Hembusan nafas yang tersengal, samar-samar terdengar dari gedung yang tampak besar tersebut.
Tubuh itu dipenuhi oleh bulir keringat, seragam putih miliknya terlihat urakan.
Dasinya sudah terlepas, dan kancing dadanya sedikit terbuka. Begitu pula dengan almamater biru miliknya ia biarkan tergeletak begitu saja di lantai.
Pemuda tinggi itu berlari sambil menggiring bola berwarna oranye dengan cekatan, ia kemudian melompat, dan bola itu sukses masuk kedalam ring dengan sempurna.
Itu cetakannya yang ke tiga puluh empat.
Hanma lantas tersenyum bangga.
Sekolah telah usai, namun pelajaran tambahan menanti dirinya.
Entah kenapa, ia terlihat tidak tertarik, atau memang ia yang lupa waktu.
Hanma menghabiskan waktunya di gedung olahraga sekolah. Namun kali ini tak ada siapapun yang menemani. Gedung itu terasa sangat sepi, hanya ada suara decit sepatu miliknya, dan juga suara pantulan bola yang sedikit nyaring.
Sebelumnya memang ada beberapa teman Hanma yang kebetulan sedang berlatih basket, namun tampaknya mereka sudah pulang, meninggalkan Hanma seorang diri.
Dari raut wajahnya, sang pemuda tinggi tampak letih. Sekali lagi, rambutnya ia biarkan turun begitu saja. Untuk hari ini, tidak ada luka memar di wajah tegasnya.
Hanma menghembuskan nafas lelah, ia kemudian bersandar pada dinding putih aula, terdapat sekeranjang bola basket yang tergeletak disampingnya.
Hanma menatap bola basket itu untuk sekilas, kemudian lelaki itu menggeleng pelan. Tangannya bergerak untuk mengusap dagunya yang meneteskan peluh keringat.
Ia terengah, kemudian tangannya bergerak keatas, menyisir rambutnya yang sedikit basah.
"Haha sial, menghabiskan waktu untuk bermain basket ternyata menyenangkan juga."
Lelaki itu kemudian tersenyum tipis sambil meregangkan kaki panjangnya yang pegal. Sedikit bertanya-tanya apakah ia harus mengikuti klub basket atau tidak. Tapi Hanma tak ambil pusing, ia sangat malas mengikuti kegiatan klub. Jadi, kemungkinan besar jawabannya adalah tidak.
Pergi ke sekolah, dan bertemu Kisaki itu sudah cukup baginya.
"Eh."
Manik keemasan miliknya sedikit membulat kala memikirkan tentang lelaki mungilnya. Sial, dia baru saja mengingat kalau hari ini ada pelajaran tambahan bersama Kisaki. Raut wajahnya seketika berubah dalam sekejap.
"Ah bangsat- hampir saja aku lupa!" Lelaki itu lekas berdiri dengan sangat terburu-buru, ia mengambil almamaternya yang sedari tadi tergeletak dan memakainya dengan tergesa, membuat penampilannya sedikit berantakan.
Namun ketika ia hendak keluar, langkah kaki terdengar-
"Oh. Rupanya kau disini."
Hanma menelan ludahnya dengan kasar.
"Aku sudah menunggumu selama dua puluh menit dan kau malah di gedung olahraga? Berniat membolos?" Lelaki berambut pirang itu berujar dengan penuh kesal.
Hanma terus merutuki dirinya yang sudah melupakan jadwalnya bersama Kisaki. Pemuda tinggi itu hanya bisa tersenyum polos tanpa dosa. Melihat hal itu, hampir saja membuat Kisaki naik darah.
"Kau mencariku ya Kisaki?" Hanma lantas berjalan kearah Kisaki yang sudah berdiri diambang pintu masuk. Sedikit melontarkan pertanyaan jahil untuk mengalihkan perhatian Kisaki.
Mendengar perkataan Hanma barusan, lelaki yang lebih pendek itu lantas mendengus kesal,
"Tidak. Ayo ke kelas, jangan harap kau bisa kabur."
Kisaki hendak pergi dari gedung itu, namun tangan milik Hanma malah menahan lengannya, sontak Kisaki menoleh kebelakang dengan raut wajah bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
colourful | hankisa
Fanfiction" just by interacting with you, by the time I realise it, this world becomes colorful, as if flowers are blooming. " ; love letter - yoasobi status : [ COMPLETED ] warn ; cliché written in INA language. © tokyo revengers and all characters belongs...
