5. Awal Dari Semua

1.4K 265 11
                                        


~~~•~~~

Aku duduk di bangku taman. Kini sendiri dan tetap sendiri. Menyaksikan turunnya daun kering yang sudah berwarna kuning.

Sorak gembira dilapangan basket masih terdengar ramai, membuktikan bahwa pertandingan yang Chenle gelar berhasil membuat siswa berkumpul menyemangati. Terlalu jauh kupandang hingga aku hanya bisa melihat Chenle berlari mengejar dan merebut bola dari Mark.

Bunyi dobrakan pintu ruang osis membuatku sedikit terkejut. Disana aja Jeffrey dan Doyoung yang tengah berbicara untuk trip besok Minggu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi raut wajah Doyoung menandakan bahwa dia juga ikut pusing membahasnya.

Renjun dan Jisung baru saja keluar dari ruang studio musik. Kulihat Jisung membawa selebaran trip dan Renjun terlihat menandatangani kertas itu. Aku melihat beberapa kali bahwa mereka saling melengkapi, seperti saat ini.

Oh ayolah. Aku sangat iri dengan persahabatan mereka. Jaemin, Jeno, dan Haechan baru saja masuk ke ruang osis. Mungkin mereka ingin mengumpulkan surat trip besok. Tapi Haechan keluar dahulu sambil melompat-lompat kegirangan. Aku yakin pasti dia senang karena perjalanan esok akan fulltim.

"Asikkkk jalan-jalan." kata Haechan menghampiri Jisung dan Renjun.

Disusul Jaemin dan Jeno dari belakang yang saling merangkul. Mereka tertawa bahagia yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku ingin bergabung, namun aku cukup menjadi sangsi rahasia saja.

Mereka ke lapangan. Duduk dipinggir sambil melihat Mark dan Chenle yang bermain seolah pertandingan hebat diadakan. Dua lekaki itu, aku yakin mereka akan menjadi pemain basket yang hebat jika tidak ada aturan yang menghalangi di SMA Marina.

"Le! Kalau lo menang gue traktir main di timezone!" teriak Haechan. Chenle yang merasa tertantang akhirnya mengacungkan jempol.

"Bener ya?!"

"Iya!"

"Janji gak lo?!" Chenle mengangkat jari kelingkingnya.

Haechan tertawa, "JANJI!"

Chenle semakin tertantang. Begitu juga Mark, dia sangat tahu jurus andalan Haechan ketika menyemangati Chenle. Alih-alih pergi ke timezone, palingan nantinya Chenle akan menjadi babu lagi karena Haechan mengajaknya ke tempat kerja part time.

"Three points Le!" sorak Jeno.

"Ayo Le! Demi timezone!" sahut Jisung.

"Lelelelele! Awas jadi babu lagi!"

Chenle bingung, saking semangatnya dia malah memasukkan bola ke ring timnya sendiri. Membuat gelak tawa dari siswa semakin heboh.

"LE SALAH MASUK LE!" Haechan menepuk jidat, "Yahhh hangus deh tiket traktirannya."

Chenle berdecak, "Salah lo teriak-teriak. Gue jadi gak fokus."

"Orang disemangati mah seneng ya, lah lo malah nyalahin gue. Wah-wah gak terima gue." Haechan pundung, dia membelakangi Chenle yang memanyunkan bibirnya.

"Gak papa Le, nanti lo tinggal minta sama Mark. Dia punya banyak koin." tengah Jaemin.

Mark melirik sinis, habis sudah koin yang dia simpan diam-diam untuk bermain ke timezone besok sewaktu libur.

Past TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang