strawberry flavor

1.5K 245 71
                                        

Bel istirahat telah berdering, namun lelaki itu masih saja tinggal dimeja miliknya. Samar-samar dengkuran halus terdengar darinya, menandakan kalau ia tengah terlelap.

Ini kali pertama Hanma tidak bolos mata pelajaran, dan ia malah menghabiskan  waktunya untuk tertidur dimeja miliknya sendiri sepanjang pelajaran matematika berlangsung. Memang tipikal Hanma sekali.

Siang hari itu, suara gemersik dedaunan seolah menjadi lagu pengantar tidur bagi Hanma. Namun tak lama, rasa sakit dari kepalanya membuat ia buru-buru tersadar dari tidur siangnya itu.

"Ow! Keparat! siapa–"

Beberapa detik kemudian, maniknya sukses terbuka dengan sempurna, dan yang pertama kali lelaki itu lihat adalah wajah datar milik seseorang yang tak asing. Digenggamannya, terlihat ada buku catatan milik Hanma.

Hanma tersentak, lalu dengan terburu-buru segera duduk dengan wajah yang sedikit terkejut. Ternyata lelaki yang membangunkannya itu tak lain adalah Kisaki, lelaki yang akhir-akhir ini membantu Hanma dalam pelajaran tambahannya.

"Bangun dasar bodoh." Kisaki dengan tak tahu malu malah memukul kepala Hanma dengan buku catatan itu untuk sekali lagi, yang langsung membuat sang empu meringis. Walau tak begitu sakit, namun Hanma sedikit kesal. Kenapa dia berani menganggu waktu tidur siangnya yang berharga? Apakah Kisaki ingin bertemu dengannya?

Pikiran itu terus menerus bergelut dipikiran Hanma, dilain sisi sedikit membuatnya agak senang karena Kisaki datang ke kelasnya. Dengan itu, raut wajahnya berubah seketika.

"Kisaki apa kau merindukanku? Kenapa kau kemari?" Tanyanya dengan sedikit iseng, membuat Kisaki memasang raut wajah ingin muntah.

"Ini buku catatanmu, kemarin tak sengaja kubawa." Dengan nada yang cukup dingin, Kisaki menjawab, lalu tangannya bergerak untuk menyodorkan buku itu kepada Hanma. Lantas, Hanma mengambil buku itu dengan sedikit kecewa.

Ternyata karena buku toh.

Hanma menatap buku catatan digenggamannya itu dengan lamat. Tak tahu mengapa, namun pikirannya seolah memerintahkannya untuk bisa menahan Kisaki sedikit lebih lama bersamanya.

Ah, benar. Ia mempunyai ide.

Hanma menyeringai, tangan yang terukir oleh tato 'dosa' itu kemudian meraih lengan Kisaki dengan cepat sebelum ia pergi untuk meninggalkan kelasnya, membuat lelaki berkacamata itu bertanya-tanya didalam hati.

"Hey, kau pikir kau bisa pergi begitu saja dariku?" Ujar lelaki itu dengan suara beratnya yang khas. Sedikit serak karena ia baru saja bangun dari tidurnya.

Untuk beberapa detik, hening menyelimuti mereka berdua, sebelum Kisaki menjawab dengan kata-kata dinginnya seperti biasa,

"Apa maumu kali ini Hanma?" Bibir miliknya berucap dengan tak segan kali ini, yang sontak membuat Hanma membulatkan matanya. Sesaat, Hanma tampak terdiam, kemudian ia berkata, "Traktir. Kemarin kau janji kan?"

Tak disangka, lelaki tinggi itu malah meminta Kisaki untuk mentraktir dirinya. Membuat lelaki berkacamata itu jadi semakin kebingungan. Ia mematung terdiam untuk sesaat.

Dengan wajah yang kesal dan hati yang berat, Kisaki menghela nafas lelah, kemudian mengangguk pasrah. Toh, memang ia sudah berjanji sih, jadi ia tak bisa menolak permintaan Hanma.

"Kau ingin apa?" Tanpa basa-basi, Kisaki kemudian bertanya dengan singkat dan jelas. Sungguh, Kisaki ingin cepat-cepat pergi dari sini, ia tak ingin berlama-lama berhadapan dengan lelaki menyebalkan semacam Hanma. Bisa-bisa ia terkena darah tinggi nantinya, Kisaki tak mau hal itu sampai terjadi.

Mendengar pertanyaan itu, Hanma kemudian melepaskan tangannya dari lengan Kisaki, lalu ia meletakkan jari tangannya di dagu miliknya, seperti pose seseorang yang sedang berpikir dengan keras.

colourful | hankisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang