SARAN DARI KALIAN SANGAT MEMBANTU AKU BUAT MEMPERBAIKI CERITA INI KEDEPANNYA.
JANGAN LUPA FOLLOW WP : BERRYBUFFY.
MASUKAN CERITA TRD KE READING LIST DAN LIBRARY KALIAN YA🖤
DAN JANGAN LUPA VOTE KOMEN DAN SHARE CERITA TRD KE TEMEN KALIAN.
SEE U
KAMU SEDANG MEMBACA
THE REVENGE DEVAN
Teen FictionFOLLOW SEBELUM BACA⚠️ _____________________ JUDUL AWAL : DEVANDRA ingin bahagia, membahagiakan dan di bahagiakan from : eona _____________________ 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐲 𝐭𝐨 𝐫𝐞𝐚𝐝 𝐭𝐡𝐢𝐬 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲? Menceritakan tentang seorang gadis bernama Elfara Annas...
