"Tiap wanita memiliki sesuatu seperti detonator pemicu dalam dirinya, pemicu yang bisa meledakan hati batu seseorang, terutama lawan jenis...." Ludgy menggantung uraian kata-katanya sembari memberi isyarat dengan telunjuk pada bartender untuk menambahkan minumannya. "Kau tahu? Kau punya keberanian sebagai alat picu yang kumaksud," tutupnya teriring seutas senyum tipis pada wanita di sisinya.
"Tunggu," sela Friga, "apa itu sebuah rayuan?"
"Aku hanya terkesan dengan keberanianmu." Ludgy menatap sebentar paras menawan di sampingnya yang tersorot kerlip lampu diskotik itu, kemudian ia menelan seteguk absinthe bermerk King Of Spirit yang baru saja disodorkan bartender.
Sempat terdiam sejenak, Friga lalu berujar, "Sebenarnya bukan berani, aku mematahkan hidungnya hanya karena benci diduakan, dan tidak ingin terkesan dibodohi. Aku memang punya banyak kekurangan, tapi terbodohi seorang laki-laki berengsek bukanlah salah satunya."
"Di situlah letak daya pikatmu. Kau hanya terlalu meremehkan daya pikatmu yang sebenarnya luar biasa itu." Ludgy mengawankan gumpalan asap rokok dari mulutnya.
"Sebaiknya kau pulang dan tidurlah, sebelum rayuan yang ketiga dan seterusnya kau lontarkan dan membuatku tergelak hebat. Alkohol seperti mengajarimu untuk menjadi perayu ulung malam ini," papar Friga yang nampak tak terbuai sedikitpun.
"Dua botol absinthe tak cukup untuk membuatku mabuk. Kau saja yang masih terlalu naif untuk bisa membedakan mana omongan dengan tatapan serius, dan mana omongan dengan tatapan bualan." Ludgy menjeda omongannya beberapa detik, lalu kembali melanjutkannya dengan bertanya, "Harus berapa kali aku berkata 'bisa menjadi lebih baik dari pada dia' untukmu?"
Nafas Friga terhembus penuh ketidak-enakan hati. "Maaf, tapi menyatukan kau dan aku dalam sebuah hubungan bagiku sangat mengerikan."
"Aku tidak pernah merasa itu mengerikan jika kau tak pernah memberiku alasannya."
"Aku hanya ... aku ... a--a--aku...." Friga tergagap disiksa keraguan dalam berkata.
"Kau kenapa?"
"Untuk menjelaskannya, aku tak tahu harus memulainya dari mana."
"Selalu!" rutuk Ludgy, kemudian dengan gerakan tak santai pria itu meletakkan rokok ke dalam asbak, lalu menyabet jaket kulit-nya dan segera beranjak dari tempatnya duduk.
Kedua bola mata cokelat Friga mengikuti punggung laki-laki yang dibuatnya merasakan kecewa itu. Pria itu semakin menghilang dalam keremangan diskotik. Terkulailah pelupuk Friga. Ia mengulum bibir sendiri. Sorot matanya mendadak berubah jadi entitas rasa bersalah.
Sementara itu, tampak Caroline di ujung meja servis panjang tersebut yang sedari tadi mengamati percakapan Friga dan Ludgy, kini berpamitan pada pria gondrong yang duduk berdampingan dengannya.
Wanita ber-mini dress merah marun itu segera menghampiri Friga, lalu menepuk pelan pundak kanan temannya. Begitu Friga menoleh, Caroline lantas menyorotnya dengan tatapan prihatin.
"Kau tak perlu merasa bersalah. Yang kau lakukan tadi, itu memang yang terbaik bagi kalian berdua," cetus Caroline sembari memosisikan tubuhnya duduk di samping sang teman. "Menyatukan kau dan dia dalam lingkaran asmara, itu seperti menyatukan Scott Derrickson dan James Wan dalam sebuah proyek film. Kau tahu, 'kan, maksudku? Betapa mengerikannya film itu jika digarap bersama oleh sutradara yang ahli di film thriller dan sutradara spesialis film horor."
"Itu takkan se-mengerikan yang kau bayangkan, jika ibumu tak membeberkan rahasia yang sebenarnya padaku." Tatapan rasa bersalah Friga mendadak berubah muak.
"Tapi memang itu yang harus dilakukan ibuku, Friga, Ludgy itu kakakmu. Dan ibuku ... dia hanya tak ingin terus-terusan membohongimu. Kau tak--"
"Iya, memang seharusnya seperti itu," potong Friga cepat, "tapi dari awal, bukan baru sekarang, bukan saat kami sudah saling jatuh cinta."
"Aku bisa mengerti perasaanmu sekarang, Friga--"
"Tidak! Kau tak pernah tahu serumit apa menyembunyikan perasaan dari orang yang kau cintai dalam ketidak-harusan. Kau tak pernah berada dalam posisi mencintai seseorang yang pada akhirnya kau tahu bahwa dia kakakmu. Kau takkan pernah paham apa yang aku rasakan. Kau takkan bisa paham, Caroline Watson yang terhormat." Segera Friga berdiri dan berlalu meninggalkan temannya itu dengan diselimuti keresahan yang bergejolak.
------------------------------
Siksaan paling mengerikan yang dialami sang batin adalah; ketika cinta yang seharusnya terungkap, dengan terpaksa harus terkurung dalam mulut, terlebih menyakitkan karena cinta itu memilih seseorang yang tak seharusnya berada dalam lingkup asmara, seseorang yang semestinya dicintai sebagai saudara, bukan kekasih.
VOTE
⟱
KAMU SEDANG MEMBACA
Penggalan's Kisah Dalam Menit
AcakKumpulan berbagai kisah dalam bentuk one-shot. Mayoritas lebih mengarah ke kisah inspiratif. Singkat dan bermakna. Itu dua hal utama yang ditawarkan konten ini. Copyright © 2021 FLORIFICTION. All Rights Reserved
