Semenjak lelaki bak tiang itu menciumnya diatap sekolah, Kisaki tak berani untuk menatap matanya lagi, ataupun bertemu dengannya.
Lelaki tinggi itu memang sering mencarinya dikala di jam istrirahat tempo hari. Bahkan ia juga sampai berbicara dengan teman-temannya seperti Izana, juga teman satu lesnya, yang tak lain adalah Takemichi.
Setiap kali ia menanyakan keberadaan Kisaki, irisnya seringkali menyorotkan rasa bersalah.
Dia tak terlihat seperti Hanma si pembuat onar.
Setidaknya itu yang mereka katakan padanya.
Tetapi gengsi seolah menguasai dirinya belakangan ini. Ia mencoba tak peduli dan terus menghindar dari lelaki itu.
Jujur, ia sedikit menaruh rasa kasihan pada Hanma, tapi dirinya juga belum siap untuk bertemu dengannya usai kejadian di atap sekolah.
Katakan bahwa Kisaki pengecut. Ia tak masalah, karena ia memang benar-benar pengecut.
Jauh didalam lubuk hatinya, ia ingin kembali berbicara dengan lelaki menyebalkan itu, namun ia terlanjur memulai konflik dengan dirinya sendiri. Ia takut. Sangat takut akan perasaan yang membuatnya terlena beberapa hari belakangan ini.
Ia takut dengan perasaan yang orang-orang sebut dengan cinta.
Ia tak mengerti dengan perasaan yang disebut cinta, dan juga ia sama sekali tidak mengerti tentang manusia.
Kisaki berani bersumpah bahwa hal ini lebih sulit dimengerti daripada soal olimpiade matematika.
Ia benar-benar bimbang.
Benar bahwa beberapa hari belakangan ini mereka tak bertukar pandang, namun pada sore hari ini, tepatnya pada hari Minggu, tepat pukul jam empat sore, ketika lelaki berkacamata itu sedang sibuk untuk mempersiapkan ujiannya pada esok hari, ia mendengar suara aneh didepan rumahnya. Sontak, membuat Kisaki agak merengut, pasalnya suara itu tak asing ditelinga miliknya.
Suara itu, suara motor.
Dan ia tahu siapa pemiliknya.
Dengan perasaan yang sedikit ragu, kakinya melangkah menuju jendela kamarnya, membuka tirai, kemudian maniknya secara otomatis menangkap siluet seseorang yang selama ini ia hindari.
Benar, itu adalah siluet Hanma.
Kisaki secara refleks kemudian kembali menutup tirai kamarnya, kakinya melangkah mundur seolah tak percaya apa yang dilihatnya. Dan disaat yang bersamaan, ponselnya terus berdering. Kisaki segera mengambil ponselnya, dan benar saja bahwa Hanma terus mengirimkannya pesan.
Dan ya, sekarang pemuda itu malah ada didepan rumahnya.
"Sinting!"
Lelaki itu benar-benar gila.
Dengan kesal, ia mengabaikan semua pesan dari lelaki itu, kemudian secara acuh kembali kemeja belajarnya dan mulai mengerjakan soal-soalnya yang tertunda. Persetan dengan manusia tiang yang menyebalkan itu!
***
Satu jam mulai terlewati dengan cepat. Kisaki bahkan hampir melupakan eksistensi pemuda tinggi itu didepan rumahnya.
Sekarang ia pasti sudah pergi kan?
Iya kan?
Percaya akan hal tersebut, Kisaki akhirnya beranjak dari meja belajarnya, lalu kembali mengintip dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua, berekspetasi bahwa prensensi dari lelaki bernama Hanma Shuji yang menyebalkan itu telah lenyap.
KAMU SEDANG MEMBACA
colourful | hankisa
Fanfiction" just by interacting with you, by the time I realise it, this world becomes colorful, as if flowers are blooming. " ; love letter - yoasobi status : [ COMPLETED ] warn ; cliché written in INA language. © tokyo revengers and all characters belongs...
