do you understand?

1.4K 273 21
                                        

Suara pena yang beradu dengan kertas memenuhi ruangan kelas yang tadinya hening. Dua orang kaum adam itu terlihat terduduk manis dalam satu ruangan. Sang pemuda berkacamata terlihat sedang mengerjakan soal latihan dan sesekali menjelaskan, namun pemuda yang lain malah menangkup dagunya dengan tangannya, seolah atensinya bukanlah soal, namun lelaki dihadapannya.

Sang lelaki berkacamata hendak ingin menjelaskan kembali, namun sekali lagi iris mereka bertemu, bukannya bertanya tentang soal yang sulit, sang pemuda tinggi malah menatapnya lekat, kemudian tersenyum tampan. Membuat lelaki berkacamata itu semakin kesal.

Sudah tiga puluh menit, dan dia-Hanma- selalu melakukan itu.

Kisaki menghela nafasnya dengan berat. "Apa kau mendengarkan apa yang tadi kujelaskan? Kenapa kau selalu menatapku?" Kali ini Kisaki memberanikan dirinya untuk bertanya. Jujur, Kisaki bukan enggan berbicara dengan lelaki ini, namun Ia sedikit takut dengannya.

Siapa yang tidak takut dengan si malakat maut Hanma? Berandalan gila yang berani menghajar sepuluh orang sekaligus hingga terluka parah?

"Huh? Aku terus menatapmu ya?"

Suara berat khas milik Hanma langsung memasuki indra pendengaran milik Kisaki. Ia masih menatap Hanma, namun lagi-lagi lelaki itu tersenyum padanya.

Tangan milik Kisaki meremat pena miliknya dengan erat, kenapa orang yang bernama Hanma ini begitu aneh? Apa dia akan membunuhnya sekarang?

Dengan segala pikiran negatif miliknya, alis milik Kisaki berkerut, Ia terus menatap Hanma dengan serius, begitupun Hanma yang menatap Kisaki.

Sesaat hening menyelimuti mereka, namun tak diduga Hanma malah melepas tawa yang sontak membuat Kisaki terdiam mematung.

"Kenapa kau tertawa?!" Kisaki berseru, namun Hanma masih saja tertawa. Rasanya sudah lama sekali Ia tak tertawa bebas seperti ini.

"Ahahaha, maaf maaf... Kau sangat menggemaskan jadi aku tidak bisa menahannya." Ujar Hanma disela tawanya. Kemudian lelaki tinggi itu melanjutkan, "Kau terlalu lucu, sehingga mataku tak bisa teralih darimu, maaf saja kalau pelajarannya tidak kuperhatikan."

Hanma menyeringai jahil, namun Kisaki terlihat masih mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Hanma barusan.

Lelaki berkacamata itu kemudian mendengus kesal, "Hentikan bualanmu itu, cepat kerjakan nomor lima sampai nomor dua puluh. Dasar.. Kau ini sangat menyebalkan." Kisaki berujar sambil membetulkan kacamata miliknya yang sedikit longgar.

Hanma hanya bisa terdiam. Sedikit kesal karena lelaki didepannya tak menggubris perkataannya dengan serius, namun sekali lagi Ia tersenyum lalu berkata, "Ah malesin, nggak mau. Kau traktir aku dulu, baru aku akan mengerjakan soal ini, bagaimana?"

Kisaki menutup mulutnya, namun rasa kesalnya tak bisa Ia sembunyikan. Ingin sekali Ia menendang bokong Hanma ke jurang sekarang juga, tapi sepertinya khayalannya itu harus Ia singkirkan terlebih dahulu. Dengan berat hati, Ia mengangguk.

"Ck, baiklah. Tapi aku akan memberimu tambahan soal untuk besok dan seterusnya. Tidak ada kata ampun." Balas Kisaki dengan mantap, kali ini Kisaki yang menyeringai, menandakan kalau Ialah yang telah menang.

Hanma tampak tersentak untuk sesaat, namun tak lama Ia menghela nafasnya. "Haha, kau memang menarik Kisaki."

Dengan itu lelaki tinggi itu mengambil pena miliknya, lalu mengalihkan atensinya ke buku catatan miliknya.

Dilain sisi Kisaki hanya duduk terdiam, ternyata Hanma tidaklah semenakutkan itu, melainkan ia hanya menyebalkan. Untuk kedepannya, Kisaki tidak tahu bagaimana nasibnya kalau Ia terus bersama Hanma.

"Hei Kisaki."

Sekali lagi, lelaki dihadapannya memanggil namanya.

"Apa?"

"Kau harus tersenyum sesekali, wajahmu itu akan kelihatan lebih manis nantinya. Apa kau mengerti?" Hanma menatapnya untuk sekali lagi, kali ini dengan seringaian jahil miliknya.

"Dasar bodoh."

Jawab Kisaki dengan ketus, namun ucapannya malah dibalas oleh kekehan milik Hanma.

Tanpa mereka sadari, ruangan kelas itu terasa sedikit lebih hangat.

.

.

.

To be continued.

colourful | hankisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang