29-Makan sate

353 64 20
                                        


"Membahagiakan orangtua tidak mahal kok, tidak harus dengan uang. Salah satunya menjadi anak yang baik, berprestasi, dan pengertian saja sudah bisa membuat mereka bahagia."

"Papa mau ajakin Abigail kemana sih sebenernya? Tumben banget sampai maksa gitu." Tanya Abigail penasaran.

"Ke showroom mobil." Jawab sang papa.

"Papa ngapain kesana? Mau beli mobil baru?" tanya Abigail malas.

"Iya, tapi bukan buat papa. Melainkan buat kamu." Jawab sang papa sambil tersenyum.

"Loh, kok buat aku?" Abigail malah kaget dan bingung.

"Iyalah, kan waktu itu kamu pernah merengek sama papa minta di belikan mobil baru." Jawab papanya.

Abigail mengernyitkan alisnya, dia sendiri malah sudah lupa kalau dulu pernah merengek minta di belikan mobil keluaran terbaru pada papanya. Memang dulu Abigail adalah jenis anak yang kalau minta sesuatu selalu seenak jidat tanpa memikirkan keadaan. Tapi itu dulu, kini Abigail sudah jauh lebih dewasa.

"Tidak perlu pah, mobil aku yang lama masih bagus kok. Bahkan aku sekarang udah jarang bawa mobil kesekolah, lebih enakan naik motor." Ujar Abigail membuat papanya menganga.

Perubahan Abigail benar-benar sangat luar biasa baginya, bahkan sampai Abigail berubah menjadi anak yang tidak terlalu suka dengan kemewahan. Berbeda sekali dengan dirinya yang dulu.

"Nak, Papa berniat menghadiahkan mobil keluaran terbaru untukmu loh."

"Dalam rangka apa Pah?" tanya Abigail heran.

"Dalam rangka kamu sekarang jadi anak yang baik." Jawab Papanya.

"Tidak usah Pah, aku berubah bukan berniat mendapatkan hadiah dari Papa kok. Yaudah, aku balik kekelas lagi yah." Pamit Abigail membuat papanya tercengang.

"Jadi kamu serius tidak mau?" sang papa masih tidak percaya, makanya dia memastikan sekali lagi.

"Iya Pah, aku gak mau." Jawab Abigail sambil melenggang pergi meninggalkan ruangan.

Papa Abigail sampai terdiam melihat sikap Abigail tadi, dia masih tidak percaya dengan perubahan anaknya yang kian hari kian meningkat. Papa Abigail pun langsung menelpon sang istri untuk menceritakan kejadian tadi.

***

Hari semakin berlalu, tanpa terasa sekarang sudah hari jumat. Sesuai janjinya pada Bagas, pada hari sabtu besok Kanaya harus menemani Bagas keacara ulangtahun pernikahan orangtuanya.

Pagi ini Kanaya berangkat diantar oleh bapaknya, karena ban motor Kanaya bocor dan tidak sempat bila harus menunggu di tambal. Karena akan memakan waktu dan Kanaya bisa terlambat sampai kesekolah. Kanaya senang karena bapaknya sudah sembuh, sedikit banyak kebohongan Kanaya membuat keadaan sang bapak menjadi lebih baik.

Seperti biasa dia mengajar dengan baik hari ini, akhirnya tanpa terasa tiba juga waktu untuk pulang. Sore ini bapaknya tidak bisa menjemput Kanaya karena ada banyak pekerjaan di toko. Biasanya tokonya tutup jam lima sore, sementara jam pulang Kanaya hari ini adalah jam setengah tiga.

Jadi Kanaya memutuskan pulang naik angkutan umum saja, dia bisa saja memesan ojek online. Tapi menurutnya lebih murah baik angkutan umum, walau dari gerbang kompleks rumahnya dia harus berjalan kaki sampai kerumah.

Saat tengah menunggu angkutan umum di depan gerbang sekolah, Abigail yang mengendarai sepeda motor besar berhenti didepan Kanaya.

"Bu, tumben hari ini gak bawa motor?" tanya Abigail yang mengetahui bahwa tadi pagi Kanaya diantar oleh seorang pria paruh baya yang dia yakini sebagai ayah dari wanita itu.

"Iya, ban motor saya bocor soalnya." Jawab Kanaya.

"Bareng saya aja bu, saya anterin sampai kerumah ibu." Abigail menawarkan sebuah tumpangan.

"Tidak usah Abigail, arah rumah kamu kan berlawanan dengan saya. Lagi pula saya tidak mau merepotkan." Tolak Kanaya merasa tidak enak pada muridnya, dia tidak mau muncul gossip yang tidak-tidak karena kepopuleran Abigail.

"Tidak repot kok bu, lagi pula saya memang mau pergi kearah sana." Bohong Abigail, dia tidak mau sampai melewatkan kesempatan pendekatan ini.

"Memang kamu mau kemana?" tanya Kanaya.

"Kerumah saudara yang ada di dekat kompleks rumah ibu." Jawab Abigail berbohong, padahal dia tidak memiliki saudara yang berada di sekitar sana.

"Ayo sih bu, bareng aja. Kan saya juga waktu itu beberapa kali nebeng sama ibu." Abigail masih membujuk gurunya.

"Hmm. Baiklah, terimakasih ya." Akhirnya Kanaya menyetujui tawaran dari Abigail untuk mengantarnya pulang.

Wajah Abigail berubah cerah, saat menjalankan motornya untuk mengantar Kanaya saja dia tidak bisa menghentikan senyum di wajahnya. Sengaja dia jalankan motornya sangat pelan layaknya kekasih yang sedang berboncengan. Padahal biasanya Abigail membawa motornya bak pembalap, dia dulu juga suka sekali balapan liar bersama teman-temannya. Namun untungnya sekarang sifat Abigail sudah berubah, dia sudah taubat.

"Bu, saya laper nih. Makan dulu yuk, saya yang tlaktir deh." Ajak Abigail.

Kanaya yang memang saat itu sedang kelaparan karena tadi siang tidak sempat makan karena sibuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang tepat waktu. Akhirnya Kanaya menyetujui untuk berhenti dan makan, tapi dia menolak di tlaktir oleh anak muridnya sendiri.

"Baiklah, tapi ibu tidak mau di tlaktir." Jawab Kanaya.

"Kenapa bu? Kan saya berniat baik, anggap saja sebagai rasa terimakasih karena sudah menjadi guru yang sangat baik pada saya." Bujuk Abigail modus.

"Itu kan memang sudah kewajiban saya, oh iya kita makan sate di tempat langganan saya yah?" Kanaya sudah lama tidak makan sate kesukaannya, kebetulan sekali sekalian dia mampir dan membelikan sate untuk orangtuanya.

"Boleh bu, saya mah dimana saja asal bersama dengan ibu tidak masalah." Jawab Abigail antusias.

"Abi, itu kedai satenya. Tepikan motormu disana ya." Pinta Kanaya sambil menunjuk sebuah warung sate di pinggir jalan yang bentukannya seperti warung-warung pecel lele kaki lima.

"Serius ibu mau makan disitu?" tanya Abigail yang sejak dulu tidak pernah makan di pinggir jalan.

"Iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan?" tanya Kanaya.

"Oh, tidak bu." Abigail menepis gengsinya, dia sudah cukup puas bisa makan bersama dengan wanita pujaannya itu. Dia tidak peduli walau harus makan di pinggir jalan sekalipun.

"Abigail, kamu mau pesan sate kambing atau ayam?" tanya Kanaya.

"Ayam saja." Jawab Abigail.

"Pake lontong?" tanya Kanaya.

"Iya, boleh."

"Sore Mang ujang, pesen sate ayam nya dua porsi yah untuk di makan disini. Terus lontongnya dua, sama dua porsi sate kambing untuk di bawa pulang." Ujar Kanaya menyapa tukang sate yang sejak dulu sudah akrab dengannya karena kebetulan bapaknya Kanaya dan Kanaya sejak dulu memang sudah menjadi pelanggan tetap disana.

"Eh ada neng Kanaya, udah pulang ngajarnya? Udah lama euy gak mampir ke warungnya mamang. Kumaha damang?" tanya mang ujang antusias.

"Alhamdulilah mang, mamang apa kabar?"

"Alhamdulilah sehat juga. Oh iya, neng kesini sama muridnya?" tanya mang Ujang.

"Iya mang, kebetulan motor saya tadi pagi bocor. Jadi tadi pagi diantar sama bapak, kebetulan bapak gak bisa jemput karena di toko lagi sibuk. Syukurlah ada murid Naya yang kebetulan mau pergi kearah yang sama, jadi nebeng deh." Jawab Kanaya menjelaskan.

"Oh begitu, ya sudah mangga neng calik heula." Mang Ujang mempersilahkan Kanaya dan Abigail untuk duduk. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang untuk menghilangkan kecanggungan dan memecah kesunyian karena kebetulan warung saat itu sedang sepi. Biasanya warung itu akan membludag pelanggan saat jam empat sore kebawah, apalagi kalau malam hari.

Kapan nikah?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang