side story : a friend suggestions

1.1K 195 28
                                        

Suara yang terdengar dari kelas itu samar-samar terdengar sedikit berisik. Tepatnya, suara itu muncul dari satu tongkrongan para pemuda yang asyik mengobrol santai. Mereka saling melempar lelucon dan sesekali tertawa heboh, membuat suasana kelas pada pagi hari itu semakin ramai.

Siapa lagi kalau bukan Baji dan Kazutora yang membuat keributan? Kedua pemuda itu saling jambak sekarang. Katanya sih perihal tim sepak bola yang kalah pada pertandingan semalam di televisi. Mereka mendukung kubu yang berbeda, ditambah Kazutora yang mengatakan bahwa tim yang didukung oleh Baji adalah tim ampas.

Mendengar ucapan itu, Baji menjadi kesal, dan mereka berakhir dengan pertengkaran yang sedikit konyol.

Kokonoi hanya bisa tertawa heboh kala menyaksikan perdebatan itu. Sedangkan, Ran, dia sedang sibuk menulis PR fisika yang sempat ia lupakan, sekaligus berpura-pura kalau ia tidak mengenal satu pun dari mereka.

Dasar memalukan.

Ran menghentikan kegiatan menulisnya untuk sesaat, menatap pemuda yang duduk didepan bangkunya dengan tatapan heran.

"Hanma ada apa denganmu?" Tanya lelaki yang dikepang itu.

Ia benar, Hanma sedikit aneh, melihat lelaki tinggi itu memilih untuk terdiam dan tidak melakukan sesuatu yang ekstrem membuatnya sedikit merinding.

Hanma sedang kerasukan apa sehingga ia menjadi kalem seperti itu?

Lelaki yang dipanggil namanya sedikit tersentak. Ia kemudian menoleh kebelakang, menatap Ran, lalu tersenyum kaku. "Huh? Aku? Baik. Terimakasih sudah bertanya." Ucapnya dengan nada tengil.

Ran mengubah raut wajahnya malas. Membuat Hanma tertawa.

"Kau sedang apa? Rajin sekali kau Ran, lebih rajin daripada ketua kelas kita ya, hahaha!" Ujar Hanma disela tawanya. Ketua kelas yang ia maksud adalah Kakucho Hitto, lelaki itu bahkan tidak terlihat dikelasnya sekarang. Hanma menduga bahwa temannya itu pasti sedang kasmaran dengan seorang anak dari kelas A.

Meski Kakucho tidaklah satu circle dengan Hanma, lelaki itu cukup dekat dengannya. Mereka punya hobi yang sama, yaitu sama-sama menyukai untuk bermain gitar. Namun, semenjak Kakucho mejalin hubungan dengan seorang lelaki cantik bersurai putih dari kelas A, Kakucho jarang menghabiskan waktu dengannya lagi. Meskipun begitu, mereka tetap akrab-akrab saja sih.

Menepis pikiran itu, Hanma kemudian menanyakan perihal tentang apa yang Ran kerjakan sekarang. "Kau sedang apa sih? Terlihat sibuk sekali? Atau memang kau yang berlagak sibuk?"

"Sialan, tidak. Ini, aku mengerjakan PR fisika." Ran menjawab, sembari menulis rumus-rumus fisika itu dengan cepat.

"Tumben kau belum mengerjakannya?"

Ran menghela nafas berat. "Lupa, kemarin aku dan Rindou keasyikan menghajar seseorang di Roppongi." Jawabnya singkat.

Hanma mengangguk paham. Dari yang ia tahu, Rindou adalah adik Ran.

"Hey Hanma, waktu itu, kenapa kau tidak ikut barbeque dirumahku?" Kokonoi secara tiba-tiba bergabung dengan pembicaraanya, ia lalu menggeser kursinya kesebelah Hanma.

Lelaki tinggi itu sedikit berkeringat. "Itu urusanku, kenapa kau ingin tahu?"

Kokonoi tertawa. "Yah, aku sudah tau sih."

"Kau memiliki seorang kekasih ya sekarang? Siapa pacarmu itu? Sanzu anak kelas sebelah? Atau Yuzuha dari tim voli? " Tanya Koko, sambil menerka-nerka, wajahnya sangat menyebalkan dimata Hanma.

"Oi, Sanzu itu pacar adikku sialan. Kau akan aku adukan ke Rindou ya." Timpal Ran, protes.

Hanma tertawa konyol kemudian. "Brengsek. Aku bahkan tidak mengenal salah satupun dari mereka."

Koko bergidik. Kemudian ia berkata, "Jadi, siapa pacarmu itu? Siapa yang bisa membuat si malaikat maut kita menjadi berubah seperti ini?"

Hanma memutar bola matanya malas. "Aku tidak punya pacar.. lagipula kita cuma teman."

Teman? Teman macam apa yang sudah berani mencium pipinya seperti itu?

"Oh? Kukira kau sedang kasmaran? Kau terlihat lebih sering tersenyum belakangan ini, Kau tahu?" Ceplos Ran, alisnya mengkerut, tanda ia sedang heran. PR fisikanya tampak sudah selesai ia kerjakan.

"Kasmaran matamu? Aku tidak sedang jatuh cinta bangsat."

Sedetik setelah Hanma mengucapkan hal itu, Koko tertawa lagi, kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Ran, yang juga mendengar hal itu kemudian menggeleng lelah.

"Hanma kau ini tololnya sudah tidak tertolong ya." Ran berujar, membuat Hanma sedikit kesal dibuatnya.

"Jawab pertanyaanku."  Ucap Ran sekali lagi. Hanma menatap lelaki itu dengan wajah masam kali ini. Baru pertama kalinya ia sebal dengan seseorang.

"Kau pasti sering merasa senang ya jika dekat dengannya?" Tanya Ran, Hanma mengangguk pelan dengan wajah yang sedikit terkejut.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau ingin memeluk dirinya tidak??" Kali ini gantian dengan Kokonoi yang bertanya, Hanma terdiam sesaat, lalu mengangguk lagi.

"Apa perutmu terasa aneh kalau bersentuhan dengannya?" Ran menyeringai, lalu telunjuknya menunjuk kearah wajah Hanma dengan bersemangat. Lelaki tinggi itu terlihat bingung, tetapi ia mengangguk lagi dengan cepat.

Melihat hal itu, Koko dan Ran sama-sama menatap satu sama lain, kemudian mengangguk mantap.

"Hoi! Baji, Kazut! Kemari cepat!" Panggil Koko. Dua pemuda yang masih berdebat itu kemudian menoleh. Spontan membuat mereka menghampiri Koko, Ran dan Hanma yang tengah duduk.

"Ada apa?" Ujar mereka dengan berbarengan.

Ran tidak bisa menahan tawanya. Sontak, Hanma hanya menatap teman-temannya itu dengan bingung.

"Si Hanma Shuji ini! Yaampun!" Koko tertawa kencang. Tanpa basa-basi, ia kemudian menjelaskan kepada Baji dan Kazutora apa yang sudah terjadi.

Kazutora yang mendengar itu lantas menggeleng tidak percaya, begitu pun Baji yang terlihat memasang wajah konyol.

"Kalian ini kenapa sih?!" Teriak Hanma, kesal.

"Sepertinya aku tahu apa yang kau alami sekarang, Hanma." Kazutora membuka suara.

Ada jeda untuk beberapa detik sebelum mereka berseru secara bersamaan.

"Kau ini sedang jatuh cinta tolol!"

Hanma membisu seribu bahasa.

"Oke. Jadi, apa yang harus aku lakukan jika aku jatuh cinta? Mendaki gunung Everest?" Tanya Hanma lelah.

"Ajak dia kencan lah." Baji tiba-tiba menyeletuk, membuat para lelaki itu terdiam hening untuk sesaat, sebelum Ran berteriak dengan kencang.

"IDE BAGUS BAJI!"

"Terimakasih, padahal aku sangat ngasal menjawab pertanyaan itu." Timpal Baji dengan wajah bangga, Kokonoi lalu menggeplak kepalanya dengan uang yang ia simpan dikantung kemejanya.

Kazutora tertawa heboh.

"Aku benci mengatakan hal ini, tapi terimakasih. Kalian terkadang memang bangsat, tapi kali ini kalian ada gunanya juga." Hanma menghela nafasnya, tersenyum tipis kemudian.

"Itu gunanya seorang teman bukan?" Ujar Ran, mereka semua mengangguk mantap.

Kemudian, bel berbunyi, menandakan kalau pelajaran akan segera dimulai. Para pemuda itu akhirnya kembali ketempat duduk masing-masing.

Meninggalkan Hanma yang memikirkan matang-matang tentang saran dari teman-temannya itu. []

colourful | hankisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang